Pangeran Kaca Jilid 2 (Anna’s Part)

Satu tahun telah berlalu. Ikhwan, Anna dan Kiki kini telah naik ke kelas XI. Beruntungnya mereka bertiga masuk ke jurusan yang sama, yaitu jurusan IPA. Meski mereka berada di kelas yang berbeda, tapi persahabatan tetap terjalin satu sama lain.  Mereka juga masih aktif dalam ke-organisasian. Meski statusnya masih anggota, tapi tetap saja mereka aktif.

Ikhwan yang masih tetap bertahan meski penyakitnya itu tidak bisa ditoleransi, tapi ia tetap berjuang dengan senyum yang selalu membuat orang lain tenang. Walau setiap akhir bulan ia harus bolak-balik ke Jakarta untuk memeriksakan kondisi kesehatannya, hal tersebut tidak menyurutkan prestasi dan persaingannya di sekolah (pembaca pasti masih ingat siapa saingan berat Ikhwan).

Anna yang dulu tomboy kini semakin muslimah dengan kepribadiannya. Ia semakin sabar dan tahu kapan harus membela dirinya (ini juga berkat Ikhwan yang selalu memberi nasihat-nasihat pada Anna). Di Rohis-pun menjadi idola dari para adik kelasnya karena selain cantik dan lembut ia juga lumayan ahli di bidang fiqih dan tauhid (meski di kelas ia masih ditakuti karena jejak sejarahnya yang menakutkan. Pembaca masih ingat bukan?). Anna juga sampai sekarang masih tetap menyimpan perasaan terhadap Ikhwan. Bahkan sahabatnya itu masih belum tahu tentang hal tersebut.

Kiki sekarang lebih pendiam sejak berbeda kelas dengan Ikhwan. Meski begitu dikelasnya yang sekarang kini ia lebih diperhatikan keberadaanya, karena soal pengetahuan ia tidak kalah dengan yang lain. Bahkan ia sempat dicalonkan sebagai ketua OSIS, tapi ia menolak dengan keras karena saat itu Kiki masih belum siap. Sekarang setiap hari ia selalu membawa laptop ke sekolah (meski belum tahu untuk apa dibawa setiap hari) sejak ia dibelikan laptop baru oleh orang tuanya lengkap dengan modem internet. Setiap acara Rohis Kiki juga sering menjadi pengisi acara didalamnya.

Sebuah cerita belum tentu selalu berjalan damai karena belum tentu dibalik indahnya akhir cerita masih ada bunga harum yang menyambut para pemainnya. Begitu juga dengan kehidupan para pelaku cerita ini. Dijalan skenario yang belum berakhir ini, masih ada klimaks yang akan bernafas kembali.

Berikut ini adalah kelanjutan dari cerita seorang pemuda yang terus berjuang melawan penyakitnya dan sang gadis yang mencoba terus menjadi muslimah serta mendapatkan hati pangeran yang rapuh fisiknya layaknya kaca yang bening. Inilah “Pangeran Kaca Jilid 2 : Anna’s Part”.

Suatu hari saat mereka pulang sekolah, muncul sebuah mobil yang berhenti di depan pintu gerbang sekolah mereka. Tak lama turunlah penumpang dari mobil itu dan langsung berlari ke arah 3 orang tersebut. Tak disangka ia langsung memeluk Ikhwan dengan rona wajah yang sangat bahagia. Seorang gadis berambut coklat dengan kemeja lengan pendek dan celana selutut. Tidak lupa dengan sepatu hak tinggi serta bando pink membuat Anna dan Kiki bertanya-tanya siapa gadis tak tahu malu ini.

“Wan, long time no see. How are you? Aku sudah mencari kamu kemana-mana tapi ternyata kamu sudah di Indonesia lagi”.

“Tunggu sebentar, kamu ini siapa?” sambil berusaha melepaskan pelukan gadis itu.

“What? It’s me, Jasmine. Kamu ini, baru saja 1 tahun kita tidak bertemu sudah lupa”, dengan girangnya ia terus memegangi tangan Ikhwan.

Gadis tersebut adalah Jasmine. Lengkapnya Jasmine Pujiana, putri dari seorang duta besar Indonesia di negara Amerika. Ia adalah teman semasa kecil Ikhwan yang paling ingin didekatnya. Selama bersekolah di negeri Sam sana baik Ikhwan maupun Jasmine sering membuat prestasi gemilang dalam hal pendidikan. Bahkan banyak anak-anak disana yang sering menganggap mereka adalah pasangan serasi bila dijodohkan karena sama-sama memiliki kepandaian. Jasmine yang sering mendengar hal tersebut merasa bangga hati bila benar ia dapat berjodoh Ikhwan. Lain halnya dengan Ikhwan yang sering menganggap berita tersebut sebagai angin lewat saja.

Setiap Ikhwan pindah sekolah, Jasmine selalu merengek pada ayahnya untuk bisa pindah dan masuk kesekolah yang sama dengan Ikhwan, meski harus pergi ke luar negeri. Maka dari itu saat Ikhwan pindah ke Indonesia ia sengaja untuk tidak memberitahu pada Jasmine agar ia tidak harus repot-repot pindah mengikuti Ikhwan.

“Oh, ya saya ingat kamu Jasmine. Kenapa kamu bisa tahu saya berada disini?”

“I know you are here, karena ibu kamu yang memberitahu padaku. Seharusnya kamu bertahu aku jika ingin pindah sekolah. Apalagi ke Indonesia, aku sudah lama tidak kesini loh Wan.”

Kemudian Ikhwan memperkenalkan teman lamanya pada kawan- kawan yang lain. Anna yang melihat hal tersebut merasa sedikit risih karena belum pernah ia melihat pemandangan seperti ini. Anna mencoba bersikap sabar dalam mengahadapi Jasmine.

“Hai, perkenalkan, my name is Jasmine. And you are…?

“Saya Anna, sahabat Ikhwan”, jawab Anna sambil memasang wajah jutek. Mereka berjabat tangan sambil berhadapan satu sama lain. Anna melihat tatapan mata Jasmine yang menunjukkan bahwa ia adalah anak yang akan memiliki hal lain dibalik senyum manisnya itu.

“Ikhwan sayang, sepertinya aku ingin pindah ke sekolah ini saja biar aku bisa belajar sama kamu lagi”, kata Jasmine sambil memasang muka manja. Mendengar kata-kata tadi, Anna yang awalnya malas untuk menanggapi hal itu langsung berubah menjadi kemarahan yang entah kenapa bisa seperti itu. Rasanya ingin memukulnya namun ia sendiri bingung kenapa ia bisa merasakan hal tersebut. Kiki langsung menenangkan Anna. “Na, sabar saja. Dah biarkan saja mereka dulu”, kata Kiki dengan suara pelan.

Lalu Ikhwan berkata, “Kamu yakin pindah ke sekolah ini? Kamu kan tidak tahan dengan udara panas, apalagi seperti disini”. Jasmine dengan entengnya menjawab, “Don’t worry honey, ini masih belum ada apa-apanya dibandingkan di Mesir waktu itu”. Mendengar hal itu akhirnya Jasmine menetapkan akan pindah ke sekolah yang sama dengan Ikhwan.

Keesokan harinya kelas Anna, tepatnya di XI IPA B kedatangan seorang anak baru dan ia ternyata adalah Jasmine. Sedikit merasa kesal karena ternyata teman barunya adalah gadis yang membuat hatinya kacau kemarin. Ia datang dengan gaya baratnya. Bahkan saat memperkenalkan dirinya, ia pikir masih berada di luar negeri, harus menggunakan bahasa Inggris. Beruntungnya kelas Anna tidak sebodoh yang orang kira tidak mengerti bahasa asing macam seperti itu.

“Baik Jasmine sekarang kamu boleh duduk ditempat yang kamu inginkan”, kata guru wali kelas mempersilahkan murid barunya itu. “Baik pak, tapi saya boleh duduk disebelah Anna. Soalnya saya tidak suka duduk dibelakang, lagipula jika saya duduk di depan tempatnya terlalu silau untuk mata saya. Bagaimana pak? Saya boleh ya duduk di sebelah anak berkerudung itu?”

Memang kebetulan tempat duduk di sebelah Anna kosong karena yang menempatinya sedang tidak masuk. Namun ada yang aneh, dari sekian perempuan berkerudung kenapa hanya Anna saja yang dipilih untuk bisa duduk berdampingan. Jika dilihat cara dia meminta pada pak guru seperti ingin dimanjakan, padahal murid-murid yang lainnya tidak pernah berlaku seperti itu.

“Hai Anna, akhirnya kita bisa duduk bersama”, sapa Jasmine sambil menunjukkan senyum yang sama seperti kemarin. Seharian Anna belajar bersama dengan Jasmine. Setiap ada guru yang bertanya pasti Jasmine yang langsung menjawab pertanyaan tersebut dan saat ada guru yang mempersilahkan untuk bertanya pelajaran yang lalu, sang putri barat Jasmine-lah yang langsung cerewet bertanya. Bahkan sang guru langsung memberi pujian pada ia karena satu-satunya murid yang paling banyak bertanya.

Saat istirahat tiba, seorang murid baru biasanya akan meminta teman sekelasnya untuk berkeliling menunjukkan lingkungan sekolah. Tidak untuk Jasmine. Ia langsung masuk kelas Ikhwan yang berada di XI IPA A dan dengan manjanya ia memintanya untuk menemani berjalan-jalan mengelilingi sekolah. Meski dengan wajah enggan Ikhwan menemani Jasmine berkeliling. Anna yang melihat mereka berdua merasa sedikit kesal. Bisa dikatakan ia terbakar api cemburu pada Jasmine yang bisa berjalan-jalan dengan Ikhwan. Padahal Anna yang selalu ingin bisa berjalan dengan Ikhwan saja masih harus berpikir dua kali dahulu apakah boleh atau tidak berjalan dengan sahabatnya itu. Sedangkan Jasmine dengan percaya diri langsung mengajak Ikhwan pergi, meski saat Jasmine akan mencoba menggandeng tangan Ikhwan, Ikhwan berusaha menolak.

Sepulang sekolah Ikhwan seperti biasa pulang dengan sahabat-sahabatnya. Namun Jasmine berlari menghampiri mereka. “Wan, do you want to go home with me? Supir pribadiku sudah menunggu diluar”, kata Jasmine sambil menunjuk mobil mercedes bens seperti milik Presiden sekarang. “Wah maaf saya sudah biasa jalan kaki jika pulang sekolah. Bagaimana jika kamu ikut kita pulang, toh rumah kita hampir berdekatan bukan?” jawab Ikhwan. Lalu Kiki pun berkata, “Ya Jasmine, lebih enak jalan kaki. Udara hari ini juga sedang tidak begitu panas kan. Daripada naik mobil nanti boros lagi bensinnya. Ingat, harga bensin sedang naik lho”.

“Ah, aku lebih baik tidur di mobil sambil makan es krim vanila daripada harus berjalan jauh melewati padang gersang seperti ini. Ok, see ya”, kata Jasmine dengan sombongnya menaiki mobil pribadinya itu. “Wan, kamu ini ndak risih apa disamping gadis londo kayak dia?”

“Menurutku biasa saja, toh sudah sering saya lihat pemandangan seperti itu. Jadi menurut saya ya wajarlah”, dengan santainya Ikhwan menjawab. Jika dilihat dari raut wajahnya, Ikhwan tidak terpengaruh dengan suasana tadi. Lain halnya dengan Anna yang sudah naik pitam bagai panci panas dengan uap panas penuh amarah. Selama diperjalanan Anna masih belum ikhlas dengan pemandangan tadi. “Aku tidak suka dengan gayanya itu lho yang terlalu kebarat-baratan itu. Lebih baik kamu Wan yang dikelas tadi daripada nenek sihir itu.”

“Sudahlah Anna, nanti kamu juga bakal akrab juga sama Jasmine. Toh sama saja kan dengan dulu saat kamu berteman dengan saya juga.”

Anna yang mendengar hal itu hanya bisa diam mendengar kata-kata dari orang yang sudah sering mengetuk hatinya selama ini. Sebelum ini Anna sering konsultasi, curhat dengan Ikhwan. Cara pikir yang Anna lihat adalah ketenangan seorang pria berusia 16 tahun dengan pandangan dewasa menatap kedepan tanpa harus pusing dengan sekitar.

Hari demi hari dilalui dengan berbagai macam kejadian yang tengah mereka lalui. Jasmine dengan wajah polosnya sering mencari perhatian dari Ikhwan, meski ia menanggapinya bagai angin yang berhembus selintas. Anna yang sering melihat itu, baik secara langsung maupun tidak langsung merasa tidak bisa menahan diri lagi. Pernah suatu kali Anna mencoba untuk memperingati Jasmine tentang kelakuannya itu terhadap pria yang ia sering lirik itu. Namun apa yang terjadi? Anna hanya dipermalukan di depan banyak orang, bahkan mereka hampir bertengkar karena masalah itu tapi berhasil diredam pembelaan dari Ikhwan.

Suatu hari sekolah mengadakan liburan akhir semester di luar kota, tepatnya di kota Malang. Saat itu awalnya Ikhwan tidak mendapat izin dari orangtuanya karena sakit yang ia derita selama ini. Pada saat itu Anna merasa kecewa karena orang yang ia sayang tidak dapat mengikuti kegiatan saat itu. Namun hanya dengan bujuk rayu Jasmine, Ikhwan langsung diberi izin tanpa syarat oleh orangtuanya. Melihat hal tersebut Anna memang senang namun setelah tahu itu berkat si ratu ular saingannya itu ada sedikit hal yang mengganjal di hatinya.

Malam sebelum hari keberangkatan, Anna sempat mengirim sms pada Ikhwan. “Wan, jgn lp km istirht yg cukup krn bsk kta akn prgi”. Entah apa yang dipikirkan Anna saat itu, namun yang jelas ia mengkhawatirkan keadaan pangeran pujaan hatinya saat itu. Melihat kesehatan Ikhwan yang masih rentan membuat Anna selalu terbayang akan keadaan saat di tempat liburan nanti. Terbesit ingatan saat Ikhwan memaksakan dirinya untuk mengikuti pelajaran olahraga yang sebenarnya sangat dilarang untuknya. Sesaat Anna termenung, tiba-tiba air mata menetes kala ia ingat lagi kejadian setelah itu. Anna yang tak ingin tenggelam dalam kesedihan langsung tidur sambil berdo’a pada Allah agar belahan hatinya itu selalu dilindungi oleh-Nya.

Keesokan harinya, murid-murid SMAN 1 Pamekasan mulai membentuk barisan tanda mereka tengah bersiap-siap untuk berangkat menuju kota apel itu. Kelas Anna dan Ikhwan kebetulan dalam satu bis. Anna cukup senang melihat Ikhwan bisa berangkat bersamanya. Namun yang masih membuatnya naik darah adalah ratu ular Jasmine yang semakin lama semakin menujukkan perasaan genit pada Ikhwan.

Sesaat sebelum berangkat, di dalam bis semua anak mulai merapikan barang-barang serta mencari tempat duduk yang nyaman bagi mereka. Jasmine yang sudah sejak tadi mengambil barisan depan dengan cara sedikit paksaan dengan pemilik kursi tersebut sedang menunggu Ikhwan masuk dan duduk bersama. Kebetulan saja Ikhwan masuk dari pintu bis bagian belakang. Tersisa satu tempat disamping Anna, ia langsung bergerak cepat.

Sambil berpura-pura kesulitan memasukkan tas, “Wan, saya minta tolong dong. Tas ini tidak bisa masuk nih”. Ikhwan yang melihat itu lagsung menghampiri Anna membantunya.

“Yak, sudah bisa masuk nih Na”.

“Terima kasih ya Wan sudah mau menolong saya. Sini duduk disebelah saya saja”, kata Anna.

“Owh, ya boleh. Kebetulan saya lihat sudah tidak ada tempat duduk kelihatannya”, kata Ikhwan yang saat itu memang kelihatan kelelahan. Jasmine yang melihat adegan tadi sangat kecewa dan marah karena Ikhwan duduk dengan Anna yang ia anggap tidak ada apa-apanya.

“Damn, aku disaingin oleh anak kampung?! Tak bisa dibiarkan”, sambil bergumam dalam hati ia menatap pasangan itu dengan penuh kebencian. Memang sejak kecil, Jasmine paling tidak suka bila hal yang diinginkannya harus gagal. Dengan rasa dendam Jasmine duduk sendiri sambil memasang wajah jutek. Selama perjalanan, meski Ikhwan harus menjaga jarak dengan Anna yang bukan muhrimnya tapi mereka terlihat akrab. Bahkan saat bus mereka masuk ke pelabuhan untuk menyebrang ke Pulau Jawa, Ikhwan dengan rela hati keluar dari bus untuk naik ke atas kapal dan membelikan Anna minuman.

“Kita lihat saja nanti. Jika sudah sampai, akan kubalas Anna”.

Sesampainya di Kota Malang, tepatnya didaerah Batu mereka langsung menuju ke hotel.  Para siswa melakukan pembagian kamar dan kebetulan Anna tidak satu kamar dengan Jasmine saat itu. Malam harinya diadakan makan malam di dinner room hotel. Terlihat Jasmine mulai mencuri-curi kesempatan mendekati Ikhwan. Dari aksi centil, sampai manjaan Jasmine. Untungnya Ikhwan malah terlihat risih saat itu dan Anna datang dengan membawa masalah untuk Jasmine. Contohnya saja Anna tidak sengaja menumpahkan gelas jus pada baju Jasmine, pura-pura tidak tahu menginjak sepatu high heels ukuran 5cm, dsb.

Emosi bukan kepalang. Jasmine benar-benar dibuat jengkel oleh Anna saat itu. Dan saat dikamar ketika teman-temannya sudah tidur. “Damn you Anna. Kamu pikir otak kampung bisa menghancurkan niatku mendapatkan Ikhwan? Tidak mungkin!!! Besok kamu tidak akan bisa tersenyum lagi didepan Ikhwan. Lihat saja nanti!” gumamnya sambil tertawa sendirian malam itu.

Keesokan harinya, para siswa mengadakan perjalanan kebun apel. Namun perjalanan kali ini para siswa berjalan kaki dari hotel menuju perkebunan. Kebetulan kelompok perempuan berjalan belakangan. Diam-diam Jasmine mendekati barisan Anna dari belakang. Dalam perjalanan, para siswa melewati sejuknya hutan, segarnya sungai dan asrinya perbukitan menambah serunya perjalanan mereka.

Ditengah perjalanan Jasmine melaksanakan rencana liciknya. Ia tiba-tiba mengeluh kakinya keseleo. “Aduh!!! Kakiku sakit sekali” jerit Jasmine dengan memegangi kaki kirinya. “Owh, help me please, kakiku sudah tidak kuat nih”. Anna tersentak kaget melihat ternyata Jasmine yang berteriak kesakitan itu berada di belakangnya. “Anna, please help me. Bantu aku berjalan dong.”

“Lho kenapa harus saya?” tanya Anna sambil bertanya-tanya mengapa hanya namanya saja yang dipanggil. Padahal saat itu masih banyak anak perempuan yang bisa dimintai tolong disekitarnya.

“Ya tolong aku ya Anna. Kamu kan lebih kuat jadi tolong aku untuk berjalan”, jawab Jasmine dengan muka memelas. Anna yang masih kebingungan dengan berat hati membantu Jasmine berjalan sedangkan teman-teman yang lainnya berjalan duluan. Anna berjalan dengan membantu jasmine berjalan. Sambil terseok-seok melewati medan jalan yang berat. Diantara mereka berdua tidak ada yang melangsungkan pembicaraan. Keadaan bisu meliputi suasana mereka berjalan saat itu.

“Na, tunggu sebentar. Tali sepatuku lepas nih” kata Jasmine yang saat itu meminta berhenti dipinggir jurang. Anna yang diam tanpa kata itu hanya bisa melihat Jasmine lalu tidak memperhatikannya lagi. Anna lebih memilih melihat pemandangan alam disana daripada memperhatikan ratu ular beracun si Jasmine. Jasmine yang melihat Anna lengah langsung melancarkan rencana licik berikutnya.

Diam-diam Jasmine yang berpura-pura membetulkan sepatunya langsung menarik kaki Anna hingga Anna tersentak jatuh ke dalam jurang. Sempat Anna berpegang pada sisi jurang. “Jasmine!? Apa yang kamu lakukan?” teriak Anna. Namun yang didapatinya hanya tatapan mata licik Jasmine. “Ini agar kamu mengerti bahwa Ikhwan itu milikku! Bukan milik orang kampung macam kau! Hahaha”, jawab Jasmine yang berlagak angkuh. Tangan Anna yang saat itu masih berpegang pada sisi jurang, diinjaklah oleh Jasmine. Sempat bertahan meski sangat sakit, namun Jasmine semakin keras menginjak tangan Anna hingga akhirnya ia terjatuh dan masuk ke dalam jurang.

“Haha, biar tahu rasa kau anak kampung!!!!!” teriak Jasmine.

Lalu ia datang ke tempat dimana teman-temannya berkumpul secara diam-diam. “Jas, dimana Anna? Bukankah ia tadi bersama denganmu?” tanya Ikhwan yang sedari tadi mencari Anna bersama Kiki. Dengan polosnya Jasmine menjawab, “Ah masa? Tadi katanya ia langsung duluan kesini. I don’t know where is she now honey”.

“Kamu yang serius Jasmine! Tadi saya lihat kamu bersama Anna saat kaki kamu sakit”, bentak Kiki. “Yeah, I’m serious boy. Mungkin dia sedang pergi entah kemana”, jawab Jasmine. Ikhwan mulai mencium hal aneh di diri Jasmine. Bahkan saat kembali ke hotel, Anna tidak ada di kamarnya.

Waktu makan malam tiba. Saat itu tengah acara bebas dimana murid-murid boleh melakukan aktivitas masing-masing. Ketika itu Ikhwan diam-diam kabur dari hotel untuk mencari Anna yang masih belum kembali. Ia merasa Anna sekarang ini masih ada di daerah hutan tempat rekreasi tadi. Dengan bermodalkan senter ia masuk ke hutan sendirian.

“Anna! Anna! Anna! Dimana kamu?” teriak Ikhwan ditengah kegelapan malam. Ia terus mencari Anna dengan menyusuri jalan secara saksama. Sesaat ia menyorotkan lampu senter ke pepohonan dan semak belukar. Tiba disebuah jurang ia temukan sebuah potongan kain berwarna putih kecil tergantung di bebatuan. Tak salah lagi itu adalah potongan kain dari jilbab Anna yang tadi ia pakai saat acara berlangsung. Perasaan Ikhwan yang mengatakan bahwa Anna saat itu telah jatuh ke jurang. Dengan nekatnya ia langsung menuruni jurang tersebut.

Tak lama setelah itu barulah ia melihat sesosok manusia terkapar dan orang itu adalah Anna. Saat itu ia sudah pingsan tergeletak diatas bebatuan. “Anna! Bangun! Ni saya Na! Bangun!” teriak Ikhwan.

“Hmm, Ikhwan. Kamu ya….” sesaat Anna sadar, namun ia langsung pingsan lagi. Tanpa pikir panjang Ikhwan langsung menggendong Anna sampai ke penginapan. Sesampainya disana, guru dan teman yang melihat Ikhwan langsing tidak percaya bahwa ternyata masih ada teman mereka yang tertinggal diluar sana dan Ikhwan yang terkenal paling anti dan selalu jaga jarak dengan perempuan ternyata bisa juga menggendong perempuan. Jasmine yang muncul dan melihat hal itu dibalik keramaian malah dibuat darah tinggi. Dendamnya terhadap Anna malah semakin jadi.

Keesokan harinya Jasmine datang dengan berpura-pura meminta maaf pada Anna. Saat itu Anna tengah bersama Ikhwan dan Kiki untuk bersiap-siap pulang. “Owh, hi Anna. I’m so sorry about yesterday my friend. Maafkan aku ya Anna”, kata Jasmine dengan muka memelas. Anna yang saat itu masih terluka dan lemah hanya diam menatap dengan tatapan kesal karena akibat kejadian kemarin kini kaki dan tangannya patah dan harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Untungnya ada sahabat-sahabatnya yang setia membantunya, siapa lagi jika bukan Ikhwan dan Kiki. “Jas, mungkin sekarang Anna masih kesakitan. Jadi mohon dimaklumi saja, tapi Anna sudah memaafkan kamu”, jawab Ikhwan yang mencoba menggantikan Anna berbicara. Tersentak mendengar Ikhwan menjawab itu yang pada kenyataannya Anna masih belum bisa memberi maaf pada orang yang berwajah dua seperti Jasmine. “Oh, really? Thank you Anna”, jawab Jasmine dan langsung meninggalkan Anna.

“Wan, kenapa kamu langsung berkata seperti tadi?” tanya Anna dengan nada marah. “Saya tahu kamu pasti akan marah maka saya langsung saja berkata seperti tadi agar tidak muncul perkara baru lagi”, jawab Ikhwan dengan tenang.mendengar pendapat Ikhwan seperti itu Anna tidak bisa melawan dan memang ada benarnya juga. Jika Anna marah saat itu malah membuktikan bahwa Jasmine telah berhasil menjatuhkannya lebih dalam lagi.

Beberapa hari setelah liburan tersebut, libur semesterpun tiba. Jasmine dengan percaya dirinya berkunjung ke rumah Ikhwan. Namun yang ia temui hanyalah pembantunya yang menjawab bahwa Ikhwan tengah pergi. Hal tersebut selalu terulang membuat Jasmine penasaran kemanakah Ikhwan selama ini pergi. Suatu hari ia datang ke rumah ikhwan pagi-pagi sekali. Dilihatnya rumah Ikhwan saat itu masih sepi. Beberapa jam setelah itu Ikhwan keluar dari rumah dengan berpakaian olahraga. Tak lama setelah itu Anna dan Kiki datang mengajak Ikhwan jogging bersama. Diikutinya mereka oleh Jasmine secara diam-diam. Setelah beberapa jam mereka berlari, tiga orang itu beristirahat sejenak dipinggir jalan. Kemudian Jasmine berpura-pura lari dari arah berlawanan dan berpapasan dengan mereka.

“Hi Ikhwan. Aku ikut olahraga juga yah?” tanya Jasmine dengan nada centil. “ Oh ya. Tapi maaf kami harus pergi lagi”, jawab Ikhwan sambil terburu-buru bersama temn-temannya. Jasmine mersa sangat kesal melihat dirinya yang sedari tadi mengejar mereka malah langsung ditinggal begitu saja.Jasmine yang merasa dirinya sudah kalah tidak bisa tinggal diam. Selama liburan ia terus berada di rumah menyusun rencana pembalasan terhadap Anna dan Ikhwan.

“Lihat saja nanti, setelah rencana ini berhasil Anna akan bertekuk lutut dihadapanku dan Ikhwan akan menjadi milikku. Hahaha”, gumam Jasmine

Libur sekolahpun usai. Para murid-murid kembali masuk seperti biasa. Namun ada yang berbeda, Ikhwan kini lebih dingin saat bertemu dengan Jasmine. Sebenarnya ia sudah tahu kejadian yang telah menimpa Anna saat itu membuat Ikhwan menjadi sadar akan kebenaran tentang Jasmine tapi ia simpan rahasia itu dalam-dalam. Jasmine-pun sudah tahu jika keadaan seperti ini pasti akan terjadi sehingga ia sudah membuat rencana yang dibuatnya untuk pembalasan terhadap Ikhwan dan Anna.

Suatu hari Anna pulang sendirian karena Ikhwan dan Kiki harus menjalani tugas sekolah. Seperti biasa ia mengayuh sepedanya melewati jalan yang panas. Namun tiba-tiba ia dihalang sekelompok preman ditengah jalan. Anna pikir mereka hanya preman biasa yang tujuannya ingin merampok. Salah satu dari mereka mulai menagih uang pada Anna secara paksa namun Anna menolaknya dengan tegas. Saat preman tersebut mulai memegang tangan Anna, ia langsung memukul preman tersebut hingga terpental dan berkata, “Kalian jangan berani-beraninya sentuh saya yah!”

Anna-pun langsung turun dari sepeda dan membuka rok sekolahnya yang seperti biasa ia sudah siap dengan mengenakan celana panjang hitam silat. Perkelahianpun terjadi antara Anna dan para preman tersebut. Meski keadaan tubuhnya masih belum begitu pulih, terlihat Anna lebih unggul dibanding para pria bertubuh besar yang saat itu hanya berusaha menangkap dan memukul Anna secara asal-asalan. Namun dari belakang dibenturkannyalah sebuah potongan balok kearah tengkuk leher Anna hingga ia terjatuh. Kini penglihatannya mulai berkunang-kunang melihat sekelilingnya. Kedua tangannya dipegang oleh para preman hingga ia tak bisa berbuat apa-apa. Ketika ia dibangunkan dan dibalikkan badannya,  muncul orang yang tak diduga. Jasmine!!!

“Jas, untuk apa kamu…..” belum selesai bertanya, Jasmine dengan wajah jahatnya langsung meninju perut Anna dengan keras hingga ia pingsan. Namun ada hal aneh. Sesaat sebelum Anna pingsan ia melihat bentuk pukulan Jasmine yang bukan seperti pukulan seorang perempuan biasa. Ia langsung tak sadarkan diri.

Di sisi lain saat Ikhwan dan Kiki pulang, mereka mencoba menghubungi Anna baik sms maupun telepon namun tak ada kabar yang didapat. Mereka pikir Anna sudah sampai di rumah. Tak diduga saat di tengah jalan mereka melihat sebuah rok panjang tergeletak di pinggir jalan. Awalnya mereka tak mempedulikannya, tapi Ikhwan yang tertarik mencoba memeriksa rok tersebut. “ Wan, kamu tu sedang apa sih? Masa rok seperti itu mau kamu bawa pulang?”

Bukan jawaban yang diharapkan, Ikhwan langsung berteriak, “ Ki, Anna sedang dalam bahaya!”

“Maksud kamu apa Wan?” tanya Kiki. “ Lihat! Di rok ini ada label bertuliskan “Anna”, berarti dia sedang dalam bahaya. Mana mungkin perempuan seperti dia mau menanggalkan roknya di pinggir jalan”, jawab Ikhwan. Kiki yang akhirnya sependapat dengan, langsung membuka laptopnya. Ia langsung mencari keberadaan Anna dengan sistem GPRS. Untungnya saat liburan ini handphone Ikhwan dan Anna dipasangi sebuah sistem pelacak sehingga mereka dapat dilacak dimanapun mereka berada. Setelah dilacak akhirnya keberadaan Anna ditemukan. Ia berada di sebuah pemukiman di pinggir kota. Mereka berdua langsung pergi kesana dengan menggunakan sepeda.

Setelah sampai disana, yang mereka temukan adalah rumah-rumah gubuk yang sudah tak berpenghuni lagi. Kiki mencoba kembali melacak keberadaan Anna dengan laptopnya itu. “Anna!!!!! Kamu dimana???” teriak Kiki yang mulai tidak sabaran dengan keadaan tersebut. Namun setelah itu kejadian buruk terjadi. Mendengar teriakan Kiki, muncul orang-orang bertubuh besar layaknya para algojo. Tanpa pikir panjang, Ikhwan langsung melindungi Kiki.

“Ki, lari sekarang dan cari tempat yang aman selagi saya melawan mereka! Selama itu cari keberadaan Anna!” perintah Ikhwan dengan tegas. Saat Kiki hendak dipukul oleh salah seorang algojo itu, Ikhwan dengan sigap lagsung membalikkan pukulan tersebut. Teman berkacamatanya itu langsung pergi. Ikhwan dengan teknik silat-nya langsung melawan mereka. Sempat dadanya terbentur tendangan dari penjahat tersebut, namun tak menghalanginya untuk terus mengalahkan mereka. Akhirnya Ikhwan berhasil mengalahkan mereka. Dengan dada yang terasa sesak menandakan batas ketahanan jantungnya tak Ikhwan pedulikan untuk terus mencari Anna.

Ikhwan lalu bertemu Kiki di depan sebuah gubuk yang paling besar. “Wan, disini saya temukan sinyal kuat dari handphone Anna”, kata Kiki dengan penuh keyakinan. Saat mereka berdua masuk kedalam, telah berdiri seorang perempuan dengan rambut panjang terikat, mengenakan baju “you can see” berwarna hitam dan celana panjang hitam ketat serta sepatu hak tinggi. Setelah berbalik badan,  ia adalah Jasmine!!!

“Jas, jadi kamu dibalik semua ini?” teriak Ikhwan. “Haha, kamu datang ya honey”, jawab jasmine dengan wajah bagai ratu penyihir jahat. “Dimana Anna?” tanya Kiki. “Perempuan jalang itu sudah aku bereskan hanya untukmu Ikhwan”, jawab Jasmine. “Kiki, kamu langsung cari dan temukan Anna sekarang. Dia pasti masih disini”, perintah Ikhwan pada Kiki. Jasmine yang tak bisa tinggal diam mendengar itu langsung menyerang Kiki dengan pukulan cepat namun Ikhwan langsung menahan serangan itu. “Ki, Cepat!!!” teriak Ikhwan. Kiki lagsung pergi mencari Anna.

“Anna!!! Dimana kamu?” teriak Kiki namun tak ada respon sama sekali. Setelah dicari kemana-mana, terlihat sesosok gadis dengan tubuh babak belur terikat disebuah tiang kayu. Kiki yang semakin penasaran mendekati perempuan tersebut. Tak disangka ia adalah Anna. Saat itu Anna tengah pingsan. Terlihat dari luka di kening dan bibirnya yang berdarah menandakan Anna telah disiksa oleh Jasmine. “Na, sadar! Ni saya Kiki. Bangun Anna!!!” teriak Kiki sambil melepaskan ikatan tali yang membelit Anna. “Ki, ni kamu yah. Terima kasih ya”, jawab Anna dengan suara lemah. “Kamu bisa berjalan?” tanya Kiki. Sepertinya begitu. Dimana Ikhwan?” “Jika kamu bisa berjalan, ayo kita bantu Ikhwan. Ia tengah bertarung dengan Jasmine”, jawab Kiki. Dengan langkah terseok-seok Anna berusaha untuk berjalan menyusul Ikhwan.

Disisi lain, Ikhwan masih bertahan melawan Jasmine. Bila dilihat, tehnik bertarung yang cepat dan fatal itu adalah jurus Kungfu. Meski ikhwan dapat bertarung, sesekali dada kirinya terkena pukulan telak yang bahkan sering membuat Ikhwan terpental. “Jas, kenapa kamu berbuat sampai sejauh ini?” tanya Ikhwan dengan nafas tersengal-sengal. “Wan, aku hanya ingin mendapatkan cintamu saja, tak lebih. Sejak kecil aku sudah mengagumimu. Bahkan aku telah berniat untuk menjadikanmu kekasihku. Namun apa tanggapanmu selama ini? Hanya wajah dingin saja!!!” jawab Jasmine dengan suara tegas. “Lalu mengapa Anna juga harus jadi korban?” “Itu karena tak ada yang boleh mendekati kamu Wan meski itu adalah your soulmate !!!”

Dari kejauhan terdengar teriakkan Kiki. “Wan Anna selamat!!!” jawab Kiki dengan Anna yang sudah berdiri disamping Kiki. Jasmine yang termakan emosi langsung berpaling dan berlari menerjang Anna melancarkan sebuah tendangan. Beruntung ia kalah cepat dengan Ikhwan yang lagsung berdiri didepan Anna dan menangkap kaki Jasmine. Melemparkan kaki Jasmine ke arah lain hingga menghilangkan keseimbangannya dan menangkap tangannya serta menguncinya hingga tak bisa bergerak sama sekali sampai Jasmine menahan kesakitan akibat kuncian itu dan langsung berlutut.

“Jas, menyerah kamu sekarang!” kata Ikhwan. Jasmine tak bisa berkata apa-apa karena menahan sakit di tangannya. Karena rasa iba Ikhwan melepaskan tangan Jasmine. Karena tak kuat menahan sakit, Jasmine langsung terjatuh. “Anna, kamu tidak apa-apa kan?” tanya Ikhwan. “Ya aku tidak apa-apa. Hanya saja kakiku yang pernah terluka mulai sakit lagi”, jawab Anna. Ikhwan langsung membantu Anna berjalan bersama Kiki. Namun dari belakang mereka Jasmine langsung berdiri kembali dan langsung menyerang Ikhwan dari belakang. Tak disangka Anna dengan secepat kilat lagsung berbalik dan memukul titik lemah perut Jasmine. “Ini untuk membalas pukulanmu saat itu, nenek sihir”, kata Anna. Jasmine langsung pingsan didepan mereka. Melihat itu, Ikhwan langsung tersenyum tenang sambil memegangi dadanya. Ia pun juga ikut pingsan karena gangguan pada jantungnya sudah semakin parah. Akhirnya Kiki memanggil ambulans dan Ikhwan serta Jasmine dibawa ke rumah sakit sedangkan Anna dipaksa Kiki untuk juga ikut untuk pemeriksaan intensif lebih lanjut.

Beberapa hari setelah kejadian itu, Ikhwan akhirnya sadar dan mendapati dirinya sudah berada di kamar rumah sakit. Di sampingnya sudah menunggu mama-nya yang langsung memeluknya dengan erat. “Ma, kenapa Ikhwan berada disini?” tanya Ikhwan dengan suara lemah. “kamu sudah hampir tiga hari pingsan. Beruntung ada Kiki dan Anna yang membantu kamu Wan”, jawab mama-nya. “Lalu bagaimana dengan Jasmine?” tanya Ikhwan lagi sambil membangunkan dirinya menjadi posisi duduk. “Mama sudah bertemu dengan orangtua Jasmine. Ia baik-baik saja namun Jasmine tidak ingin dirinya dijenguk. Mama saja harus mengobrol dengan orangtuanya diluar kamar perawatan Jasmine”. Memang sejak kejadian itu, Jasmine menjadi lebih pendiam. Bahkan untuk makan saja ia harus dipaksakan dulu.

Beberapa saat kemudian Kiki dan Anna datang. Anna datang dengan menggunakan kursi roda dibantu Kiki yang membantu mendorongnya dari belakang. Mama Ikhwan langsung pamit pergi meninggalkan mereka sendiri. Seperti biasa canda dan tawa menghiasi pertemuan tiga sahabat ini. Kemudian Kiki berkata, “Wan, Anna ingin berbicara denganmu secara pribadi. Jadi saya tinggalkan kalian dulu ya”. Setelah Kiki pergi, wajah Anna langsung berubah serius. “Wan, setelah semua kejadian ini apa kamu akan berubah? Setelah kamu tahu bahwa Jasmine ternyata ia ingin kamu menjadi kekasihnya?” tanya Anna. “Anna, saya tidak peduli siapaun orangnya, tapi untuk saat ini saya hanya bisa menganggap semua orang adalh teman dan orang yang sangat dekat dengan saya hanyalah orangtua dan sahabat saya saja. Hanya itu. Jadi kamu tenang saja, saya akan tetap baik-baik saja dengan dia”, jawab Ikhwan dengan senyum tenangnya itu. Bersyukur hati Anna saat itu, namun yang membuat ia terguncang adalah bahwa Ikhwan sampai saat ini masih belum bisa melihat isi hati Anna yang juga menyimpan perasaan yang sama dengan Jasmine. Dengan menahan rasa sedih ia larutkan dalam senyum ikhlas setelah mendengar jawaban Ikhwan.

Dirumah Anna, ia melaksanakan Shalat Maghrib. Saat itu entah mengapa air mata mulai mengalir di pipinya. Ia merasa sedih karena sampai saat ini orang yang ia cintai masih belum mencintainya. Ia adukan semuanya pada Allah SWT apa yang ia rasakan kali ini. Gundah, resah, sedih membuatnya terus memikirkan kapan Ikhwan dapat mencintainya dengan ikhlas dan tulus hati. Dengan berat hati dan ikhlas ia coba terima keadaan itu dan mencoba kembali menjalani kehidupan didepan dengan tabah dan sabar.

Beberapa minggu setelah itu Ikhwan masuk kembali ke sekolah seperti biasa. Ia mendengar kabar bahwa Jasmine telah berpindah sekolah saat Ikhwan masih berada di rumah sakit. Lalu Anna datang mengahampiri Ikhwan yang seperti biasa sering menyendiri di depan kelas. Ia memberikan sepucuk surat kepada Ikhwan. Itu surat dari Jasmine saat ia pamit pindah dari sekolah. Sebelum itu Jasmine sempat memberikan surat tersebut pada Anna, meski dengan wajah yang dingin. Surat tersebut berisi……

Hi Ikhwan, maaf aku tak bisa berlama-lama di kota ini. Aku tahu kamu pasti sudah muak setelah kejadian itu. Tapi kamu ingat saja bahwa aku akan tetap berusaha mendapatkan cintamu bagaimanapun caranya. Aku tak peduli setelah ini aku harus bertarung atau menggunakan cara apa lagi, yang terpenting aku bisa menjadi satu-satunya wanita yang akan kamu cintai kelak. Sekian saja suratku ini. Good bye Ikhwan

Jasmine Pujiana

    Setelah membaca surat itu, ekspresi Ikhwan tak kunjung berubah. Ia langsung berbalik menatap wajah Anna sambil memegang kedua lengan tangan Anna yang tertutup baju lengan panjang dan berkata, “Anna, kamu tenang saja. Bagiku kalianlah yang terbaik dan pantas disisiku. Kiki dan kamu, Anna akan selalu menjadi yang berkenan dalam hati ini. Senyum lebar Ikhwan dan tangannya yang memegangi lengan Anna membuat hati Anna menjadi bahagia dan tetap bersabar serta berniat untuk terus mendapatkan hati Ikhwan, “Sang Pangeran Kaca”.

T A M A T

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s