Pangeran Kaca

Di sebuah sekolah bernama SMAN 1 Pamekasan telah kedatangan murid baru bernama Ikhwan Hakim. Ia adalah anak dari seorang pejabat kaya. Lalu ia masuk ke kelas X-A. Setelah memperkenalkan diri  ia duduk disamping Kiki yang seorang anak berkacamata.

                Selama pelajaran berlangung Ikhwan sudah menunjukkan kepintarannya. Setiap pertanyaan yang diajukan guru langsung ia jawab dengan mudahnya. Satu kelas langsung berdecak kagum melihat kepintarannya kecuali satu orang yaitu Anna, gadis berkerudung yang sudah dijuluki murid terpintar dikelas ini sebelumnya merasa aneh. Sebab saat ditanya guru apakah disekolahnya pelajaran ini sudah dipelajari, Ikhwan menjawab belum. Tapi kelihatannya bagai pelajaran yang sudah nempel mutlak di otaknya, sempurna sekali kelihatannya.

                Waktu istirahat pun tiba, Ikhwan dipanggil ke ruang kesiswaan. Lalu Ikhwan meminta Kiki untuk mengantarnya sekalian berkeliling melihat-lihat sekolah. Setelah sampai, Ikhwan diminta memilih ekskul, dan yang ia pilih adalah ekskul Rohis. Dan hari itupun berlalu.

                Pada hari Sabtu, merupakan hari dimana ekskul Rohis diadakan. Seperti biasa diadakan perkenalan untuk anggota baru. Pada hari itu pula diadakan tes membaca Al-qur’an. Banyak dari teman-teman yang merasa gugup, tidak peduli. Tapi Ikhwan biasa saja menanggapi hal itu. Ketika tiba saatnya Ikhwan membaca,terdengarlah suara merdu nan indah bagai seorang santri yang baru lulus dari pesantren. Mendengar hal itu Anna lebih curiga lagi, bahkan tersirat dalam dirinya untuk iri dengan Ikhwan.

                Hari Senin pun tiba. Saat Ikhwan akan masuk kelas, ia dihadang Anna dan ia berkata,” Heh Wan kamu kok dari kemarin seperti Einstein saja.”

                “Memang kenapa? Jika ada pertanyaan yang bisa saya jawab, ya saya jawab”, jawab Ikhwan dengan santai. Memang pada hari-hari sebelumnya Ikhwan sudah menjadi buah bibir dari setiap guru maupun murid-murid. Setiap ia dipuji pasti akan berterima kasih.

                “Kok santai begitu? Oke, aku tantang kamu! Siapa yang bisa mendapat peringkat yang lebih tinggi di kelas saat ulangan semester nanti, maka ia harus berlutut dihadapannya dan tidak boleh lagi sok pintar lagi di kelas. Bagaimana mau tidak?”

                “Wah kamu orang ke 10 yang kasih saya tantangan seperti ini. Apa boleh buat, saya terima tantangan kamu. Jika kamu yang kalah aku harap kamu jangan seperti ini lagi.” Ikhwan sejak SD selalu ada yang memberi tantangan serupa, bahkan sampai sekarang.

                Sejak hari itu persaingan antara Ikhwan dan Anna  dimulai. Setiap ada tugas, PR atau  ulangan mereka terus membandingkan nilai yang didapat. Menang, kalah maupun seimbang sekalipun sering  terjadi. Meski begitu Anna tidak mau kalah dari Ikhwan. Bahkan tak jarang keduanya mengundang perhatian dari setiap guru, bahkan sampai ada yang keheranan melihat nilai mereka yang terus saling kejar mengejar. Tapi hanya satu pelajaran yang tidak bisa Ikhwan lakukan, yaitu olahraga. Saat pengambilan nilai saja ia bisa menujukkan kebolehannya, tapi selain itu? Ikhwan hanya bisa duduk di pinggir lapangan menunggu dirinya dicatat dalam absen. Rasa penasaran perempuan ini terus membebani pikirannya.

                Suatu hari saat pulang sekolah pada hari itu Ikhwan belum dijemput supir pribadinya. Biasanya Ikhwan pulang dengan mobil pribadinya. Kiki sahabatnya sudah pulang lebih dulu.

                Tak kunjung datang, akhirnya Ikhwan memutuskan untuk naik becak saja. Saat di luar sekolah ia melihat Kiki terlihat berjalan bersama dengan beberapa orang. Ikhwan yang merasa heran membuntuti mereka. Sampai di jalan tempat yang sepi, Kiki dipaksa untuk mengeluarkan uang dan barang berharga lainnya. Sebenarnya Kiki sudah menolaknya tapi karena terus dipaksa dan diancam akan dipukuli, akhirnya Kiki mau memberikannya. Ikhwan yang merasa kesal langsung berlari memukul salah satu preman tersebut.

                “Heh kamu siapa? Kamu teman si kaca mata ini?” kata salah seorang yang berbadan besar.

                “Dah, kita hajar saja pahlawan satu ini,” kata yang lainya sambil menyiapkan tangannya.

                Tanpa pikir panjang Ikhwan langsung menghajar mereka dengan jurus bela dirinya.  Di tengah pertarungan Ikhwan sempat terkena pukulan pada dada bagian kirinya. Akhirnya Ikhwan berhasil mengalahkan mereka.

                “Terima kasih ya Wan. Jika tidak ada kamu, mungkin entah bagaimana saya jadinya. Kamu tadi he…”, belum selesai berbicara, tiba-tiba Ikhwan jatuh sambil memegang dadanya. “Lho kenapa kamu Wan? Kamu terluka ya? Apa perlu saya bawa kamu ke rumah sakit?” tanya Kiki cemas karena saat berkelahi Ikhwan hanya menerima 1 pukulan saja.

                “Sudah, saya hanya perlu istirahat sebentar. Ki, ada yang ingin saya ceritakan tapi berjanjilah untuk tidak menceritakannya ke siapa-siapa”, sambil berusaha berdiri menahan rasa sakitnya.

                “Ya saya janji. Sebelum bercerita, kita duduk dulu”, Kiki mengajak sahabatnya duduk di kursi pinggir jalan.

                “Sebenarnya saya menderita penyakit jantung. Sejak kecil jantung saya lemah sehingga dokter menyarankan untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memacu jantung seperti olahraga. Maka dari itulah setiap pelajaran olahraga saya hanya bisa duduk di pinggir lapangan. Berkali-kali sudah saya menjalani operasi, bahkan sampai ke luar negeri”, kata Ikhwan sambil memejamkan matanya menahan rasa sedihnya. “Saya selalu dibeda-bedakan dengan anak lain. Saya iri  dengan yang lain yang bisa bermain dan melakukan apapun yang mereka mau, sedangkan saya hanya belajar, les, dan  mengaji, kalaupun ingin bermain orang tuaku langsung membelikannya atau mengajakku ke game center. Saya merasa seperti di penjara saja. Maka dari itu pada usia 13 tahun saya diam-diam belajar silat, karena ada salah satu teman yang mengatakan bahwa disana saya juga akan mendapat terapi untuk menyembuhkan penyakit ini, sampai sekarang saya masih melakukannya.

                “Tapi apakah guru olahraga sudah mengetahui penyakitmu ini?” tanya Kiki.

                “Sudah, bahkan saat pendaftaran kami sudah melakukan pembicaraan mengenai hal ini dan akhirnya mendapat persetujuan dari pihak sekolah dengan syarat untuk nilai praktek saya harus ikut. Hari sudah mulai sore, kita lanjutkan sambil pulang saja”, sambil masih menahan sakitnya Ikhwan mengajak Kiki pulang.

                Tak disangka dikejauhan ada yang mendengar pembicaraan mereka, dan ia  adalah Anna. Anna yang mendengar hal itu, langsung terdiam tak percaya bahwa saingannya itu mengidap penyakit keras. Ia merasa tak pantas berkelahi dengannya terus menerus, tapi ia sudah terlanjur menyatakan bersaing dengan Ikhwan. Anna juga keheranan melihat Ikhwan yang ternyata jago bela diri juga. Anna pun langsung beranjak pulang sambil memikirkan hal yang baru saja terjadi.

                Beberapa bulan telah berlalu. Ujian semesterpun telah tiba. Saat pembagian ruang ujian, Ikhwan kebetulan satu ruangan dengan Anna. “Ikhwan, sudah siap belum dengan ujian hari ini?” Tanya Anna dengan sedikit nada menantang. “Ya, saya sudah siap. Kamu harus ingat janji kamu juga lho,” jawab Ikhwan dengan santainya.

                “Tentu saja saya masih ingat,” jawab Anna dengan suara keras.

                Bel masukpun berbunyi, dan ujian telah dimulai. Saat ujian Anna sering melirik Ikhwan untuk melihat kelakuannya saat ujian. Tapi terlihat bahwa Ikhwan adalah anak yang selalu tenang bahkan dalam ujian sekalipun. Hal ini terus hingga ujian berakhir.

                Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, hari pembagian rapor. “Heh Wan, nanti jika lihat hasil rapor saya, jangan terkejut ya”, kata Anna. Ikhwan hanya senyum mendengar ucapan Anna. Saat mereka melihat hasil rapor masing-masing ternyata Anna menempati peringkat satu, sedangkan Ikhwan berada di peringkat dua. Anna senang bukan kepalang lagi. Betapa bahagianya melihat hasil jerih payahnya sekarang terbayar juga.

                Ditengah kebahagiaan Anna, Ikhwan langsung berlutut dihadapan Anna. “Anna saya mengaku kalah dari kamu, saya merasa kamulah orang yang pertama kali mengalahkan saya,. Kamu mau lagi kan bersaing dengan saya?” Tanya Ikhwan saat itu.

                “Em…,em… ya boleh. Saya bersedia. Tapi saya mau yang lebih serius lagi ”, jawab Anna. “Oke semester depan saya tidak akan kalah darimu”, kata Ikhwan yang kemudian pergi meninggalkannya. Dalam hati Anna baru kali ini ada pesaingnya yang langsung mengakui kekalahannya. Biasanya orang yang ia tantang jika sudah kalah pasti akan kabur atau tidak mau mengakuinya. Kelihatannya Ikhwan adalah orang yang menarik. Terbesit dalam hatinya untuk dekat dengan Ikhwan.

                “Kamu tidak apa-apa ni bersaing lagi dengan Anna? Padahal kamu sudah kalah tapi kok kamu mau lagi?” Tanya Kiki.

                “Ya, saya merasa tidak apa-apa, karena ada hal yang membuat saya penasaran dengan Anna. Diantara banyak pesaing, hanya dia saja yang membuat saya semangat dalam belajar. Bersaing dalam hal pendidikan itu bagus lho”, jawab Ikhwan dengan senyum puas meski ia telah kalah dari Anna.

                 Setelah libur semester, persaingan antara Ikhwan dan Anna dimulai kembali. Mereka sangat antusias sekali dalam persaingan kali ini. Tak jarang juga mereka saling bertengkar hanya karena masalah nilai. Sampai-sampai Anna diejek oleh teman-temannya sedang punya hati dengan Ikhwan karena kedekatan mereka selama ini, tapi sering dibantah keras olehnya.

                 Suatu hari Anna melihat Ikhwan sudah tidak lagi dijemput lagi oleh supir pribadinya. Sekarang Ikhwan hanya saat berangkat saja dengan mobil, sedangkan pulang kadang ia jalan kaki, dengan becak, atau dengan  angkutan kota.

                “Hei Ikhwan tunggu sebentar!” sambil berlari mengejar Ikhwan.

                “Ada apa? Hari ini tidak ada kegiatan kan? Kenapa kamu belum pulang?” Tanya Ikhwan.

                Sambil mengambil nafas Anna berkata,” Saya dari tadi menunggu kamu. Ada yang ingin saya bicarakan denganmu tapi tidak bisa disini. Ayo ikuti saya sekarang!”

                “Tunggu dulu, memangnya ada apa? Apa perlu kita tunggu Kiki? Sebentar lagi dia pasti datang setelah mengumpulkan tugas”, Kata Ikhwan.

                “Sebentar saja”, kata Anna sambil berjalan. Tak lama kemudian Ikhwan mendapat SMS dari Kiki agar Ikhwan pulang sendiri karena ia masih ada urusan lain. Akhirnya Ikhwan mengikuti Anna.

                Setelah sekian lama berjalan akhirnya Anna berhenti di sebuah padang rumput yang sepi dan panas. Ikhwan yang bertanya-tanya dalam hatinya mengapa ia dibawa ke tempat ini. Ia melihat ke sekelilingnya, tampak seperti sebuah taman gersang yang sudah tidak didatangi orang-orang lagi.

                Memang saat ini di Madura sedang terjadi musim paceklik berkepanjangan. Sudah lama air tidak kunjung turun dari langit. Maka dari itulah mengapa keluarga Ikhwan datang ke sini untuk menanggulangi krisis kekeringan ini, khususnya untuk pertanian karena ayah Ikhwan menjabat di instalasi pemerintahan bagian pangan dan obat-obatan.

                 “Ikhwan! Dengar-dengar kamu bisa beladiri ya?” Tanya Anna.

                 “Lho, kamu tahu darimana?” sambil Ikhwan keheranan.

                 “Lihat dan perhatikan ini!” perlahan-lahan Anna mulai membuka kancing bajunya satu persatu. Sambil membuka dasinya dan membuka gelang yang sering yang ia pakai. Ikat pinggang yang membelit rok panjangnya dilempar seketika, meski ia tidak melepas jilbabnya.

                   “Kamu mau apa? Kamu jangan melakukan hal yang aneh di sini!” sambil berlari mencegah Anna.

                   “Sudah kamu tidak usah banyak bicara!” jawab Anna.

                     Saat dibuka, terlihat sebuah baju hitam berlengan panjang dengan gambar-gambar aneh. Begitu pula saat rok Anna dilepas tertihat sebuh celana panjang hitam yang kelihatannya sudah tidak asing lagi. Pakaian yang tidak mungkin untuk olahraga biasa. Terlihat dibajunya sebuah lambang bertuliskan IPSI dan lambang bergambar 2 bunga teratai yang disilangkan. Dipinggangnya terikat sabuk berwarna merah. Tak salah lagi, itu pakaian anggota beladiri silat.

“Ikhwan, aku tantang kamu untuk sparing denganku. Saya sudah tahu kalau kamu seorang ahli beladiri di bidang silat, maka aku ingin melihat seberapa hebat kamu”, kata Anna dengan tatapan mata serius.

“Saya tidak mau bertarung apalagi dengan kontak fisik seperti ini. Saya menolak bertarung dengan perempuan”, jawab Ikhwan sambil berjalan meninggalkan Anna.

  “Kamu jangan meremehkan saya!” kata Anna sambil berlari melancarkan tendangan ke arah kepala Ikhwan.

Tanpa melihat ke belakang, Ikhwan dapat menangkap kaki Anna dengan mudah. “Saya sudah bilang kan, saya menolak bertarung denganmu, keras kepala sekali kamu ini”, kata Ikhwan.

Anna tidak mempedulikan kata-kata Ikhwan. Ia terus menyerang Ikhwan tanpa ada celah sedikitpun. Setiap Anna memukulnya, Ikhwan hanya menangkis atau menghindarinya. Meski begitu Anna terus mengeluarkan jurus-jurusnya ke arah Ikhwan.

Setelah beberapa menit berlalu merekapun kelelahan. Anna langsung menyerah karena semua tenaganya habis untuk menyerang Ikhwan yang hasilnya sia-sia saja. Mereka langsung duduk di bawah pohon besar yang rindang.

“Hebat juga kamu. Semua seranganku kamu tangkis semua. Memangnya kamu tidak kelelahan?” Tanya Anna sambil mengusap keringatnya.

“Saya? Biasa saja. Karena semua gerakan saya tadi tidak ada yang terbuang sia-sia, jadi tidak banyak stamina yang keluar”, jawab Ikhwan dengan santainya.

“Lho ada yang seperti itu ya? Kamu berguru dimana?”

“Saya berguru di perguruan taring naga di Jakarta. Saya disana sudah mencapai sabuk hitam”, kata Ikhwan.

“Sudah jadi guru dong? Kamu hebat ya”, jawab Anna. Saat itu untuk pertama kalinya Anna tersenyum pada Ikhwan.

“Baru kali ini saya melihat ada gadis yang mau menantang sparing, kamu berguru dimana?” Tanya Ikhwan.

“Aku belajar di perguruan teratai putih. Itu adalah perguruan khusus untuk para wanita.”

“Tapi kenapa perempuan seperti kamu mau belajar hal seperti itu? Biasanya perempuan orang seperti kamu tidak mau hal-hal yang berbau kekerasan”, kata Ikhwan dengan penuh keheranan.

Senyum yang tadi bersinar sekarang mulai memudar setelah mendengar pertanyaan Ikhwan. ”Ceritanya panjang Wan. Mungkin ini menyangkut masa laluku”.

“Ya sudah tidak apa-apa. Saya akan mendengarkan ceritamu.”

“ Dulu ibuku bekerja sebagai pedagang di pasar barat kota sedangkan ayahku  sebagai pegawai di kantor kecamatan. Sejak kecil aku sering membantu ibu berdagang disana. Kadang aku sering jengkel dengan orang-orang disana. Banyak preman selalu meminta uang keamanan, para bocah kecil yang sering mengambil barang dagangan. Maka dari itu akupun tumbuh menjadi anak yang keras. Aku sering berkelahi dengan orang-orang disana. Dalam hati aku merasa semua orang di dunia ini preman”, kata Anna sambil memijat-mijat kakinya. “Saat aku menginjak bangku SMP, aku masuk dalam ekskul silat. Tapi setelah masuk, aku menjadi lebih beringas dari sebelumnya, menggunakan ilmuku untuk menindas orang lain. Kemudian ada seorang teman yang menasihatiku dan mengajak untuk masuk ke dalam ekskul rohis. Awalnya aku mengira disana hanya ada pengajian saja, tapi ternyata lebih dari itu. Disana aku dijarkan bagaimana menjadi perempuan yang memiliki akhlaqul karimah. Aku merasa menjadi seorang gadis yang muslimah. Sejak saat itu aku mulai mengenakan jilbab setiap hari, meski sebagian sifat kasarku masih tertinggal”, lanjutnya.

“Begitu ya, tapi menurutku itu merupakan perkembangan yang bagus. Jujur saja saya suka dengan gadis seperti kamu. Saya harap kamu bisa jadi perempuan yang lebih baik dari sebelumnya”, kata Ikhwan.

Mendengar kata-kata pemuda itu, wajah Anna langsung merah karena pertama kali dipuji orang. Padahal dari dulu ia selalu diejek si preman, tomboy, dan lain-lain yang membuatnya sering darah tinggi.

“Ya sudah, ayo kita pulang. Hari sudah mulai sore.”

“I.., iya”, jawab Anna dengan malu-malu.

Saat Ikhwan akan berdiri, tiba-tiba ia memegangi dadanya seakan menahan sakit yang perih sekali. Wajah yang terlihat cerah sekarang mulai putih pucat. “Wan kenapa kamu?” Tanya Anna.

Sambil tersenyum Ikhwan menjawab, ”Tidak apa-apa, saya hanya sedikit sesak saja.”

Anna tahu kalau ia telah berbohong. Karena takut akan terjadi terjadi sesuatu, Anna mengantar Ikhwan pulang.

Malam harinya dirumah Anna, ia sedang melamun melihat langit malam yang indah yang saat itu tengah dihiasi bulan purnama bertabur bintang-bintang di langit. Ia teringat kembali apa yang telah alami tadi siang. Pertama kalinya ada orang yang membuat hatinya tersentuh. Padahal berkali-kali ia telah disakiti, setiap hari ia harus menghadapi sebuah penyakit ganas, tapi ia masih tetap bisa tersenyum. Saat Anna menatap kembali bulan, ia tergambar dibenaknya wajah yang sudah tak asing lagi, wajah seorang lelaki. Ikhwan, ya dia orang yang membuat hatinya saat ini berbunga-bunga. Dari dulu ia merasa tidak mungkin mungkin mencintai seorangpun lelaki. Saat Anna shalat Isya, ia berdoa agar ia diberi ketentraman dalam hatinya yang kini dihiasi dengan rasa kasih yang mendalam.

Keesokan harinya, Anna memulai hari itu dengan senyum di wajahnya. Saat di kelaspun ketika ia bertemu Ikhwan, ia memberi salam padanya. Padahal biasanya ikhwan yang lebih dulu menyapa. Saat pelajaran Anna tak jarang untuk bertanya dan mengajukan kerjasama pada Ikhwan.

Perubahan ini membuat teman-teman di kelas keheranan. Anna yang biasanya masuk dengan wajah jutek, saat pelajaran selalu ingin menang sendiri kini ia bagai seekor ulat yang berubah menjadi kupu-kupu yang cantik baik dari dalam maupun di luar. Sebaliknya Ikhwan merasa senang dengan perubahan pada Anna.

Begitulah hari-hari berlalu. Persaingan yang panas kini berubah menjadi sebuah pasangan emas yang sangat kompak. Meski begitu Ikhwan tidak lupa dengan persahabatan dengan Kiki. Sejak ada Ikhwan, banyak nilai mata pelajaran Kiki yang sedikit demi sedikit mulai ada peningkatan.Setiap ada pelajaran yang tidak ia ketahui, ia langsung menanyakannya pada Ikhwan.

Suatu hari saat pelajaran olahraga, tak biasanya Ikhwan langsung berganti pakaian olahraga dan turun lapangan saat itu. Pada hari itu matahari sangat panas.

“Ayo anak-anak, hari ini seperti biasa kita lakukan pemanasan”, kata pak Jaya sang guru olahraga. “Ikhwan, kenapa kamu ikut olahraga? Apa kamu tidak apa-apa mengingat keadaanmu yang …,” sambil keheranan melihat Ikhwan yang baru pertama kali ini memakai baju olahraganya.

“Saya sudah tidak apa-apa. Boleh dong pak saya ikut pelajaran bapak sekali-sekali”, jawab Ikhwan.

“Ya sudah tapi jangan memaksakan diri. Jika kamu sudah merasa kelelahan langsung istirahat saja”, kata pak Jaya. Ia berkata seperti itu karena saat pendaftaran, kedua orangtua Ikhwan sudah memberitahukan bahwa kondisi Ikhwan sangatlah lemah, bahkan untuk mengikuti kegiatan yang menguras tenaga seperti olahraga. Meski pada akhirnya pak Jaya mau menuruti permintaan orangtua Ikhwan dengan syarat tertentu.

Materi pada saat itu adalah melakukan pemanasan selama beberapa kali. Awalnya anak-anak merasa tidak ada masalah kalau hanya pemanasan. Tapi setelah beberapa kali ternyata pemanasan yang tadi dilakukan terus diulang-ulang. Bahkan anak-anak terlihat benar-benar kelelahan saat itu.

Pemanasan terakhir adalah berlari mengelilingi sekolah dan melewati kantor pos polisi sebanyak tiga kali. Saat berlari, terlihat wajah anak-anak sangat kelelahan saat itu, ditambah lagi teriknya matahari yang menyengat sekali. Saat putaran pertama laju lari mereka awalnya memang stabil, tapi saat putaran kedua kecepatan mereka mulai menurun. Saat itu ikhwan langsung mendahului teman-temannya. Ketika ia berlari melewati Anna dan Kiki terlihat senyum yang sekilas menandakan kesedihan yang mendalam. Dan saat putaran ketiga, memang kecepatan Ikhwan masih belum terlihat menurun, tapi tiba-tiba ia mengacungkan ibu jarinya seperti ingin menandakan sesuatu, kemudian ia mendadak jatuh pingsan di tengah jalan.

Para siswa langsung panik dan kemudian membawa Ikhwan ke sekolah. Sesampainya disekolah Ikhwan di istirahatkan di ruang UKS, sementara itu pihak sekolah langsung menghubungi orangtua Ikhwan. Beberapa saat kemudian Ikhwan akhirnya sadar kembali dan kebetulan orangtuanya pun telah datang. Setelah orangtua Ikhwan minta izin, Ikhwan langsung dibawa pulang untuk istirahat dirumah.

Keesokan harinya, Ikhwan tidak masuk sekolah. Kabarnya ia masuk rumah sakit. Mendengar hal itu Anna lansung khawatir dengan keadaan Ikhwan. Berhari-hari Ikhwan sudah tidak masuk membuat Anna berinisatif untuk pergi menjenguknya. Setelah pergi kesana kemari, akhirnya Anna tahu dimana Ikhwan dirawat.

Di lain tempat, Ikhwan merasa sudah bosan terus berbaring di ranjang rumah sakit. Setiap hari hanya tidur, makan, dan shalat. Tiba-tiba saja Ikhwan mendapat SMS dari Kiki bahwa ia bersama teman-teman akan menjenguk Ikhwan dan dalam beberapa jam lagi mereka akan tiba di rumah sakit.

Tatkala sedang senang, tiba –tiba pintu kamar diketuk, padahal Kiki masih ada di jalan. Mungkin saja itu orangtuanya yang baru pulang dari kantor.

“Assalammu’alaikum!!!”

“Waalaikumsalam, ya silakan masuk. Pintunya tidak di kunci.”

Saat terbuka, diluar dugaan Anna yang datang saat itu dengan membawa sekantung mangga. “Maaf aku mengganggu istirahat kamu ya?

“Tidak, tidak apa-apa. Ayo masuk dulu. Kamu tahu dari mana saya dirawat disini?” Tanya Ikhwan sambil menyandarkan badannya.

“Saya tahu dari wali kelas kita, Bu Nia bahwa kamu dirawat di RSUD Pamekasan”, jawab Anna yang kemudian langsung duduk disebelah Ikhwan. “Kenapa kamu kemarin memaksakan dirimu untuk ikut olahraga? Padahal fisikmu lemah kan?”

“Sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan. Sebentar lagi saya akan pindah keluar negeri. Kemarin saya ikut pelajaran itu untuk menunjukkan yang terakhir kalinya bahwa saya juga bisa ikut pelajaran yang selama ini dilarang oleh orangtuaku”, kata Ikhwan sambil tersenyum meski terlihat di wajahnya seperti menahan kesedihan yang mendalam. “Dari kemarin saya sudah membujuk orangtuaku untuk membatalkannya tapi tetap tidak bisa. Mereka bilang disana saya bisa melanjutkan perawatan medis sekaligus pendidikan saya yang lebih baik lagi.”

Mendengar hal itu Anna langsung terkejut setengah mati. Orang yang kasihi ternyata akan pergi meninggalkannya. “Kamu yakin akan meninggalkan kita?”

“Mau bagaimana lagi. Aku hanya bisa mengikuti kemauan orangtua ku saja.”

Sambil melihat jam dinding, lalu Anna berpamitan untuk pulang. Saat diperjalanan, Anna terus memikirkan kata-kata Ikhwan tadi. Ia merasa belum ikhlas untuk melepaskan orang yang berarti dalam hatinya ini. Ia belum mau melupakan jantung hatinya itu

Semalaman Anna terus berdo’a. Seusai shalat bahkan tahajjud pun dilakukan untuk berdo’a agar ikhwan tidak pergi meninggalkannya.

Hari-haripun berlalu, tapi Ikhwan belum masuk ke sekolah. Suatu hari, tepatnya pada hari Jum’at Ikhwan akhirnya masuk ke sekolah. Betapa senangnya Kiki dan Anna melihat Ikhwan dapat belajar kembali.

Tapi tak disangka hari itu berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Saat jam sekolah hampir selesai, Bu Nia datang ke kelas meminta waktu sebentar kepada guru sedang mengajar kami.

“Anak-anak hari ini ibu datang karena ada satu berita ingin saya sampaikan pada kalian”, kata Bu Nia menatap murid-muridnya dengan serius terutama pada Ikhwan. “Hari ini teman kalian Ikhwan akan pergi meninggalkan sekolah ini.”

Lalu Ikhwan langsung berdiri di depan kelas. “Teman-teman maafkan saya tapi ini sudah merupakan keputusan orangtua saya agar pindah ke Inggris.”

Murid-murid mulai berbicara sendiri mengenai Ikhwan. Kiki hanya bisa diam mendengar apa yang dikatakan Ikhwan tadi. Sebaliknya Anna mulai meneteskan air mata.

“Ikhwan kenapa kamu pindah secepat ini? Bagaimana dengan teman-temanmu ini? Apa kamu mau meninggalkannya begitu saja?” teriak Anna dari tempat duduknya. “Sejak kamu ada disini, banyak hal yang telah berubah di kelas ini. Apa kamu mau menyia-nyiakannya?”

“Wan sejak ada kamu, saya yang mulanya tidak bisa apa-apa sudah mulai ada perkembangan berkat ajaranmu selama ini”, kata Kiki yang mulai angkat bicara sedari mengunci mulutnya.

“Sekali lagi saya mohon maaf tapi ini sudah menjadi keputusan.”

Bel sekolahpun berbunyi tanda sekolah berakhir. Terlihat mobil pribadi dan ayah Ikhwan telah menunggunya di depan gerbang sekolah. Sebagai akhir perpisahan teman-teman Ikhwan mengantarnya sampai ke mobil. Sesampainya di gerbang sekolah, Ikhwan langsung masuk ke mobil.

“Ikhwan, jaga dirimu baik-baik. Aku tidak akan melupakan hari-hari yang telah kamu berikan padaku dan pada kami pula”, kata Anna. Ikhwan hanya mengangguk saja dari dalam mobil.

Saat mobil Ikhwan pergi, teman-teman mulai menyorakkan takbir padanya.

Sementara itu di jalan, Ikhwan yang tidak bisa melupakan teman-temannya mullai meneteskan air matanya. “Wan, barang-barangmu sudah disiapkan kita langsung ke rumah untuk membantu merapikan perabotan kita,” kata ayahnya. Ikhwan masih diam menatapi pemandangan di jalan.

Di sekolah, seusai para jamaah shalat Jum’at pulang Anna yang masih berada disana langsung mengambil air wudhu untuk shalat Zuhur. Anna shalat sangat khusyuk saat itu, tapi saat raka’at terakhir ketika melakukan sujud terakhir tangis Anna mulai meledak. Ia tidak bisa melupakan orang itu. Kesedihan yang baginya sangat berat baginya. Bahkan seusai shalat ia berdo’a agar Ikhwan dapat kembali bersekolah dengannya.

Dari mesjid Anna memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Sesampainya disana ia menghampiri tempat duduk Ikhwan. Anna mulai merasakan apa selama ini ditahan Ikhwan. Ia merasakan bagaimana rasa perih yang dialami Ikhwan. Kemudian ia beralih ke tempat duduk Kiki. Saat ia duduk disana dan melihat ke arah kursi Ikhwan, Anna mulai merasakan apa saja yang selama ini diajarkan Ikhwan, bagaimana wajahnya saat ia bersama Kiki. Tanpa sadar ia kembali bersedih mengingat Ikhwan yang telah pindah ke tempat lain.

Saat malam tiba, tidak biasanya Anna mengurung diri di kamarnya. Makan malam ia lewatkan begitu saja. Kedua orangtuanya mulai bingung dengan kelakuan anak sematang wayangnya ini. Di dalam kamar Anna terus memandangi langit malam yang jelas-jelas saat itu tidak ada apa-apa. Bintang satupun tidak muncul dilangit. Anna hanya membayangkan seluruh kenangan bersama Ikhwan selama ini.

Kiki yang selama ini hanya bisa bergantung dengan ajaran Ikhwan, malam itu ia mulai mengulang kembali apa yang ia telah ia pelajari dari sahabatnya itu. Ia berjanji untuk terus menuntut ilmu meski tidak ada sahabat baiknya itu.

Hari Senin tiba. Semua kembali seperti saat Ikhwan belum ada. Semua berjalan sangat pasif. Tidak ada lagi anak-anak yang sibuk minta diajari pelajaran oleh Ikhwan. Semua menjadi tidak seindah dulu. Anna yang biasanya datang lebih pagi untuk menanyakan tugas pada Ikhwan sekarang sudah mulai datang sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi.

Saat bel berbunyi tanda masuk berdering, tiba-tiba seorang siswa datang langsung masuk ke kelas sambil berlari-lari. Tak disangka orang itu adalah anak yang sejak tadi dirindukan teman-temannya. Meski masih tidak percaya tapi ternyata benar, itu adalah Ikhwan. Semua anak-anak langsung mengerumuni Ikhwan layaknya seorang artis. Dari belakang Anna langsung memeluk Ikhwan.

“Cie…, Anna. Baru ditinggal berapa hari sudah seperti itu. Kangen ya?” kata teman-teman yang lain.

Mendengar hal itu Anna langsung melepaskan pelukannya. “Kamu tidak jadi pindah? Kenapa?” Tanya Anna.

“Entahlah, saya tidak tahu. Tadi pagi ayah saya langsung membatalkan kepergian saya dan saya sekarang tinggal di kota ini sampai saya lulus dari sekolah ini”, jawab Ikhwan

“Janji ya kamu untuk tidak meninggalkan kami lagi ya?”

“Ya saya janji”, jawab Ikhwan sambil tersenyum bahagia.

Bagi Anna saat itu benar hari yang paling bahagia. Ia bersyukur do’anya telah terkabul. Dalam hatinya ia berkata, “Terima kasih ya Allah…..”

«Tamat»

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s