Biarkan Ia Romantis

BARU juga seumur jagung—masih bau kencur tapi tetap saja bukan alasan tuk berbagi tentang pernak-pernik kerumahtanggaan. Ini tentang sisi lain dari cerita romantisme.

Meski trend nya dah lama dan sebenernya saya gak suka juga digutuin, tapi kok pas dah nikahan mau juga sekali-kali digituin; “digombalin” dengan kata-kata, he.

“Mas, mmm… bahasa inggrisnya lelaki apa sih?”
“Man” jawabnya singkat.
“Kalo tampan?”
“Handsome”
“Kalo lelaki tampan?”
“Handsome man”
“Eh, salah, bahasa inggrisnya lelaki tampan itu, Deka Wahyu Purwanto (he suami saya tentunya)”

Suami spontan tertawa lebar, sejenak mengelus-elus kepala saya, dan selanjutnya tak ada apa-apa, tak ada balasan atau gimana gitu. 

“Jiah… segitu saja… cuma ketawa” batin saya sedikit manyun.

Lain kali, coba dipancing lagi.

“Mas ini… punya wajah kok wajah susah gitu”
“Ya… sudah dari sananya” jawabnya kalem.
“Mmm… mas ini memang berwajah susah… susah dilupain…”

Suami spontan tertawa lebar, sejenak mengelus-elus kepala saya, dan selanjutnya tak ada apa-apa, tak ada balasan atau gimana gitu. Sama seperti yang sebelumnya dan bibir saya manyun lebih panjang.

Ini yang ketiga… ba’da maghrib…
“Seharian ini saya capek”
“Capek kenapa? Istirahatlah” Menatap saya serius.
“Iya, saya capek seharian lari-lari di hatimu…”

Dan apa yang terjadi sodara-sodara… sama seperti yang kemarin, gak ada balasan apapun, cuma ketawa lebar dan mengelus-elus kepala saya. Kali ini bibir saya benar-benar manyun sempurna! Gak tahan akhirnya saya pun protes.

“Mas ini… balas lah… hanya ketawa-ketawa saja…”
“Nggak bisa dek… gak bisa mas gitu…” Katanya membela diri sambil senyum-senyum, senyum yang bagi saya waktu itu gak ada manis-manisnya.

Tapi tetep saja saya manyun, gak bisa terima alasan itu. Kan gak harus ngarang sendiri, bisa nyontek dimana gitu… orang itu juga saya gak ngarang sendiri.

Beberapa saat kemudian, suami turun ke bawah (kami waktu itu sedang di kamar atas), pas balik-balik ke kamar sudah membawa piring berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya. 

“Lho, mas mau makan?” Tanya saya kaget, karena belum juga waktunya makan malam.
“Iya, lapar…” jawabnya singkat.
“Kenapa gak bilang ke saya, kan bisa saya ambilin”
“Enggak ah, kasihan, kan sedang capek karena seharian berlarian dihatiku” katanya datar.
“Eh…??/#@%”

Jantung saya serasa berhenti berdetak mendadak… sementara suami hanya senyum-senyum, kali ini senyumnya terlihat manis sekali… Hai hai… entah kenapa lelaki yang ada didepan saya ini terlihat menjadi lelaki teromantis sedunia.

Malam itu, saya menyadari sesuatu, bahwa saya tak bisa menyuruh-nyuruh suami saya tuk romantis seperti yang saya mau. Ya, tak menyuruh-nyuruh lagi tuk romantis, tapi membiarkan ia bersikap romantis dengan caranya sendiri.

Bukankah kalo dipikir, selama ini beliau juga sering bersikap romantis? Baik saya sadari ataupun tidak,  mengajak nonton film, membelikan buku, membelikan coklat, es krim sampai mawar yang sempat beliau salting-salting ketika menunjukkan di balkon kamar, bukankah itu romantis? Menyiapkan makan sahur sendiri ketika puasa sunnah disaat saya tertidur pulas bukankah itu romantis? Mencuci kopiah putihnya sendiri padahal saya sedang santai-santai bukankah itu juga cara beliau romantis? Ah, maafkan… betapa piciknya pikiran saya tentang romantis.

Hm, jadi ingat tentang  kata-kata; ”Pernikahan adalah adaptasi seumur hidup” Dan ternyata memang benar hal itu, karena ada dua karakter, dua pikiran, dua hati, dua jiwa, dua tubuh, dua keinginan, dua kebiasaan dan dua-dua yang lainnya, yang mengharuskan bertemu disatu titik tuk hasilkan sinergi. Kalo gak ketemu? Jurus jitunya ya saling memahami. Kalo gak (selalu) bisa saling memahami? Maka ya saling memaklumi. Kalo pas gak bisa saling memaklumi? Mm, Tpikir sendiri ah, karena saya belum nyampai kesitu kejadiannya.

Lelaki dengan kodrat kelelakiannya dan wanita dengan kodrat kewanitaannya, lelaki dengan pikiran kelelakiannya dan wanita dengan pikiran kewanitaannya, lelaki dengan perasaan kelelakiannya dan wanita dengan perasaan kewanitaannya. Tergabung jadi satu dalam wadah yang namanya rumahtangga, meski dicampuraduk tiap hari tetap saja tak kan melebur jadi satu, karena ianya punya kekhasan masing-masing. Itulah kemudian kenapa dapat dipahami Islam, agama rahmat ini, punya mekanisme bernama hak dan kewajiban suami isteri, dengan kedudukan “kepartneran” dalam berumahtangga; suami menjadi imam atas isterinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s