Bullying Anak SD? Bagaimana Mengatasinya?

TERUNGKAPNYA kasus bullying terhadap siswi sebuah SD di Bukittinggi Sumatera Barat sangat memiriskan. 7 siswa SD memukuli dan menendang teman sekelasnya secara bergantian. Mirisnya,salah satu dari pelaku memvideokan perilaku buruknya tersebut dengan penuh kebanggaan.

Kita semua prihatin atas berulangnya kasus kekerasan yang melibatkan anak-anak generasi ini sebagai korban maupun pelakunya. Lebih menyedihkan lagi semakin hari kasusnya semakin banyak terungkap dan semakin brutal jenis kekerasannya, juga semakin dini usia para pelakunya. Selain kasus video kekerasan siswa SD Bukittinggi, saat ini sedikitnya ada 10 kasus kekerasan yang sedang ditangani Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Semestinya kondisi ini menjadi pendorong bagi semua pihak untuk merumuskan langkah penyelesaian baru, karena terbukti penyelesaian yang sudah berjalan telah gagal menuntaskan masalah yang ada.

Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia memandang penting untuk menegaskan bahwa akar masalah kekerasan yang melanda generasi umat ini adalah persoalan sistemik. Langkah mediasi antar keluarga, pemberian sanksi administratif, peningkatan pengawasan sekolah dan perbaikan cara mengajar guru bahkan penanaman pendidikan karakter tidak akan berjalan efektif dan tidak bisa menuntaskan persoalan bila tidak dilandasi kesadaran terhadap adanya persoalan mendasar yang melingkupi. Dengan kata lain harus disadari bahwa:

1. Demokrasi dan kebebasan adalah sumber utama masalah. Kasus bullying, serupa dengan kekerasan lainnya adalah penyimpangan perilaku yang lahir dari paham kebebasan. Kebebasan adalah nilai utama dalam sistem demokrasi yang juga memfasilitasi prinsip survival of the fittest, hanya yang kuat yang akan bertahan. Maraknya bullying di sekolah-sekolah — termasuk sekolah dasar – adalah gambaran dari berlakunya prinsip tersebut. Siswa atau anak yang lebih kuat dan berani akan menguasai kawan-kawannya. Dalam tingkat pergaulan orang dewasa hal ini melahirkan perilaku premanisme.

2. Lemahnya fungsi keluarga. Keluarga hanya menjadi terminal. Kondisi keluarga dalam tatanan masyarakat kapitalistik sebagaimana saat ini, dihimpit kesulitan ekonomi. Orang tua tersibukkan mencari nafkah ketimbang mencurahkan waktu, perhatian dan kasih sayang untuk anak-anak mereka. Dalam keluarga yang memiliki ekonomi mapan hal ini pun terjadi ketika banyak ibu yang menghabiskan waktunya untuk kegiatan di sektor publik baik di dunia kerja atau sosialita.

3. Rendahnya pengawasan sekolah dan kepedulian masyarakat. Semestinya deteksi dini terhadap perilaku negatif bisa dilakukan oleh sekolah maupun lingkungan sekitar. Ketika muncul gejala perilaku negatif seperti kata-kata kasar, mencemooh apalagi kekerasan sekolah maupun lingkungan sekitar selayaknya memberi perhatian untuk mengingatkan dan menghentikan. Sehingga tidak muncul perilaku negatif yang merugikan hingga menyakiti orang lain.

4. Abainya pemerintah. Budaya kekerasan masuk ke dunia anak melalui tontonan televisi, film, komik dan video games. Pemerintah tidak tegas dalam menyetop segala jenis tontonan merusak tadi karena lemahnya pengawasan, minimnya keberpihakan maupun adanya keuntungan materi. Pemerintah lalai dalam melindungi anak dari media yang membahayakan, tidak mendukung tugas orang tua dan sekolah dalam mendidik generasi yang berkepribadian mulia.

Jangan berdiam diri membiarkan bangsa ini kehilangan sumber daya manusia yang mumpuni di masa mendatang karena rusaknya pola pembinaan generasi saat ini. Kita membutuhkan sistem pengganti untuk menuntaskan permasalahan tersebut. Sistem pengganti tersebut adalah Islam sebagai ideologi dan khilafah Islamiyah sebagai model negaranya.

Negara Islam (Khilafah Islamiyah) akan mengarahkan orang tua dan menanamkan melalui kurikulum pendidikan agar anak-anak dididik perilaku dan budi pekerti yang benar sesuai dengan ajaran Islam. Mereka diajarkan untuk memilih kalimat-kalimat yang baik, sikap sopan-santun, kasih-sayang terhadap saudara dan orang lain. Mereka juga diajarkan untuk memilih cara yang benar ketika memenuhi kebutuhan hidup dan memilih barang halal yang akan mereka gunakan.

Dengan begitu, kelak terbentuk pribadi anak yang shalih dan terikat dengan aturan Islam. Orang tua memiliki waktu dan perhatian yang cukup bagi keluarga karena sistem ekonomi Islam akan menghasilkan masyarakat yang sejahtera berkeadilan. Masyarakat yang peduli juga akan lahir dari budaya amar makruf nahi munkar.

Negara Khilafah juga menghapus seluruh fasilitas-fasilitas yang bisa mengakibatkan perilaku menyimpang generasi semacam tayangan dan permainan kekerasan dan merusak lainnya. Negara juga akan memberikan hukuman yang tegas terhadap perilaku menyimpang, karena Islam juga memiliki sistem sanksi yang jelas dan adil.

Sudah selayaknya sistem kapitalisme demokrasi yang penuh dengan kerusakan ini diganti dengan sistem Islam yang penuh dengan keharmonisan dan kemaslahatan. Marilah bersegera mewujudkannya!

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (QS al-Anfal [8]: 24).

 

Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia
Iffah Ainur Rochmah
Email:    iffahrochmah@gmail.com

 

Dikutip dari : Islampos (Bullying Anak SD, Bagaimana Mengatasinya?)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s