Mahasiswa Muslim, Sudahkah Kau Mengambil Posisi?

Oleh: Rizka Kusuma Rahmawati, Mahasiswi BEM Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, UIN Sunan Kalijaga

PERJUANGAN kembali melanjutkan kehidupan Islam sangat ketara sejak berakhirnya payung pelindung umat muslim dan seluruh umat manusia dihapuskan. Khilafah Utsmaniyyah yang khas menjadi ciri utama kemuliaan Islam, disimbolkan dengan keberadaan daulah yang menerapkan aturan Islam. Walau kini sejarah mencatat sang “pecemburu singgasana” yang mengusik daulah berhasil menghapuskannya. Ialah “Kemal” dengan kebenciannya terhadap Islam dan keagungan Islam berkonspirasi dengan musuh-musuh Islam.

Berakhirnya daulah Islam mengawali babak baru yg menyeramkan dengan kedzaliman menimpa umat manusia, tidak hanya muslim. Kita mengenal banyak tokoh perjuang diberbagai penjuru dunia. Syaikh Taqiyyudin An Nabhani dari Palestina, Hasan Al Banna dari bumi Mesir. Bumi Nusantara masyhur dengan adanya K.H Hasyim Asy’ari, Muhammad Darwis / K.Dahlan. Tak tertinggal pula Muhammad Natsir, begitu juga H. Malik yg terkenal dengan Prof. Hamka. Mereka tak pantang menyerah dalam memperjuangkan syari’at Islam agar tetap menjadi aturan dalam kehidupan. Tanah seberang bumi ulama, sebut saja Patani. Sebuah tanah bagian dari semenanjung Malaysia dulunya juga bagian dari bumi yang menerapkan syari’at Islam. Tapi kini? Tahukah kalian bagaimana keadaannya sejak dihapusnya Khilafah Islamiyah?. Bumi Patani tak lepas juga dari lahirnya pejuang muslim yang menjadi pembela syari’at Islam.

Kali ini kita akan mengenal sosok yang dikenal dengan sebutan “Haji Sulong” dari bumi Patani. Beliau lahir dengan nama Muhammad bin Haji Abdul Karim bin Muhammad bin Tuan Minal. Dilahirkan dikampung Ru, Patani tahun 1895. Gelaran Haji Sulong didapat karena beliau anak sulung dalam keluarganya. Sebagaimana para ulama yang kita kenal pada umumnya beliau memperoleh pendidikan ‘ula’ nya didapat dari ayahnya sendiri, Haji Abdul Kadir.

Selain itu juga beliau belajar di pondok disebuah kampung Badar Sungai Pandan didaerah Patani. Belajar Alquran dan menghafalkannya, mengenal huruf arab melayu dari seorang gurunya. Saat usia 12 tahun belian meninggalkan bumi Patani untuk mengambil ilmu pada Tuan Guru Haji Wan Ahmad bin Muhammad di Makkah Al Mukarromah. Belajar Tafsir Al Quran, Hadits, asas-asas ilmu Hukum , fiqh dan lain sebagainya.

Seorang tokoh tentu tak lepas dari bagaimana pemikirannya serta sumbangsihnya terhadap masyarakat. Sosok Haji Sulong pun demikian. Beliau menjadi pioner pendidikan di Patani menjadi sosok Guru mengembara mengajarkan ilmunya. Wilayah Thailand utara sebelum adanya Haji Sulong sudah berdiri sebuah sekolah yang menganut kurikulum tertentu, sedangkan Patani belum ada. Hal inilah yang menjadikan Haji Sulong merubah sistem pesantren yang tengah ada menjadi sekolah berkurikulum. Akan tetapi kondisi Patani ternyata tidak seperti yang diharapkan. Tahun 1933 perdana Menteri Thai meresmikan Madrasah al Maarif al Wataniyah Fatani. Namun tidak berjalan lama, madrasah atas usaha Haji Sulong ditutup paksa oleh pemerintah Thai. salah satu alasan yang melancarkan aksi nya karena diduga mempersiapkan pemberontakan terhadap pemerintahan Thai.

Beberapa kitab karangan beliau dalam bidang pendidikan yang bermanfaat untuk masyarakat muslim khususnya yakni Khazanah al Jawahir, Cahaya Islam, dan juga Gugusan Cahaya Keselamatan. Gerak beliau tak berhenti disitu, beliau juga mendirikan sebuah organisasi yang bernama Heet al Napadh al Lahkan ala Syariat bentuk perlawanan kepada pemerintah yang semakin hari semakin ganas dengan menghapuskan undang-undang keluarga Islam,sistem waris, pernikahan, dll. Adanya organisasi ini Haji Sulong berharap mampu menampung dan juga menyatukan ulama-ulama serta guru agama untuk mempertahankan Islam.

Mempertahankan ke-Islaman dibawah penguasa yang dhalim lagi kafir bukanlah perkara gampang. Tercatat perjuangan beliau sang Haji Sulong berakhir dengan syahid, beliau beberapa kali menjadi tahanan negara pada tahun 1952 dan juga 1954. Setelah beberapa lama kehilangan kabar akhirnya pemerintahan Thai -pun tidak henti-hentinya menekan agar perjuangannya memperjuangkan Islam dihentikan. Masyarakat dibuatnya bergejolak, dibuat ramai akan kehilangan pejuang muslim dari bumi Patani. Hingga akhirnya pemerintah kejam membunuh Haji Sulong beserta rekan-rekannya dalam ikatan batu dan akhirnya dibuanglah ke laut berhampiran pulau Tikus.

Masya Allah,, dalam perjalanan kehidupan ini begitu banyak realita perjuangan para pembela Islam dihadapkan pada kita. Mereka tidak memilih untuk bersenang-senang dan mengikuti pemerintahan dzalim hingga menggadaikan aqidah. Pejuang Islam justru tetap bertahan walau dalam kondisi bahaya maut sekalipun. Haji Sulong tidak memilih untuk menyerah dibandingkan harus rela menyakiti saudara seiman. Beliau pejuang Islam dari bumi Patani. Beliau syahid memilih jalan untuk tetap memerangi kemungkaran.

Sebagai mahasiswa harusnya kita malu pada pejuang Islam yang lebih dahulu membela Islam layaknya Haji Sulong. Beliau mati-matian memperjuangkan Islam di bumi Patani. Lantas, saat kita menjadi sosok Mahasiswa muslim sudahkah kita ikut andil memperjuangkannya? Mari kita satukan tekad bahwa mahasiswa muslim mempunyai peran aktif mengusung perubahan peradaban, peradaban Islam yang akan memuliakan umat manusia. Peradaban Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah.  Akankah kita diam?

Dikutip dari : http://www.islampos.com/mahasiswa-muslim-sudahkah-ambil-posisi-2-140637/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s