Mengapa Calon Polisi Wanita Mesti Tes Keperawanan?

KONTROVERSI seputar tes keperawanan calon polwan mewarnai pemberitaan media akhir-akhir ini. Tes keperawanan kepada calon polisi wanita yang dilakukan oleh Mabes Polri dinilai sebagai perilaku yang kejam, karena melukai rasa kemanusiaan, merendahkan martabat perempuan dan diskriminatif terhadap perempuan yang merupakan calon Polwan.

Lembaga swadaya masyarakat pemantau hak asasi manusia, Human Rights Watch, mewawancarai delapan polisi wanita dan calon polisi wanita di enam kota Indonesia yang telah menjalani tes keperawanan. Kota-kota lokasi wawancara tersebut yakni Jakarta, Bandung, Pekanbaru, Padang, Medan, dan Makassar.

Menurut Andreas Harsono -peneliti Human Rights Watch- berdasarkan hasil wawancara, menjelaskan praktek tes keperawanan itu juga dikatakan tes dua jari. Para peminat profesi polwan masuk ke sebuah ruangan satu per satu untuk dites. Seorang dokter wanita lalu memeriksa mereka dengan cara memasukkan jarinya yang terbungkus sarung tangan ke dalam kemaluan mereka. Hal tersebut menyebabkan rasa sakit yang dialami oleh para calon polwan bahkan ada yang pingsan. Terlebih lagi tes itu membuat para calon polwan merasa sangat malu karena dilakukan di ruangan tidak tertutup.

Selain tersiksa secara fisik, banyak calon polwan yang mengalami trauma atas pemeriksaan itu. Padahal para perempuan tersebut diharapkan dapat mengendalikan emosi masyarakat ketika sudah menjadi polisi.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Ronnie Frangky Sompie mengatakan tes yang dialami para calon polwan itu bukan tes keperawanan, melainkan tes kesehatan menyeluruh. Ia mengatakan tes kesehatan itu sudah ada sejak dulu. Menurut dia, tes dengan cara seperti itu dianggap wajar.

(Islampos, Mengapa Calon Polwan Mesti Test Keperawanan (1), 24 November 2014)

Gagal Sistem, Gagal Pemahaman

Muncul dibenak kita bagi kaum muslim, apakah yang terjadi sebenarnya? Mengapa tes semacam ini diadakan? Pertanyaan semacam ini malah akan memunculkan pertanyaan yang bisa jadi lumrah, namun bisa jadi aneh. Karena dengan adanya tes ini berarti wanita secara keseluruhan saat ini sudah dipertanyakan apakah mereka masih suci atau sudah hina? Lantas akan berikutnya akan muncul pertanyaan baru, mengapa saya/anda para pembaca mulai mempertanyakan hal diatas? Ini tidak lain terjadi dikarenakan gagalnya sistem dan gagalnya pemahaman yang selama ini berkembang dan sudah di anak cucukan di dunia ini.

Sistem kehidupan yang diemban saat ini khususnya di-Indonesia adalah demokrasi, yang ini berarti kita bisa bebas memunculkan statemen dari diri kita sendiri dan yang terpenting statemen tersebut mendapat dukungan dari banyak pihak serta tidak merusak hak kita dalam kehidupan sehari-hari. Dari sinilah muncul salah satu statemen bahwa kita sebagai manusia bebas untuk berteman dan bergaul dengan siapa saja, yang terpenting kita enjoy dan have fun serta membawa manfaat. Kemanapun kita pergi, dengan siapa kita berjalan tak masalah selama ia tak mempermainkan harga diri kita dan bisa mencapai tujuan yang sama tanpa saling menyakiti perasaan satu sama lain. Tapi, didalam statemen ini akan muncul pertanyaan kembali. Bebas? Apakah kita yakin dengan kebebasan yang penting teratur ini bisa membawa kita pada keselamatan? Nyatanya tidak sama sekali. Dalam pergaulan yang seperti kita lihat disekitar saat ini tidak lagi terlihat batas bebas teratur. Bahkan kata “teratur” menjadi pudar, kata “bebas” semakin menebal dikalangan masyarakat. Perempuan bisa membaur dengan komunitas pria, campur baur tanpa ada rasa malu dan minder. Laki-laki bisa se-enaknya berjalan dengan banyak wanita tanpa ada rasa takut.

Disamping pergaulan yang makin tak jelas batasannya, ada lagi hal yang menjadi penyebabnya. Media massa. Baik itu media cetak maupun elektronik. Disana kita sering temui berita tentang mudahnya tren masuk kedalam budaya kita, baik itu tren berbusana, hiburan, pergaulan dan lain-lain. Kemudian juga suguhan tren para artis saat salah satu dari mereka ada menampilkan gaya hidup mereka. Secara tidak disadari banyak orang yang ingin ikut meramaikan tren tersebut hingga akhirnya kita terlanjur melakukan hal tersebut yang bisa jadi itu dapat merusak akidah dan akhlak ummat saat ini.

Solusi hanya dengan Islam

Jika kita bertanya apakah kehidupan kita saat ini baik-baik saja? Maka mari kita bandingkan kehidupan kita saat ini dengan kehidupan masa lalu saat ummat dipimpin langsung oleh Rasulullah saw, kehidupan para tabi’in dan para tabi’ut tabi’in. Jangankan ada seks bebas, urusan pakaianpun bahkan diatur dalam Islam. Tata cara pergaulan-pun sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah saw tanpa harus ada yang sakit hati maupun terganggu. Semua perawan sudah pasti terjamin 100% masih suci tanpa harus di tes lagi. Tak ada lagi campur baur antar lelaki-wanita tanpa ada urusan syar’i. Inilah bukti bahwa sudah waktunya kita mulai berpikir mana yang harus kita pilih. Dan bila anda memilih kehidupan yang lebih baik maka sudah pasti Islam lah solusi dari semua ini, dan cara agar Islam tegak dalam kehidupan keluarga, masyarakat, hingga tata negara dan sebagai ideologi, maka Syariah dalam naungan Khilafah adalah solusi mutlak agar kita bisa mencapai keindahan hidup atas aturan dan tata cara dari Allah swt dan rasul-Nya.

http://www.islampos.com/mengapa-calon-polwan-mesti-test-keperawanan-1-148878/

http://www.islampos.com/mengapa-calon-polwan-mesti-test-keperawanan-2-habis-148879/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s