Kekalahan Telak Konsep dan Pengusung Nasionalisme

Oleh: Indrawirawan [Aktivis Gema Pembebasan komsat Unhas]

DALAM melakukan sebuah gerakan memerlukan gas pendorong. Apa lagi, gerakan yang dimaksud adalah gerakan untuk merubah sebuah keadaan. Gas pendorong untuk mengubahnya tentu harus bersandar pada sesuatu yang sangat kuat. Sehingga dengan itu mampu menginfiltrasi dan menjadi ruh dalam melakukan aktivitas perubahan.

Apabila kita melihat realitas negeri ini. Sesungguhnya, negeri Indonesia merupakan salah satu tanah yang ada di muka bumiini yang membutuhkan sebuah perubahan. Negeri ini didiami dengan jamak penduduk muslim terbanyak di dunia, ini adalah golongan yang paling membutuhkan perubahan. Ini karena, keinginan yang dimiliki oleh sebagian bangsa untuk melakukan perubahan tidak lebih hanya sekedar upaya mencapai keadaan yang lebih baik. Karenanya keinginan ini sangat penting dan amat menentukan kelangsungan hidup umat, sehingga tuntutan dan keinginan ini tidak bisa ditunda lagi, atau ditangguhkan serta ditawar-tawar (‘Athiyat, 2010).

Dalam melakukan perubahan, pemuda menjadi panji terkuat dan golongan yang selalu progresif. Dalam lembar sejarah. Bagaimana ketokohan seorang Ali bi Abi Thalib dan Zubair bin Awwan yang pada awal Islam disiarkan dengan sembunyi-sembunyi dalam tasqif Darul Arqam masih berumur 8 tahun. Ali bin Abi Thalib tumbuh menjadi pemuda yang berani. Keberanian yang ditebus dengan merelakan diri untuk menggantikan Rasulullah SAW di tempat tidurnya kala kaum kuffar mengepung dan berencana membunuh Rasulullah MuhammadSAW. Kita pun tidak akan lupa, bagaimana kiprah seorang Mush’ab bin Umair ditanah Yastrib (Madinah) dalam membimbing suku ‘Auz dan Khazraj sehingga terkondisikan dengan Islam. Sehingga titik tekan di bagian ini adalah bagaimana peran pemuda dalam perubahan.

Pengusung Nasionalisme dalam Keterpecah Belahan

Potret pemuda seperti Ali bin Abu Thalib danMush’ab bin Umair mungkin akan sangat sulit kita temukan dalam kehidupan yangkita jalani hari ini. Cerminannya terlihat di saat aksi seratusan orang yang mengatasnamakan diri sebagai Gerakan Pemuda Indonesia (GPI) Kalteng melakukan tindakan anarkis dan pengrusakan sekretariat Gema Pembebasan Palangkaraya padahari Kamis, tanggal 31 Oktober 2013.

Aksi pengrusakan tersebut berawal tatkala para anggota GPI melakukan Aksi Penguatan Sumpah Pemuda yang diawali dengan longmarch melewati kantor Rektorat Universitas Palangkaraya (Unpar),dilanjutkan menuju Kantor Sekretariatan Gema Pembebasan Palangkaraya. Meski aksi ini dikawal oleh pihak berwenang, namun ternyata para demonstran yang tergabung dalam GPI ini tetap merangsek masuk ke dalam sekretariat Gema Pembebasan Palangkaraya yang saat itu dalam keadaan kosong, untuk meluapkan kekesalan massa mengeluarkan barang-barang dalam rumah dan nyaris membakar sekretaria Gema Pembebasan.

Sumpah pemuda yang masih dikultuskan segelintir pemuda hari ini sebagai jejak sejarah kebangkitan nasional ternyata kalah dan meradang. Pasalnya, ide ini terkoyak dengan usungan mereka sendiri, persatuan. Persatuan yang merupakan ruh dari sumpah pemuda ternyata tidak mampu dikejewantahkan dan direalisasikan dengan frame nasionalisme.

Nasionalisme dengan semangat yang dibawa,menyekat diri dalam keterpecah belahan. Menyandarkan semangat pada sesuatu yang sesaat saja. Semangat temporal dan spontanitas dikarenakan sama-sama terdesakdengan penjajahan. Ide ini muncul di saat kondisi terdesak sehingga muncul ikatanemosional kemudian dibungkus dengan ide kewilayahan sehingga satu sama lain merasa senasib dan sepenanggungan.

Kekalahan Konsep Nasionalisme

Nasionalisme, ikatan ini rapuh. Serapuh sumpah mereka beberapa dasawarsa lalu, 28 Oktober 1928. Ide persatuan mereka tinggalkan, ambruk karena kekalahan konsep. Konsep ini telah lama terbukti tidak mendatangkan dari dalam dirinya persatuan.

Nasionalisme hanya melahirkan dan menyuburkan benih konflik. Konflik dan sikap anarkisme sesama akvitis mahasiswa, mungkin baru kali ini mencuat. Namun, konflik-konflik hasil ide ini telah lama dirasakan bangsa ini. Tengoklah bagaimana negara serumpun Indonesia-Malaysia sejak 1961 tak luput dari sengketa. Semua itu berakar dari perebutan wilayah teritorial hingga tema kebudayaan. Berawal dari rebutan wilayah Serawak atau Sabah, Kalimantan, pada masa kini terus merembet dengan saling klaimkepemilikan tari pendet, angklung, keris, reog Ponorogo, kain batik, lagukebangsaan, hingga masalah kedaulatan Ambalat. Ajakan “ganyang Malaysia” punterus bergulir di Tanah Air. Konflik ini jelas menafikkan persatuan global umat manusia. Terlebih untuk umat Islam yang karena ikatan sesat nasionalisme kemudian menadang sebelah mata kepada saudara-saudara se-aqidah mereka. Bukan hanya konflik sesame saudara, tapi penjajahan dan penindasan yang dilakukan di banyak negeri-negeri muslim tidak dipandang sebagai masalah mereka, sekali lagi nasionalisme telah membutakan.

Lain lagi misalnya, beberapa daerah di Indonesia masih bergolak akibat ketidakpuasan politik dan ekonomi. Hasilnya,Timor-Timur kini tak lagi menjadi bagian dari NKRI. Daerah lain seperti Aceh,Maluku dan Papua masih berpotensi memisahkan diri. Muncul gerakan-gerakanpenyeru kemerdekaan yang tetap eksis seperti GAM (Gerakan Aceh Merdeka), RMS(Republik Maluku Selatan) dan OPM (Organisasi Papua Merdeka).

Syaikh Taqiyyudin an-Nabhani memaparkan alasan mengapa nasionalisme tidak mampu menjaga persatuan dan kesatuan. Pertama:kualitas ikatannya rendah. Ia tidak mampu mengikat manusia yang satu dengan manusia yang lainnya tatkala mewujudkan persatuan. Kedua: ikatannya hanya bersifat emosional dan muncul secara spontan dari naluri mempertahankan diri,selain adanya peluang selalu berubah-ubah. Ketiga: Ikatan ini bersifat temporal, akan meningkat ketika ada ancaman dari luar, sebaliknya pada saatkeadaan normal atau aman ikatan ini tidak berarti sama sekali. (An-Nabhani,Nizham al-Islam).

Ikatan yang Benar

Di saat manusia dibebaskan untuk mengagungkan egosentrisnya, maka tentu kebinasaan yang akan datang. Nasionalisme yang merupakan produk pemikiran manusia tidak mampu menjawab permasalahan yang dihadapi ummat manusia. Manusia dengan segala kelemahannya memerlukan sebuah konsep dan jalan shohih mewujudkan tujuan (thariqoh) bersama untuk bersatu dalam ikatan pemikiran sehingga berada padarealitas nyata untuk bergerak bersama.

Allah SWT, Tuhan alam semesta beserta segala isinya telah memberikan aturan bagi manusia. Sehingga dengan aturan ini,manusia akan bersatu padu. Manusia yang mengikat diri dalam ikatan ini bagaimanusia yang memagang tali (buhul) yang sangat kuat. “Barangsiapa kafir kepada thaghut dan beriman kepada Allah, makasesungguhnya dia berpegang (teguh) pada buhul tali yang sangat kuat yang tidakakan putus” (QS. Al-Baqarah [2]: 256). Buhul tali yang sangat kokoh ini adalah Laa ilaaha illallaah muhammadur rasulullahWallahu A’lam bis shawab.

Dikutip dari https://www.islampos.com/kekalahan-telak-konsep-dan-pengusung-nasionalisme-85228/

Iklan

1 Comment

  1. Ping balik: Kekalahan Telak Konsep dan Pengusung Nasionalisme | Adilla Nuriman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s