3

Tulisan ini bukanlah synopsis, tapi bisa dibilang sebuah opini yang akan saya sangkut pautkan dengan film yang semalam baru saja saya tonton dan jujur film tersebut adalah yang sudah saya tunggu sejak lama dan belum kesampaian saya saksikan. 3, itulah judul nama film tersebut. Unik dengan hanya judul bertuliskan angka dengan motif pisau dan sedikit bercak darah memiliki makna menarik. Perlu saya pahamkan kepada anda para pembaca bahwa ini bukanlah synopsis, namun tulisan ini hanya sebuah factor pada film di dalamnya yang akan saya sangkut pautkan dengan fakta yang sebenarnya terjadi di sekitar kita. Mari kita simak bersama…

Tersebutlah Indonesia pada tahun 2036 dimana era teknologi tengah berkembang pesat, namun sistem social saat itu memiliki aturan baru, dimana hak asasi manusia sangat dijunjung tinggi sehingga aturan tersebut melahirkan beberapa kebijakan. Diantaranya adalah mengenai pemakaian senjata tajam, termasuk pistol dan senapan yang digunakan kepolisian hanya boleh menggunakan senjata tumpul dan peluru karet untuk melumpuhkan lawan. Maka dimasa itu keperluan berlatih beladiri sangatlah penting tak hanya bagi petugas keamanan negara, tapi juga masyarakat sipil.

Dalam film ini tersebutlah 3 orang pemuda dengan 3 panggilan akrab mereka. Alif, Lam dan Mim. Semasa il ketiga pemuda ini pernah berada di satu pondok pesantren yang sama, menuntut ilmu agama Islam dan ilmu beladiri bersama

Bermula dari Alif, seorang anggota pasukan elit kepolisian yang bertugas memberantas tindak terorisme. Sebagai pasukan penegak hukum, ia sangat menjunjung tinggi kebenaran dan membenci tindakan terorisme yang akan mengacaukan stabilitas negara. Motivasi ia menjadi polisi karena orangtuanya pernah mati oleh sekawanan teroris. Itulah yang menyebabkan ia sangat dendam bahkan ia bertekad untuk mencari pembunuh orang tuanya

Berbeda dengan Lam, jurnalis dari kantor Liberalinesia. Sebagai jurnalis ia juga sangat idealis dalam membuat berita serta mencari fakta. Benar-benar seorang jurnalis yang profeional. Namun dalam setiap berita yang ia angkat selalu mendapat hujat dari atasannya, menganggap tulisan Lam adalah tulisan yang sangat berbahaya, ekstrim, membahayakan perusahaan serta mengandung doktrin dan dogma yang tak layak dikonsumsi masyarakat.

Terakhir adalah Mim, satu-satunya pemuda dari 3 serangkai ini yang menetap di pesantren dan siap menjaga pesantren dari marabahaya.

Dalam film 3 ini muncul titik masalah yang saling berkaitan.

Pertama, Alif menemukan di dalam tubuh kepolisian terjadi sebuah scenario kejam. Ia dapati jendral yang memimpinnya adalah orang yang berada dibalik tindak kasus kejahatan pemboman café yang menewaskan beberapa orang yang diantaranya saat itu ada Alif yang saat itu tengah menunggu Laras, disisi lain ternyata Laras juga adalah anak dari sang jendral yang sebenarnya ditugaskan jendral untuk membom café itu dengan target  para pengunjung yang kebetulan polisi sudah tahu didalamnya ada para politikus, para mahasiswa komunis, anak-anak pejabat korup serta 3 orang santri dari pesantren serta Alif sendiri. Bahkan ditemukan bukti bahwa bentuk yang ditemukan kepolisian bukanlah dari pesantren melainkan oknum polisi itu sendiri.

Disini kita bisa tarik benang dengan keadaan Indonesia saat ini. Kepolisian yang ada saat ini paham bahwa keadaan di Indonesia tengah kacau terutama ditubuh polisi itu sendiri. Kita pernah ingat kasus lucu antara KPK dengan polisi yang saling tangkap, kemudian kasus terorisme yang dialami di tanah papua kala kegiatan shola Ied yang dianggap sah-sah saja sedangkan seseorang yang tengah perjalanan ke masjid langsung dituduh sebagai teroris padahal belum terbukti apa-apa. Polisi sebagai aparat keamanan tidak bisa menampilkan bahwa mana yang benar dan mana yang perlu diberantas.

Kedua, Lam juga mendapati kejanggalan terkait apa yang dialami sahabatnya Alif dan Mim. Curiga dengan bekas bom yang ditemukan di café tempat alif menjadi korban sedangkan benda itu seharusnya hanya ada di pondok pesantren dan tidak mungkin pesantren menjadi tersangka dalam kasus ini. Kemudian atasan kantornya langsung meng-ultimatum Lam karena tulisannya mengangkat kasus bom di café itu janggal menjadi suatu tentangan keras dari atasannya karena takut dengan jabatan dan kepolisian. Lam mendapat ancaman berhenti atau meliput berita lain yang telah disiapkan atasannya. Lam tidak bisa terima karena jiwanya sebagai jurnalis mengharuskan dirinya untuk menulis kebenaran yang ada di depan matanya dan ketika itu adalah hal yang ganjil maka ia akan usut tuntas hingga kebenaran siap untuk dicerna khalayak umum.

Kasus Lam juga tengah dirasakan jurnalis Indonesia serta seluruh dunia. Sebagai pers baik itu secara terorganisir maupun secara individu adalah bersifat independen yang artinya tidak boleh ada kendali dari luar baik itu berupa paksaan, doktrin, dogma serta manipulasi berita. Ia meliput apa yan ada di depannya dan akan menjadi sebuah fakta bila itu fakta dan hanya menjadi opini bila itu hanya sebatas opini. Namun apa yang ada saat ini disekitar kita seakan terbalik dari sifat per situ sendiri. Masing-masing kelompok berita mengusung berita demi tercapainya kepentingan korporasi masing-masing yang ada dibalik perusahaan berita itu. Bila itu buruk akan dipoles jadi baik, yang baik akan dibungkus dalam berita buruk. Kebenaran seakan dibuat bungkam dan para jurnalis dipaksa memakai kacamata kuda. Sehingga idealism pers hanya tertinggal pada kartu pengenalnya saja.

Ketiga, Mim sebagai petinggi pesantren juga dibuat sibuk menahan fitnah dan serangan kepolisian yang mengancam pesantren. Setiap ada kepungan dari pasukan kepolisan, Mim selalu siap dengan sorban dikepalanya yang dililit menutup wajahnya gamis panjangnya. Berusaha meyakinkan bahwa pesantren bukanlah pelaku dari kasus pemboman café. Meski akhirnya terungkap bahwa adanya oknum dari santri yang merupakan antek kepolisian yang berupaya merusak citra pesantren dengan kasus pemboman itu.

Mari kita lihat citra pesantren saat ini. Dicap buruk oleh seluruh masyarakat dan dianggap sebagai sarang teroris. Semua ajaran dianggap sesat bahkan ekstrim hingga patut menjadi pantauan polisi dan militer. Pesantren dianggap sebagai tempat karantina anak-anak preman yang lulusannya akan jadi perakit bom yang mahir dan ahli menghancurkan tanah kelahirannya. Suatu distorsi yang kacau bila dilihat opini masyarakat memandang pesantren. Padahal bila anda tahu seluruh kemerdekaan Indonesia saat ini merupakan hasil dari perjuangan dan tumpah darah para santri. KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari juga sebagai tokoh agama yang mendirikan jamaah dengan banyak pesantren yang menghasilkan lulusan yang luar biasa ilmu pengetahuan dimilikinya sampai saat ini. Yang seharusnya masyarakat dan negara mulai paham bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan memiliki track record yang demikian hebat, bukan menjadi sarang dan sasaran kambing hitam dari kasus terorisme yang ada selama ini yang jelas-jelas tidak terbukti salah.

Sebagai penonton saya akui film ini benar-benar menampilkan tontonan berdasarkan realita yang ada saat ini. Sehingga sebaiknya penonton lainnya paham bahwa dalam film ini tidak hanya menampilkan laga action semata, tapi juga menyajikan sebuah pesan tersirat bahwa inilah keadaan Indonesia saat ini. Aparat keamanan negara dan pers hanya bisa menyimpan idelisme kebenarannya dalam hati sedangkan perbuatan memaksa mereka bertindak apa yang diperintah oleh atasan, sedangkan pesantren sebagai lembaga pendidikan menjadi kambing hitam dari setiap kasus yang ada.

Maka bagi anda yang merasa ini adalah sesuatu yang harus kita ubah maka dibutuhkan suatu perubahan. Bukan hanya perubahan parsial, namun perubahan yang sifatnya menyeluruh. Dari segi pemerintahan, keamanan, sistem sosial, sistem pendidikan dll semua harus dirubah. Dan perubahan itu tak bisa kita lakukan hanya dengan berdiam diri saja. Harus ada kesadaran dalam diri ini untuk lepas dari kunkungan kotak yang selama ini menganggap dirinya benar padahal mengurung kita untuk mencari kebenaran yang ada.

Nah itu adalah opini serta rantai sangkut pautkan dengan fakta yang ada saat ini disekitar kita. Terlepas apakah anda setuju atau tidak dengan tulisan ini. Bila anda ingin tahu lebih jelas bagaimana kerennya beladiri silat, klimaks dan rumitnya kasus yang dialami oleh 3 sahabat ini, silahkan anda tonton film 3 yang telah tayang kemarin malam jam 23.00 . Karena sudah lewat mungkin anda bisa cari atau tonton di youtube.

Ada 1 hal yang saya suka dari film 3 ini. Yaitu ketika istri Lam yang berusaha melindungi anaknya dari serangan polisi jahat. Saat itu ada adegan sang istri melancarkan ilmu beladiri silat yang merupakan ajaran dari sang suami yaitu Lam. Terbesit mungkin keren bila memiliki istri dan anak yang mau mendukung kita para suami ketika tengah dalam keadaan sempit dan susah, apalagi istri kita berkerudung dan hebat dalam beladiri (maaf saya masih jomblo jadi khayalannya kemana-mana hehe).

Selamat membaca dan menonton.

Iklan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s