PANGERAN KACA – BABAK TERAKHIR

Ikhwan kini telah menginjak tahun terakhir di Indonesia. Semua kenangan terangkum dalam bab terakhir kisah ini. Menahan semua rasa sakit yang selama ini diderita atau membela teman-temannya yang ia sayangi selama ini? Pilihan yang akan menjadi taruhan untuk masa depan.

Anna, yang selama ini menjadi bagian dari persahabatan hangat, tidak tahan dengan ketertutupan hatinya selama ini. Akan selalu menjadi Anna yang pengecut dalam melawan hatinya, atau memberontak dan mengungkapkan sejarah selama ini, atau akan pergi untuk selamanya? Sedangkan perjalanan dari kisah ini sebentar lagi akan berakhir, sekolah hanya tersisa kurang dari 1 tahun lagi dan nasib belum tentu mempersatukan mereka.

Inilah akhir dan klimaks dari trilogy kisah pangeran kaca. Pangeran yang tubuhnya rapuh ini akan menjalani hari-hari berkacanya yang penuh dengan retakan yang menandakan apakah kisah ini akan hancur selayaknya kaca yang pecah? Atau tetap menjadi kaca yang rapuh dengan harapan masa depan disana menjadi kaca yang indah?

INILAH KISAH TERAKHIR

 

PANGERAN KACA – BABAK TERAKHIR

PENENTUAN MASA DEPAN

 

Memasuki tahun terakhir SMAN 1 Pamekasan, Ikhwan dan Anna menduduki peringkat pertama dikelas dengan nilai yang tak jauh beda. Sekolah saat itu hampir memberi mereka beasiswa namun dengan kebesaran hati Ikhwan, akhirnya Anna yang mendapatkan beasiswa. Ikhwan sadar ia lahir ditengah keluarga yang terbilang lebih mampu di kota itu, bahkan segalanya bisa ia dapatkan hanya dengan kedipan mata. Sangat tidak adil jika ia harus menerima beasiswa yang notabenenya untuk membantu siswa yang kurang mampu dalam menempuh dunia pendidikan yang biayanya semakin lama semakin tinggi.

Ikhwan adalah anak yang tidak pernah lepas juga dari berita baik di dunia maya maupun televisi, sama seperti kawan mereka Kiki yang setiap hari laptop adalah ciri khas di sekolahnya. Ikhwan sadar selama ini ia seperti berada pada dunia impian, uang ada, otak pintar, keluar negeri mudah, makan sehat pasti dapat, hidup terjamin. Meski penyakit jantung yang ia alami masih mambayang namun keluarganya mudah saja langsung membawanya ke rumah sakit terkemuka baik itu didalam maupun luar negeri. Operasi dengan biaya selangit-pun pasti orangtuanya akan membiayainya dengan mudah. Dengan keadaan seperti itu sangat tidak pantas bila ia menerima beasiswa. Maka ia pun berkaca pada sahabatnya Anna.

Anna hanyalah seorang anak gadis dari 2 bersaudara yang tinggal sederhana di daerah pinggiran kota Pamekasan. Ayahnya adalah buruh petani garam yang bekerja di daerah Sampang dan pulang pun hanya 1 minggu sekali. Sang ibunda hanya penjual sayur dipasar dengan pendapatan yang pas-pas an, bahkan pas sekali untuk makan, sekolah dan hidup. Adiknya pun yang masih berusia bulanan dan itupun setiap hari dibawa sang ibu ke pasar. Sempat Anna terpikir untuk berhenti sekolah dan membantu ibunya dipasar, namun sang bunda malah memarahi. Kehidupan yang benar-benar mencekik.

Ikhwan yang mengetahui hal tersebut langsung merelakan beasiswa yang telah ia dapatkan untuk sahabatnya. Meski harus mendapatkan cemooh atau desahan dari berbagai pihak tapi itu tidak mengubah pemikiran Ikhwan. Anna yang saat itu sudah sangat terjepit keadaanya begitu bersyukur melihat Ikhwan yang di matanya bagai pangeran memberi pertolongan yang benar-benar pas dengan situasi saat itu. Anna sudah yakin bahwa pria yang telah memberinya secercah kehidupan itu sangat pas dipanggil pangeran, itulah Ikhwan. Pemikiran, wibawa, kerendahan hati dan masih banyak lagi hal yang membuat Anna.

Dua tahun sudah ia bersama dalam lingkup persahabatan. Meski ingin menyatakan perasaan yang selama ini, namun ia juga belum melihat celah dimana hati Ikhwan ingin menerima ia saat ini. Ia masih berpikir kelanjutan persahabatan mereka yang sudah dibangun selama ini akan runtuh bila ia katakan perasaannya mengingat ia adalah perempuan satu-satunya. Anna takut malah akan menyakiti Kiki yang selama ini juga sudah membantunya meredakan emosinya saat menghadapi sikap Ikhwan, meski akhirnya ia sadar juga ternyata yang dilakukan Ikhwan itu benar. Sekarang sudah menginjak tahun terakhir di SMA dan Ikhwan pernah berkata setelah lulus ia akan melanjutkan pendidikannya di Jerman. Kiki mendengar itu langsung kagum dan mendukung karena memang  Ikhwan sudah pernah menjadi juara umum di sekolah serta sering memenangkan kejuaraan untuk sekolahnya yang sedari dulu tidak pernah memegang piala kemenangan.

Namun Anna? Ia berharap mungkin ia berada diluar kota saja untuk melanjutkan kuliah sudah cukup sakit, tapi untuk diluar negeri? Anna sempat bertanya mengapa ia tidak di Indonesia saja dan Ikhwan menjawab, “Aku disana karena memang aku berniat untuk menuntut ilmu. Jika aku harus berkutat lagi di negeri ini maka aku tidak akan pernah tahu dalamnya ilmu dan luasnya bumi ini”. Dengan senyumnya, Anna yang awalnya sedikit sakit kini mulai sedikit tenang. Meski ketika dirumah tangisannya langsung meledak. Makan lupa, shalat terlambat, hampir seharian itu ia di kamarnya. Tak rela harus berpisah dengan Ikhwan. Melihat Ikhwan sakit saja sudah mengiris hatinya apalagi harus berada di luar negeri. Untungnya ia mendengar berita tersebut pada hari jum’at dan sabtu memang sekolah libur sehigga Anna memiliki waktu 2 hari 3 malam untuk memuaskan rasa sedihnya dan hari senin pun akhirnya ia bisa kembali seperti biasa meski hatinya tetap memendam kesedihan sebelumnya.

Di tahun ini secara kebetulan 3 sahabat ini kembali bersama dalam satu kelas. Namun ditahun tersebut muncul keanehan. Suatu hari masuklah seorang anak baru, meski ia tidak masuk ke kelas yang sama dengan Ikhwan dan Anna. Panggil saja namanya Jaka. Jaka adalah anak IPS dengan penampilannya yang sangat berandalan namun trendy dengan gaya rambut model jepang dengan di cat sedikit coklat, namun bila kalian melihat kelakuannya sangatlah buruk. Baru masuk mungkin masih pendiam namun saat istirahat muncul sifat buruknya. Mulai mendeklarasikan dirinya sebagai murid terkuat, seperti pada karakter Genji pada film “Crows”. Teman-teman disekitarnya tidak mengidahkannya namun setelah sadar seperti itu Jaka langsung memicu perkelahian hebat. Alasannya sederhana, siapa yang lebih kuat dia yang menguasai sekolah. Pada dasarnya SMAN 1 Pamekasan tidak pernah tersentuh kasus perkelahian karena memang sudah menjadi adatnya untuk saling menghormati satu sama lain. Namun dengan adanya pemicu bom perkelahian, mau tidak mau Jaka harus diberi pelajaran karena sudah menjadi adatnya pula orang Madura bila ditantang soal kejantanan harus maju. Tak tanggung-tanggung, 18 orang langsung ia taklukan. Sesaat seorang guru langsung menarik Jaka dan beberapa anak yang lainnya untuk di bawa ke ruang bimbingan. Dan jawaban pertama yang ia lontarkan sebagai alasan adalah karena ia ingin menunjukkan kekeuatannya. Tersentak para guru dan murid yang mendengar di ruangan tersebut mendengar jawaban seorang siswa baru. Padahal tampan namun perangainya tidak mencerminkan sifatnya. Sebagai hukuman awal karena ia baru masuk pada hari itu, maka ia diwajibkan mengikuti ekskul Rohis. Dengan santai Jaka meng-iya-kan hukuman tersebut.

Ikhwan dan Anna yang mendengar rumor tersebut dari kawasan kelas IPA awalnya tidak terganggu karena setiap tahun bila ada anak yang bermasalah pasti akan di tampung dahulu di ekskul rohis untuk di bombing menjadi lebih baik lagi (secara kasar kita sebut ruqyah meski bukan setan/jin yang dihadapi). Namun suasana berubah saat yang datang adalah Jaka atau nama lengkapnya Ahmad Zakaria. Biasanya jika murid lainnya saat mendapat hukuman untuk memasuki ekskul Rohis mereka pasti akan dating dengan sopan dan memakai baju muslimah (seperti baju koko bagi pria dan jilbab serta kerudung untuk perempuan) namun tidak bagi Jaka. Sudah datang terlambat, memakai baju seperti anak gaul jepang dengan gaya super nyentrik, datang tanpa mengucapkan salam, bahkan berteriak seperti ingin menantang berkelahi.

“Jadi ini Rohis, malas saya paaaak !!! “ teriak Jaka saat itu.

Tersentak semua anggota langsung melihat keluar masjid untuk melihat siapa diluar, dan orang tersebut langsung di hampiri oleh 3 orang pengurus masjid yang merupakan adik kelas Ikhwan. Awalnya berniat untuk meredakan keadaan dan ingin mengajak Jaka untuk masuk ke masjid, namun saat salah satu dari mereka ingin merangkul Jaka ternyata itu adalah sebuah boomerang untuk memicu perkelahian. Saat tangan dari anak tersebut hendak merangkul, malah ditariknya dan di bantingnya tubuh anak tersebut tanpa beban. Wajah kejam pun mulai muncul pada Jaka. “Ayo siapa lagi yang mau bernasib sama? Ingin tulang mana yang saya patahkan hah?” Tanya Jaka. Saat itu mau tidak mau rekan-rekan dari anak tersebut mencoba untuk memukul balik karena sudah terpancing emosi, namun benar saja mereka semua langsung jatuh dengan keadaan lengan dan bahu mereka patah. Anna dari lantai atas mesjid melihat Jaka merasa ingin memukul, padahal tangannya sudah mengepal dan siap untuk meloncat. Tapi tak disangka seorang pemuda dengan peci hitam dan baju koko hijau celana panjang hitam dengan cepat langsung mengunci tangan Jaka. Tak lain sang pangeran Ikhwan.

“Maaf mas jika ingin berkelahi diluar sekolah saja, ini adalah tempat untuk menimba ilmu agama serta beribadah”, kata Ikhwan dengan wajah tenang dan senyumnya.

“Sampean jago juga nih, ayo yang lebih seru!!! “ Teriak Jaka sambil berusaha melepaskan belitan tangan Ikhwan. Namun tak sampai 3 detik Ikhwan menjatuhkan Jaka dan mengarahkan tinjunya ke depan muka Jaka.

“Keluar dari sini” , kata Ikhwan dengan  senyum yang menakutkan.

Jaka langsung terdiam. Pelan-pelan berdiri dan kemuadian langsung menjauhi Ikhwan dengan tatapan tajam pada Ikhwan. Sambil menggerutu, Jaka langsung pergi dari area masjid. Anna dari lantai atas masjid merasa lega melihat akhirnya keributan tersebut berakhir dan Ikhwan tidak harus berakhir dengan kambuhnya penyakit jantungnya. Setelah kejadian tersebut kegiatan rohis-pun dilanjutkan. Namun dilain pihak, Jaka menyimpan dendam karena dengan mudah ditaklukan seperti itu dihadapan banyak orang.

Seusai keributan tersebut Ikhwan juga tak lupa memeriksa teman-temannya yang tadi telah dilukai Jaka. Beruntung tulang mereka tidak patah, hanya sedikit bergeser. Namun bila keributan tadi  tidak segera dihentikan sudah pasti rumah sakit adalah alamat berikutnya untuk kawan kita. Anna yang saat itu juga mencoba mengobati juga menyadari hal tersebut dan pastinya Jaka bukanlah anak biasa, kemampuan beladiri yang tidak biasa, kelakuannya yang brutal pastinya bukan hal yang bisa dianggap sepele. Dilihat dari gerakannya juga pasti dia sudah sangat berpengalaman dalam berkelahi. Dilihat dari kasus-kasus sebelumnya Jaka juga sering membuat keributan setelah ia mendapat hukuman dan rata-rata korbannya tidak hanya luka memar, ada yang keseleo, patah tulang, dan anehnya ia bisa membungkam saksi maupun korban untuk tidak mengadukannya pada guru lagi.

“Wah, kamu berani sekali tadi yah Ikhwan Hakim, lihat aja suatu saat aku akan membalas dengan lebih keras lagi”, gumam Jaka. Sampai di sebuah sudut jalan ia melihat segerombolan pemuda yang tengah berkumpul. Sepertinya mereka tengah asyik bermain judi dilihat dari keramaian ditempat tersebut serta benda yang mereka pakai, kartu remi. Dilihat dari penampilannya gerombolan tersebut memiliki badan besar dengan tampang tak teratur. Seketika Jaka memiliki akal. “Siapa disini jagoannya?” dengan nada lantang.

“Bocah? Wes pulang saja kamu”, jawab salah satu dari para preman.

Jaka menendang salah satu preman dengan santainya juga. “Loh nantang kamu toh?” Seketika 7 orang preman sudah babak belur. Jaka saat itu hanya berbekas debu saja akibat jatuhnya seluruh rombangan preman. “Ampun mas, ampun jangan pukul kami lagi”, dengan nada memelas mereka berlutut didepan  Jaka. “Ya, saya akan ampuni kalian jika kalian mau jadi anak buah saya”, dengan wajah yang licik ia langsung mengacungkan dua pisau yang mengarah pada leher kedua orang preman  tersebut sambil berkata, “Jika tidak, aku akan bermain dengan leher kalian masing-masing”.

“Ampung mas, kami akan mengikuti sampeyan”. Muka licik Jaka berubah menjadi lebih mengerikan seakan sebuah rencana besar telah ia siapkan.

“Keesokan harinya, bertepatan dengan hari ahad. Anna berencana mengantar kepergian Ikhwan yang akan berangkat ke Jakarta demi pemeriksaan rutin. Tak disangka ketika Anna tiba di depan pagar Ikhwan kebetulan keluar dari pintu rumahnya menuju mobil. Seketika setelah Ikhwan melihat Anna, ia langsung meminta mamanya agar mengizinkan Anna bisa ikut.

“Ma, aku boleh yah ajak Anna kali ini”.

“Maksud kamu ikut kita ke Jakarta?” dengan wajah keheranan karena baru kali ini anak semata wayangnya mengajak orang lain, meski ia adalah sahabat dekat Ikhwan yang sedari dulu mamanya sudah akrab.

“Iya ma, Ikhwan sedang ingin ada yang menemani dan kebetulan sekali Anna yang dating, boleh yah ma Ikhwan ajak Anna hari ini saja ke Jakarta”. Dengan senang hati sang mama menganggukkan kepala tanda setuju. Memang sudah lama setiap Ikhwan akan berangkat menuju Jakarta, Kiki dan Anna akan datang kerumah untuk sekedar mendukung Ikhwan agar ia tetap semangat ditengah perihnya sakit yang ia derita, namun semenjak kelas XII, Kiki tidak bisa selalu ikut karena ia sudah mulai sering berdagang untuk mempersiapkan biaya untuk kuliah seusai nantinya ia lulus sekolah.

Segera setelah mendapat persetujuan, mama Ikhwan langsung masuk ke dalam mobil dan sang supir pribadi mengeluarkan mobil dari garasi, sedangkan Ikhwan sendiri langsung mengajak Anna. “Na, ayo ikut aku ke Jakarta tuk temani aku”, dengan wajah yang ceria sembari ia membukakan pintu  pagar.

“Ah kamu ini suka bercanda saja”, jawab Anna dengan wajah sedikit heran.

“Iya benar koq, aku lagi ingin ada yang menemani untuk ke Jakarta hari ini, kebetulan ayahku hari ini tidak bisa menemaniku sehingga tersisa satu tiket pesawat, daripada dianggap hangus lebih baik aku mengajak kamu Anna. Lagipula aku sedang ingin ditemani seorang teman”.

Dengan wajah sedikit bingung Anna langsung mengeluarkan ponsel dan menelpon orangtuanya. Memang hari ini Anna sedang tidak diberi tugas dalam menjaga dagangan di pasar karena kebetulan perekonomian Anna mulai lebih baik semenjak beberapa waktu yang lalu sehingga keluarganya bisa tetap membuka kios dagangan dengan memperkerjakan beberapa karyawan baru untuk melayani pembeli dan orangtua Anna cukup mengawasi saja disana. Setelah pembicaraan cukup lama, Ikhwan bisa menebak wajah Anna yang cukup kecewa. Segera Ikhwan merebut ponsel Anna sambil menghidupkan loudspeaker agar Anna bisa ikut mendengarkan dan berbicara dengan orangtua Anna yang ternyata dari suaranya itu adalah ibunda Anna.

“Assalamu’alaikum”.

“Waalaikumsalam, eh nak Ikhwan??? Beneran ini nak Ikhwan???”

“Iya bu ini saya Ikhwan. Oya bu saya boleh yah mengajak Anna ke Jakarta. Nanti sore atau ba’da maghrib Anna saya langsung antar pulang koq. Boleh yah bu???” jawab ikhwan dengan santun.

“Yasudah jika nak Ikhwan yang mengajak Anna, saya tidak khawatir. Tolong jaga Anna baik-baik ya.” Jawab sang ibunda Anna dengan ikhlas.

Anna yang mendengar percakapan Ikhwan merasa lega. Segera Anna juga ikut masuk kedalam mobil. Ini pertama kalinya Anna bisa pergi ke kota besar selain Surabaya atau Malang. Dibenaknya ia membayangkan sebuah kota megah nan mewah seperti yang sering ia lihat di televise selama ini. Wajah para wanita yang cantik-cantik, mobil-mobil mewah, gedung pencakar langit yang gagah dan semua keindahan kota yang pastinya akan membuatnya berdecak kagum. Ini juga pertama kalinya Anna bisa merasakan naik pesawat terbang. Selama ini ia hanya tahu rasanya menaiki kendaraan yang orang kampungpun bisa ikut seperti kapal penyebrangan (itupun sebelum jembatan Suramadu selesai dibangun), lalu kereta, dan juga bus antar kota. Sebuah pengalaman baru bagi seorang anak pinggiran kota yang bahkan kotanya sendiri tak sebesar kota-kota besar yang digambarkan di media maya selama ini.

Perjalanan diawali menuju Bandara Juanda Surabaya yang memakan waktu kurang lebih 3 jam dari kota Pamekasan (beruntung waktu bisa lebih cepat karena saat itu rombongan Ikhwan berangkat jam 4.30 karena di letak Pulau Madura yang terletak di timur Provinsi Jawa membuat matahari lebih cepat terbit, ditambah lagi dengan kondisi jalan yang masih lengang sehingga mempercepat perjalanan). Setelah sampai di Bandara Juanda, Anna keluar dari mobil dengan pikiran kagum karena melihat sebuah tempat yang bahkan lebih besar daripada Pelabuhan Kamal. Disana orang-orang kesana kemari membawa koper besar seperti seorang traveler. Bagian dalam dari bandara itu sendiri lebih keren diabndingkan stasiun kereta yang pernah ia datangi di Surabaya. Sebelum masuk kita harus diperiksa terlebih dahulu oleh metal detector laya Demikian juga ketika waktu untuk menaiki pesawat telah tiba, ketika Anna baru menginjakkan kakinya di lapangan Bandar udara, ia melihat keperkasaan burung besi yang tengah parker disana da nada pula yang tengah take-off. Dan decak kagum Anna semakin meningkat setelah melihat bagian dalam pesawat itu sendiri. Mewah, nyaman, kursi penumpangnya lebih empuk dibandingkan kursi kereta eksekutif, AC yang sejuk, bahkan ada layar LCD yang menampilkan tayangan televisi dan browsing internet serta kursi penumpang canggih yang menghadirkan fasilitas seperti meja untuk makan, dan meputar MP3. Anna yang sedari awal sudah seperti orang norak hanya bisa mengikuti apa yang dilakukan Ikhwan seperti sekedar menunggu dan mengikuti saja. Ikhwan yang melihat Anna awalnya biasa saja, namun setelah sampai masuk ke dalam bandara melihat Anna yang berjalan semakin lambat karena tercengan melihat keindahan bandara Juanda membuat Ikhwan tak bisa menahan rasa tawanya. Dengan santainya Ikhwan langsung menjelaskan satu persatu bagian dari bandara itu sendiri maupun saat di pesawat.

Anna semakin jatuh hati melihat kerendahan hati Ikhwan yang mau menjelaskan hal-hal asing baginya disana. Tanpa adanya ledekan atau semacamnya, sangat baik dan santun pula. Berbeda bila ia tengah bertamasya atau jalan-jalan dengan teman-teman sesama perempuan yang lainnya, pasti Anna akan diledek duluan karena wajar Anna sepanjang harinya selalu bersinggungan dengan pasar bukan kota besar.

Ketika didalam pesawat, muncullah seorang pramugari yang memberi instruksi, Anna dengan tegang mulai mencari-cari bagian yang ditunjuk sang pramugari seperti pelampung, masker pernafasan dll. Untungnya kelakuan Anna tidak menarik perhatian awak kapal yang lainnya. Ikhwan segera menenangkannya dengan lembut. “Na, kamu tenang aja tidak perlu tegang”. Anna saat itu hanya bisa terdiam mengangguk saja melihat Ikhwan.  Saat pesawat mulai melakukan warming, Anna terlihat semakin tegang padahal saat itu pesawat belum take-off. Bahkan Anna sampai lupa dengan pesan intruktur tadi untuk segera memasang sabuk pengaman sebelum pesawat benar-benar take-off.

“Anna, ayo dipakai dulu sabuk pengamannya agar tidak terjadi apa-apa”, dengan santunnya Ikhwan mengingatkan Anna.

“Hah? Oh yah saya lupa”, jawab Anna sambil seperti kebingungan, segera setelah memasang sabuk pengamannya.

Tak lama setelah itu pesawatpun mulai melakukan take-off. Saat pesawat mulai mendorong ke langit, Anna saat itu mulai benar-benar tegang dan hanya bisa menutup mata karena suara mesin pendorong kapal terbang yang ia pikir peluncurannya akan mengerikan. Ibu Ikhwan yang sedari tadi pula memperhatikan sahabat karib anaknya ini menegur Ikhwan. “Wan, itu temanmu ditenangkan, kasihan mama melihatnya begitu ketakutan seperti itu dari tadi”, pinta mamanya.

“Ya mama”, jawab Ikhwan.

Dengan sebatang sedotan kecil dari air minum mineral yang ia kantongi, Ikhwan menghembuskan tiupan kecil ke wajah Anna. Sekejap Anna segera membuka matanya dan melirik Ikhwan. “Anna coba lihat ke jendela”, dengan tersenyum sambil menunjuk kea rah jendela. Mata Anna mulai takjub dengan sebuah pemandangan yang indah dari atas pesawat terhampar luasnya bandara yang semakin lama semakin mengecil serta jalan raya yang awalnya begitu luas kini hanya seperti kabel kecil yang dilalui semut-semut kecil berwujud kendaraan mobil dan kendaraan darat lainnya. Tak berhenti sampai disitu saja, saat pesawat mencapai ketinggian diatas 1000 meter daratan mulai tak terlihat dan ia dapat melihat indahnya hiasan langit berbentuk kapas putih, ya itulah awan.

“Kamu baru pertama kalinya yah melihat pemandangan langit?”

“Iya Wan, indah sekali yah ternyata. Ingin sekali aku memeluk awan-awan ini sebagai bantal tidurku”, dengan senangnya sambil memeluk tubuhnya sendiri bagai sebuah impian kecil menjadi kenyataan. Dengan senyuman yang hangat Ikhwan menganggukkan kepalanya. “Nikmati saja penerbangan kali ini yah, aku ingin beristirahat dahulu”.

Ikhwan-pun mulai tertidur, tak lama ada pengumuman agar penumpang bisa melepas sabuk pengamannya. Anna-pun mulai mencoba melepaskan sabuk tersebut namun tak kunjung lepas. “Sabuk macam apa ini?? Sulit sekali dilepas. Jika sabuk seperti ini ada di Madura, sudah pasti akan hancur kurang dari 3 menit karena rumit dan susahnya”, gumam hati Anna dengan sedikit kesal. Terpaksa Anna membangunkan Ikhwan dengan muka tersipu malu. “Wan, bangun dong bantuin aku….”.

Dengan lucunya Ikhwan sebenarnya sudah menyadari dari awal pasti Anna tak bisa melepaskan sabuk itu sehingga untuk berjaga-jaga ia sengaja tidak benar-benar menutup matanya sambil sesekali mengitip jika saja Anna akan membangunkannya. Dan benar saja Anna ternyata mengalami kesulitan. Sambil tertawa kecil Ikhwan langsung melepaskan ikatan sabuk pengaman dari Anna yang tengah tersipu malu. “Wan, sepertinya saya sudah membuatmu malu di pesawat ini”, jawab Anna sambil menahan malu. “Tidak kok, anggap saja ini pelajaran untuk lain waktu bila kamu akan naik pesawat lagi” tanpa Ikhwan mengurangi rasa friendly-nya sambil tersenyum. Seketika Anna tersenyum lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela pesawat.

Lamunannya melayang seakan bersama ringannya awan-awan dilangit. Berangan suatu hari Ikhwan bisa menjadi kekasihnya, pasti ia akan sangat bahagia. Cinta remaja yang sederhana namun sangat didambakan oleh gadis yang telah lama mengimpikan sang pangeran kaca, meski rapuh namun keindahannya mencerminkan segala keindahan dimasa depan yang berbunga-bunga. Masih terkenang dibenaknya kala ia pertama kali memeluk orang yang ia sayang karena takut berpisah darinya. Kala itu kelas X (10) SMA menciptakan momen yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Seseorang yang ia anggap menyebalkan dan sok tahu berbalik menjadi pangeran mimpi dalam penghias tidurnya hingga sekarang. Pelukan itu, meski tak lebih dari 10 detik namun rasa dan kenangan itu tak pernah ia lupakan karena itu juga merupakan pelukan perdananya kepada lawan jenis yang sangat ia dambakan. Setiap sujudnya, Anna terus mendoakan keselamatan dan kesembuhan sang pangeran. Serta suatu hari nanti cintanya terbalaskan karena selama ini ia hanya bisa berharap Ikhwan menyadari perasaannya selama ini.

Tak terasa lamunannya membawa Anna terlelap hingga ia tersadar saat itu pesawat akan landing ketika Ikhwan membangunkannya. Anna langsung melihat ke luar jendela pesawat dan melihat pemandangan menakjubkan, sebuah bandar udara internasional yang megah, Soekarno-Hatta. Semakin besar keinginan Anna untuk melihat ibukota yang menjanjikan kemewahan.

“Nah Na, kita sudah sampai di Jakarta”, jelas Ikhwan pada Anna yang masih takjub akan tempat ia berpijak saat ini. “Iya Wan, saya sudah tak sabar untuk melihat pusat kota”, jawab Anna dengan wajah bahagia. Setelah keluar dari bandara, mereka langsung dijemput supir pribadi (maklum karena ayah Ikhwan adalah pejabat Negara sehingga ia memiliki pembantu disetiap daerah bahkan di negara-negara tempat ayahnya bekerja). Saat akan memasuki mobil, Anna memilih untuk dekat dengan jendela mobil.

Mulai meninggalkan bandara, sejengkal demi sejengkal, setiap meter yang mereka lewati membuat Anna tak mau melewatkan momen penting baginya berada di kota Jakarta. Benar saja, disini ia bisa melihat banyak jalan layang terbentang dimana-mana bahkan lebih banyak dibandingkan di kota Surabaya ditambah hiasan mobil-mobil mewah yang melaluinya. Gedung-gedung besar pencakar langit yang megah berupa kantor-kantor dan apartemen serta mall yang sangatlah banyak. “Anna, kamu jangan kagum seperti itu dong, kamu belum lihat saja sisi lain dari Jakarta”, jelas ikhwan saat itu namun Anna tak menanggapi dan terus melihat keindahan kota. Tak terasa setelah itu mobil langsung berhenti yang ternyata jalan saat itu tengah macet. Anna berpikir mungkin ini akan berlangsung tak lama toh ini adalah jalan tol, mana mungkin ada kemacetan. Jikalau ada juga pasti takkan lama lagi akan langsung lancer seperti tadi. Namun perkiraan Anna salah, mobil memang berjalan lancar namun dengan tempo yang sangatlah lambat layaknya siput merayap. “Wan kok macet sih? Bukankah ini ibukota?” dengan wajah keheranan Anna sambil menunjuk ke arah jalanan yang tengah macet. Ikhwan pun menjawab dengan nada sedikit tertawa, “Inilah sebagian Jakarta, kamu boleh melihat Jakarta itu indah, megah, metropolis dll. Tapi dibalik itu kota ini juga memiliki segudang masalah. Macet hanya 1 dari sejuta masalah yang baru kamu hadapi Na”.Mendengar hal itu Anna kembali terdiam. Wajah gembiranya kini berkurang karena kota yang ia idam-idamkan tak ada bedanya dengan kota besar seperti Surabaya atau Malang.

Tepat pukul 11.00 mereka sampai ke sebuah rumah sakit. Setelah melakukan pendaftaran mereka menunggu waktu dipanggilnya Ikhwan untuk pemeriksaan. Sesekali Anna melihat Jadwal pemeriksaan Ikhwan, serangkaian pemeriksaan dimulai dari CT Scan, tes elektrolit darah, analisis gas darah, ECG, serta serangkaian tes radiologi, dll yang bila dibayangkan sepertinya rumit dan mengerikan. Anna yang akan menghadapi suntik imunisasi saja sudah seperti menghadapi mimpi buruk untuk tubuhnya, apalagi bila harus melewati pemeriksaan seperti Ikhwan.

Pukul 11.30 , Ikhwan mulai meninggalkan Anna untuk melakukan serangkaian pemeriksaan. Anna saat itu tersenyum saat melihat Ikhwan mulai masuk ke ruang pemeriksaan, kemudian ia diajak mama Ikhwan untuk makan siang di restoran. Awalnya Anna menolak karena pasti akan merepotkan beliau bila harus membayarinya makan disana, namun karena dipaksa mau tidak mau Anna hanya bisa ikut saja.

Anna kemudian diajak ke sebuah restoran yang ada di rumah sakit tersebut. Setelah memesan makanan, mama Ikhwan langsung memulai pembicaraan yang sebenarnya baru pertama kalinya antara Anna sendiri dengan beliau. “Kamu sahabat yang baik yah untuk anak saya”, kata mama Ikhwan yang saat itu sambil menyantap makanan lebih dulu. Anna pun menjawab sambil tersipu malu, “Ah ibu ini bisa saja, saya hanya ingin tetap menjaga pertemanan kami bu”.

“Beruntung yah anak saya bisa berteman baik dengan kalian, tidak seperti dulu….”

“Maksud ibu bagaimana dengan dulu?” dengan penuh keheranan.

“Pasti kamu belum pernah diceritakan Ikhwan yah? Dulu anak saya itu seperti artis lho Na”, jawab mama Ikhwan sambil tersenyum seperti membayangkan sesuatu.

“Hah? Artis? Saya belum tahu akan hal itu”, semakin meningkatlah rasa penasaran Anna saat itu.

Mama Ikhwan lalu memegang tangan Anna, “Namun kamu harus janji untuk tetap menjaga anak semata wayang kami”.

Anna pun menganggukkan kepalanya dan mama Ikhwan-pun mulai bercerita. “Sejak kecil Ikhwan selalu menjadi yang teratas dalam bidang akademik maupun diluar itu, seperti lomba adzan, tartil Qur’an dan lain sebagainya. Karena kepandaiannya itulah Ikhwan selalu mendapat banyak teman baik itu diluar maupun didalam negeri. Saya dan papanya sangatlah bangga memiliki anak sepintar dan sepopuler Ikhwan, padahal kami hanya keluarga biasa yang hanya bisa berpindah-pindah tempat tinggal bila papanya Ikhwan dipindah tugas. Sayangnya Ikhwan tak pernah seperti sekarang…”

“Maksud ibu tidak seperti sekarang??” Potong Anna.

“Iya, anak saya dipopulerkan hanya karena ia pintar dan terlalu baik. Sehingga tak jarang temannya hanya datang bila dibutuhkan saja seperti ingin diajari PR atau ulangan bahkan saat bermain yang membutuhkan pemain yang jago saja. Jarang saya melihat Ikhwan tersenyum lepas didepan teman-temannya. Bahkan saat anak saya divonis mengidap penyakit jantung turunan dari kakeknya, anak saya semakin terpojokkan karena Ikhwan tak bisa lagi ikut olahraga ataupun bermain dengan yang lainnya. Namun semenjak memasuki SMA dan bertemu kamu dan Kiki, Ikhwan menjadi lebih semangat dan ceria kembali.

Memang ada benarnya dari cerita itu. Dulu Ikhwan tak terbiasa dekat dengan teman-teman yang lainnya. Raut wajahnya yang selalu termenung menggambarkan dimasa lalu ia memiliki. Seolah-olah ia kurang bisa akrab dengan yang lainnya. Meski ia selalu ramah dan baik dengan yang lainnya, tetap saja ia tak bisa membuang muka dinginnya. Setelah Ikhwan bisa berteman baik dengan Kiki dan Anna, Ikhwan akhirnya bisa lebih ceria lagi seperti anak-anak yang lainnya.

“Kamu tolong jaga anak saya yah, jangan sampai terjadi dengan Ikhwan karena dia satu-satunya anak saya”, kata ibunda Ikhwan dengan tatapan serius ke Anna. “Iya bu, saya dan Kiki akan menjaga Ikhwan dengan baik”, jawab Anna untuk menenangkan beliau. Senyum akhirnya merekah pada wajah ibunda Ikhwan. “Terima kasih ya Anna, kini saya tenang dengan anak saya. Oya kira-kira nantinya kamu setelah lulus akan melanjutkan study kemana?”

Anna-pun menjawab, “Insya Allah saya akan melanjutkan ke IAIN Sunan Ampel Surabaya bu, kalau Ikhwan dimana bu?”

“Ikhwan beberapa waktu yang lalu ingin kuliah di Jerman untuk mengambil jurusan Information Technology sembari menyembuhkan penyakit jantungnya disana”.

Anna tersentak kaget dalam hati. Sebentar lagi ia akan semakin jauh saja jaraknya dengan Ikhwan. Saat kelas X mungkin telah terlewati saat ia akan pindah ke Inggris, namun untuk yang satu ini sudah pasti mutlak. “Kenapa tidak di Indonesia saja bu? Bukankah di Indonesia sendiri masih banyak universitas yang bagus?” Lalu ibunda Ikhwan menjawab, “Memang universitas di Indonesia bagus-bagus, namun Ikhwan ingin sungguh menuntut ilmu dan juga mengakhiri penyakitnya karena di Jerman ada rumah sakit terkemuka yang mungkin bisa menyembuhkan penyakit jantung Ikhwan”.

Anna-pun langsung mengakhiri makan siangnya dan meminta izin untuk Shalat Zuhur karena tepat saat itu pula azan berkumandang. Sambil menahan air mata, ia pun langsung berlari menuju mesjid di rumah sakit itu. Dan kembali lagi, setelah ia menyelasaikan Sholat Zuhur, ia kembali bersujud dan menumpahkan kesedihannya. Tak kuasa menghadapi kenyataan sahabat tercintanya kali ini akan benar-benar pergi karena pilihan ia sendiri. Berharap pemilik dunia ini mendengar segala kesedihannya kala itu. Anna berharap agar sekali lagi mukjizat kembali dating kala kelas sepuluh yang lalu terulang kembali agar ia tak harus berpisah.

Segera setelah keluar dari masjid, Anna langsung menghapus bekas air mata dan menyusul ke tempat Ikhwan. Setelah sampai ternyata Ikhwan kebetulan sudah sampai. Bukan berarti pemeriksaan Ikhwan memang cepat, namun ini dikarenakan Anna yang terlalu lama di masjid sehingga Anna tak perlu menunggu lama-lama dan sesampainya ia di ruang tunggu, kebetulan Ikhwan juga sudah menyelesaikan pemeriksaannya. Hasil memang menunjukkan kondisi jantung Ikhwan stabil, namun bila tidak ditindak lanjuti segera dalam kurun waktu satu tahun ini maka ada kemungkinan jantungnya tak akan bertahan lama. Mendengar diagnosa itu, Anna dalam hati semakin takut akan berpisahnya ia dengan Ikhwan. Dengan menyembunyikan kesedihannya, Anna tetap tersenyum dan memberi semangat agar Ikhwan tetap optimis bahwa ia bisa sembuh suatu hari nanti.

Pada perjalanan pulang kala dalam pesawat, Anna memberanikan diri bertanya. “Wan, aku boleh Tanya sesuatu kepadamu?”

“Boleh saja, memang kamu ingin bertanya apa Na?”

“Rencananya kamu setelah lulus SMA akan melanjutkan kemana?” Tanya Anna dengan penuh kepenasaranan apakah benar Ikhwan yang menginginkan kuliah di Jerman.

“Aku ingin kuliah di luar negeri, antara di Jerman atau di Jepang agar aku bisa menyaingi ilmu computer dan teknologi Kiki. Aku saja kalah saing bila dalam pelajaran computer, Kiki selalu bisa lebih hebat diabandingkan kita lho Na. Maka dari itulah aku ingin kuliah bersama Kiki di luar negeri, dan disana aku pasti akan mengalahkan saingan baruku itu”, jawab Ikhwan dengan penuh semangat.

“Wah hebat yah, aku dukung impian kamu Wan”, jawab Anna. Ini sudah kesekian kalinya ia harus menjadi berwajah dua. Didepan Ikhwan ia harus tetap seperti gadis ceria yang tegar dan kuat, namun dibalik itu ia benar-benar hancur karena tekad Ikhwan sendiri. Sudah pasti ia akan berpisah untuk waktu yang tak akan sebentar. Perjalanan pesawat yang Anna kagumi kini hanya tersisa kesedihan mendalam.

Tepat pukul 17.00 akhirnya Anna sampai di rumahnya karena setelah diantarkan langsung juga oleh keluarga Ikhwan. Setelah berpamitan, Anna yang tadinya berwajah ceria langsung berubah bermuram durja. Orang tua Anna yang tadinya ingin menyambut Anna dengan suka cita karena anaknya berhasil menaiki kendaraan umum yang sifatnya sangat terbatas dan khusus kalangan atas, namun setelah melihat wajah Anna, orangtua Anna langsung bertanya-tanya ada apakah yang terjadi pada sang buah hati. Tak mengucapkan sepatah kata, Anna langsung masuk kekamarnya. Sekali lagi ia benar-benar hancur seperti kelas X. Ia takut kehilangan orang yang ia sayangi sedari dulu. Ikhwan adalah alasan mengapa ia bisa berubah sampai sejauh ini. Bohong bila ia tak memasukkan nama Ikhwan dalam do’anya setiap sholat agar isi hatinya bisa tersampaikan kepada sang pangeran. Sampai melewatkan makan malam-pun Anna bahkan tak merasakan kelaparan, karena yang ia rasakan saat ini adalah hatinya hancur. Setelah Sholat Isya, Anna sempatkan dirinya menengok jendela untuk melihat bintang-bintang namun sayangnya benda langit itu kini tertutup awan. Sama dengan suasana hatinya yang kelam nan menyedihkan saat itu.

Dilain sisi, Ikhwan selama diperjalanan merasakan keganjilan pada Anna. Padahal awalnya anak itu bahagia bisa naik pesawat dan melihat kota besar yang Anna dambakan, namun saat pulang tadi terlihat berbeda. Kebahagiaan yang biasa terpancar di wajah Anna hanyalah topeng palsu. Dan mengembaralah pikiran Ikhwan tentang sahabatnya yang tiba-tiba berubah itu. Sesampainya Ikhwan dan ibunya di rumah, seperti biasa ia-lah yang membantu menutup pintu gerbang rumahnya. Namun Ikhwan kala itu Ikhwan merasakan hal yang aneh, seperti ada yang tengah memperhatikannya. Tak diperhatikan, Ikhwan langsung masuk kedalam rumah. Tak disangka dibalik pohon tepat diseberang rumah Ikhwan muncul sesosok bayangan tengah tersenyum licik.

Keesokkan harinya, tak disangka Ikhwan bertemu dengan Kiki, namun ada perbedaan dari pertemuan tersebut. Kiki terlihat murung dan sangat tidak bertenaga seperti ia telah melakukan kerja rodi atau terjadi hal yang buruk, namun Ikhwan berudaha untuk berpikir positif terhadapnya. “Ki, kenapa mukamu? Habis begadang yah?”, Tanya Ikhwan.

“Ah tidak Wan. Tidak apa-apa”, tanpa ada ekspresi apapun dan langsung meninggalkan Ikhwan menuju kelas. Ada yang aneh, tidak seperti biasanya Kiki menjawab dengan nada datar bahkan hampir cuek pada Ikhwan. Biasanya mereka akan saling tegur sapa dan senda gurau. Tidak seperti hari ini.

Dan keanehan tidak berhenti sampai disitu. Jaka yang awalnya hanya melakukan ke-onaran di lingkungan kelas IPS kini mulai merambah ke kawasan IPA. Dimulai dari waktu istirahat, Jaka datang melewati kelas XII IPA A tepat kelasnya Anna yang kala itu sedang makan bekal makan. Jaka mulai berbuat onar dengan mulai “seperti” tersandung kaki salah satu anak yang duduk di depan pintu kelas luar. Tidak seperti tersandung tapi sebenarnya dari tingkat tenaga seperti Jaka sengaja terjatuh anak tersebut. Ia terlihat seperti hampir jatuh namun kenyataanya anak yang ia tendang itulah yang sudah terinjak lutut dari Jaka tepat di atas dadanya. Mungkin dikatakan tidak sengaja bisa saja, namun bila sampai air minum yang ia bawa itu ikut tumpah tepat di wajah? Bisa jadi itu adalah suatu hal yang tidak masuk akal. Bukannya meminta maaf, Jaka malah marah kepada anak yang ia sandung tadi. Hanya butuh waktu kurang dari satu menit cekcok, pukulan Jaka sudah memicu perkelahian lagi, bahkan hampir seluruh anak laki-laki yang ada disana menjadi sasaran pukulan Jaka. Anna yang ingin membantu masih menahan diri dan hanya melihat dari dalam kelas seperti anak perempuan lainnya. Jangankan terpukul, Jaka tidak menerima goresan sedikitpun dari perkelahian tersebut. Meski hampir dilaporkan ke pihak guru, namun sayangnya ada rapat sekolah yang tengah berlangsung di ruang pengajar terkait menghadapi Ujian Nasional sehingga anak-anak dipulangkan cepat saat itu. Perkelahian-pun dilanjutkan di luar sekolah tepat di tanah kosong. Anna sempat berpikir ada yang ganjil dari perkelahian ini. Terlalu sempurna jika dianggap sebuah kebetulan. Mana mungkin di hari yang normal tanpa masalah tiba-tiba muncul masalah yang mendadak karena jarang sekali sistem sekolah melakukan pemecahan masalah dengan mendadak, karena biasanya masalah tersebut akan diselesaikan dari sejak pagi dan pastinya yang akan terlibat dalam masalah tersebut hanyal sejumlah guru terkait saja, sisanya akan terus malanjutkan kegiatan mengajar.

Tak salah pula bila kecurigaan Anna ini tidak mungkin hanya ia sendiri yang sadari. Ikhwan sudah menunggu di depan masjid tempat kegiatan ekskul Rohis berlangsung. Kebetulan ia menggunakan laptop membuka situs sekolah. Namun Anna coba untuk dekati Ikhwan yang mungkin saja “kebetulan” tersebut mungkin hanya kebetulan lagi. “Wan, kamu lagi apa disini?”

“Aku sedang mencoba memeriksa sistem web sekolah mungkin ada hal yang bisa aku selidiki mengenai hari ini. Baru kali ini kan sekolah mendadak dibubarkan?” jawab Ikhwan dengan cukup serius dan tajam. Memang wajar bila seorang user tidak bisa login , namun bila ID admin seperti milik para guru, karyawan bahkan kepala sekolah dan GM yang memiliki otoritas tertinggi tak bisa masuk ke situs sekolah berarti ini sebuah masalah besar. Ditambah lagi berita ini…”, sambil Ikhwan memperlihatkan situs departemen pendidikan. Fantastis!! Nilai seluruh siswa rata-rata 90-100 disetiap matapelajaran.

“Wan, saya juga merasakan keanehan. Mana mungkin beberapa menit setelah Jaka berkelahi tiba-tiba rapat diadakan. Apalagi sekarang Jaka tengah mengajak teman-teman sekelasku yang laki-laki melanjutkan perkelahian di pinggir ladang jagung”.

Ikhwan langsung tersentak mendengar penjelasan Anna. “Ini ada yang tidak beres Na, bantu saya kali ini Na!”

“Hah? Aku?” Tanya Anna.

“Sudah tidak ada waktu lagi! Kamu pegang laptopku sekarang dan coba kamu cari tahu perkembangan rapat di ruang guru. Saya akan ke tempat Jaka sekarang. Oya saya juga pinjam sepeda kamu Na”, sambil menyerahkan laptopnya pada Anna.

“Wan, mana Kiki? Biasanya dan seharusnya kalian selalu bersama kan? Apalagi dikondisi saat ini pasti dia yang lebih sigap masalah komputer?”

“Aku juga kurang tahu, saat aku ke kelasnya tadi Kiki sudah tidak ada. Kita bahas nanti saja ya Na”, dengan tergesa-gesa Ikhwan langsung berangkat. Segera Ia ambil sepeda dan kayuh sekuat tenaga keluar sekolah. Tak lama setelah Anna ditinggal Ikhwan, ia melihat Kiki sedang membuka laptopnya di pinggir lapangan sekolah. Anna menghampirinya dan bertanya, “Ki, kamu tidak apa-apa kan? Kenapa daritadi kamu sendirian saja?”

“Maaf Na, aku sibuk. Aku pulang duluan yah”, segera Kiki tutup laptopnya dan meninggalkan Anna. Yang lebih anehnya lagi kebetulan rapat sekolah usai dan Kiki langsung masuk ke ruang guru. Tak lama guru BK dan guru olahraga langsung keluar tergesa-gesa mengikuti Kiki. Anna pun mengikuti mereka dari belakang. “Kenapa ini? Pasti ada yang tidak beres bila guru olahraga dan guru BK keluar sekolah terburu-buru seperti itu.”

Dilain sisi Ikhwan akhirnya berhasil sampai di ladang jagung, yang ia lihat disana adalah anak-anak yang sudah babak belur dihajar Jaka. “Wah pak ustad jagoan kita datang. Ayo sini aku hajar kau atas perlakuanmu tempo hari!” dengan suara lantang Jaka sambal menunjuk Ikhwan di ujung ladang. Ikhwan dengan tenang langsung menghampiri teman-temannya yang pingsan bukan meladeni Jaka. Emosi sudah Jaka karena tantangannya malah diabaikan. Tendangan Jaka melayang kearah kepala Ikhwan dari belakang, namun dengan mudah Ikhwan menghindar dan langsung menangkis tendangan tersebut.

Perkelahian Ikhwan dan Jaka tak bisa dihindarkan, Jaka menggunakan jurus karate nya sedangkan Ikhwan dengan ilmu silat. Ikhwan hanya berusaha menangkis dan mengalihkan serangan Jaka. Namun karena semakin panas, Jaka juga semakin serius dalam menyerang Ikhwan. Terlihat dari kejauhan Kiki tengah diikuti dua orang guru. Senyum licik Jaka melebar kembali. Jaka menyerang kembali dengan sekepal pukulan ke arah wajah Ikhwan namun ia sedikit mengurangi dan seperti berpura-pura lengah. Ikhwan yang tak sadar langsung mengalihkan pukulan Jaka menjadikannya membanting Jaka. Tak disangka ditengah jatuhnya, Jaka terlihat masih senyum dengan sedikit bisikan ,”Mati kau….”

Tiba-tiba terdengar teriakan. “Pak lihat pak!! Apa saya bilang, Ikhwan yang menghajar semua anak-anak disana dan yang tadi di sekolah”. Segera Ikhwan langsung ditangkap. “Pak ada apa ini? Kenapa saya yang…”

“Sudah jangan banyak bicara, nanti saja di ruang BK saya sidang”, jawab guru BK sambal tetap memegangi Ikhwan. Guru olahraga langsung membangunkan anak-anak yang tengah pingsan sambil menelpon pihak rumah sakit untuk dikirimi ambulan. Satu persatu anak-anak tersebut dimasukkan ke ambulan, tapi disana ada satu orang yang belum masuk. Jaka. Tiba-tiba saja tubuhnya hilang. Dianggap sudah tidak ada lagi yang perlu dibawa, mobil ambulan langsung berangkat.

Anna yang mengikuti Kiki kaget dan segera bersembunyi dibalik semak-semak setelah melihat Ikhwan yang malah ditangkap para guru. Apalagi mendengar Kiki mangadukan bukan untuk Jaka melainkan ke Ikhwan yang dituduhkan memulai perkelahian. Geram melihatnya, tapi ia simpan dulu untuk melihat keadaan sekitar setelah ini. Tak tega rasanya ketika Anna melihat Ikhwan melewatinya sembari digiring para guru kembali ke sekolah. Kini ia melihat tinggal Kiki seorang ditengah lapangan pinggir ladang jagung. Anna masih ingin melihat dari tempat persebunyiannya. Jaka, yang tadi sempat menghilang tiba-tiba muncul dari balik ladang jagung. Jaka langsung menghampiri Kiki dan kelihatannya memaksa untuk pergi lagi ke suatu tempat.

Anna segera mengikuti dua anak tersebut. Singkat cerita, sampailah disebuah warung yang disana sudah penuh dengan banyak orang dengan tubuh besar. Tak tinggal diam, Anna langsung berteriak memanggil Kiki. “Ki! Sedang apa kamu sama si Jaka? Sudah ayo pulang saja sama aku sekarang!”

“Heh, siapa kamu? Perempuan sendirian di siang bolong begini. Haha”, tawa Jaka sambil memberi kode pada para pria bertubuh besar tersebut untuk maju untuk mengganggu Anna. Tak Tinggal diam Anna langsung meloncat dengan keadaan rok sekolahnya sudah dilepas dan telah berganti celana panjang silat. Hanya dalam waktu tak lama, para preman tersebut sudah kalah semua. “Kamu pasti yang buat rencana ini kan? Ayo mengaku saja kau Jaka!!!” teriak Anna yang saat itu sudah emosi. Jaka yang hanya terkekeh kekeh langsung bangun dan melakukan gerakan pemanasan. “Wah, kamu pasti Anna. Jagoan dari kelas IPA selain si Ikhwan. Sudah lama aku tidak berkelahi dengan perempuan”. Mereka berdua sudah memasang kuda-kuda bersiap bertarung, sedangkan Kiki didalam warung terlihat bingung dan ketakutan.

Pertarungan dimulai. Anna bertarung sengit dengan Jaka. Semua teknik dikeluarkan oleh mereka berdua. Tendangan dan pukulan sudah melayang beberapa kali dan salah satu dari mereka belum ada yang jatuh. Namun tak diduga, Jaka langsung mencengkram leher Anna secara tiba-tiba dan mengangkatnya ke udara. Saat itu terlihat Anna benar-benar tengah meregang nyawa karena cekikan Jaka benar-benar keras sampai tubuh Anna terangkat. Kiki melihat itu tak tinggal diam langsung menghampiri Jaka.

“Jaka, sudah hentikan. Saya mohon hentikan”, kata Kiki sambil bersimpuh di samping Jaka.

“Apa? Berhenti?” Tanya Jaka. Jaka langsung melempar tubuh Anna ke arah Kiki hingga mereka terjatuh. “Seharusnya kalian berterima kasih karena nilai kalian sudah diatas rata-rata sekarang dan tidak perlu takut dengan ujian nasional karena kalian sudah dijamin lulus”, kata Jaka dengan muka jahatnya.

“Iya bagus, tapi bukan dengan cara yang curang juga…”, kata Kiki dengan wajah memelas. Langsung saja Jaka menendang Kiki. “Berani berisik lagi akan putuskan lehermu, bocah computer”, ancam Jaka sambil mengeluarkan sebilah pisau kearah leher Kiki.

“Sana pulang, hari ini aku sudah puas berkelahi dengan kalian semua haha. Ayo cepat kau ikut aku bocah computer”, paksa Jaka kepada Ikhwan sambil meninggalkan tubuh Anna. Tak lama setelah Jaka menjauh, pemilik warung segera menolong Anna yang tengah pingsan saat itu.

Disekolah, Ikhwan disidang di ruang BK. “Kamu itu seorang siswa, apalagi dengan nilai terbaik. Malu saya lihat kamu Wan!!” bentak guru kepada Ikhwan yang hanya bisa menunduk. “Pak bukan saya yang memukul teman-teman yang lainnya pak, saya melihat sendiri tadi Jaka yang memukul mereka dan saya tadi berusaha menolong mereka agar tidak berkelahi lagi, namun disana saya malah diajak ber…”, bela Ikhwan saat itu. Namun guru BK langsung menunjuk hidung Ikhwan, “Kamu sudah ketahuan berkelahi. Seharusnya kamu memberi contoh yang baik kepada teman-teman yang lain. Apalagi kamu seorang anggota rohis yang seharusnya taat agama. Bukan malah berkelahi”. Kemudian guru BK menghidupkan layar computer dan membuka sebuah situs. “Kamu tahu apa yang hari ini kami rapat kan di ruang guru?” Tanya guru BK. Ikhwan pun hanya bisa menggeleng. Sambil memukul meja dengan keras dan memperlihatkan layar komputer sang guru berkata, “Lihat ini! Seseorang sudah mengacak-acak hasil rekapitulasi nilai siswa yang akan mengikuti ujian nasional. Dan kamu tahu siapa pelakunya? Kamu!!!”.

Ikhwan tersentak kaget dan berkata, “Tidak mungkin pak, saya kan hanya siswa biasa. Tidak mungkin saya memiliki hak akses untuk mengubah nilai siswa pak”.

“Jangan bohong kamu! Lihat di situs ini, ada aktifitas login secara aneh pada jam 1 dini hari tadi. Akun ini terlacak tengah mengubah semua otoritas di seluruh sekolah menjadi tak bisa mengakses. Bahkan akun ini seharusnya bersifat user, tapi tadi malam akun ini berubah sifatnya menjadi admin dan merubah seluruh isi data web sekolah. Dan siapa pelakunya? Lihat! Ini nama kamu Wan!!!” tunjuk sang guru ke arah salah satu baris di halaman web tersebut. Disana tertulis nama akun Ikhwan dengan status sebagai admin. Melihat itu Ikhwan hanya bisa tercengang tak berdaya.

“Pak saya berani sumpah bahwa saya tak mungkin bisa melakukan hal sejauh ini, apalagi anda thu juga saya belum sepintar ini dalam hal computer”, jawab Ikhwan sambil membela diri lagi. “Saya tidak ingin tahu alasan kamu apa, yang jelas sekolah kita sekarang menjadi buah bibir di kalangan pusat diknas sana. Saya hukum kamu di skors selama 1 minggu dan di akhir hukuman kamu harus bawa orang tua kamu menghadap! Sekarang keluar dari ruangan ini!”

Wajah Ikhwan kini benar-benar tertekan. Dalam satu hari ia mendapat dua tuduhan yang jelas-jelas bukan ia pelakunya. Tertunduk di depan masjid dengan wajah kebingungan. Tak lama Anna datang. Dengan tergesa-gesa Anna berkata, “Maaf ya Wan aku tadi tak bisa bantu kamu. Tadi sempat pingsan…”. Disana Anna melihat Ikhwan tidak bergeming sama sekali. “Wan? Kenapa kamu?” tanya Anna keheranan.

“Anna, saya mendapat hukuman skors 1 minggu”, kata Ikhwan tanpa melihat wajah Anna. “Astaghfirullah…., Wan kamu dihukum seberat itu? Kamu hanya dituduh berkelahi kan?

“Saya juga mendapat tuduhan yang merubah nilai siswa disekolah ini”, jawab Ikhwan yang semakin tertunduk. Anna semakin tak tega melihat Ikhwan. Selain sakit, ia juga harus menerima fitnah yang seharusnya tak pantas diterima Ikhwan. Tak lama Ikhwan bangkit dan langsung pamit pulang.

Anna tahu ini semua ulah Jaka yang sebenarnya sakit hati karena pernah dikalahkan Ikhwan sewaktu Jaka datang ke ekskul rohis tempo hari. Namun tak disangka balasannya akan separah ini, bahkan dirinya juga mendapat luka yang tak sepantasnya diterima oleh perempuan. Sorenya Anna langsung ke rumah Kiki untuk mendapatkan penjelasan. Ternyata disana ia melihat rumah Kiki tengah di intai oleh preman yang tadi siang ia kalahkan. Ternyata Jaka tak membiarkan Kiki membuka mulut. Mau tak mau Anna harus memutar lewat jalan lain menuju belakang rumah Kiki.

“Assalamu’alaikum Kiki. Ni aku Anna”.

Keluarlah Kiki dengan wajah ketakutan. “Waalaikumsalam Na”, jawab Kiki dengan suara setengah berbisik. “Pelankan suaramu. Jangan sampai terdengar para preman diluar. Ada apa?” Tanya Kiki. “Ki, tolong sekarang jelaskan padaku sekarang sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa bisa kamu bersama si Jaka tadi siang? Sekarang ini Ikhwan sedang mendapat cobaan berat”. Kiki dengan memberikan kode untuk mengikutinya ke suatu tempat yang aman. Disana ia menceritakan semuanya pada Anna. Singkat cerita Kiki menjelaskan bahwa sebenarnya dirinya dipaksa untuk menuruti semua perintah Jaka untuk menghancurkan Ikhwan, karena dia tahu bahwa Ikhwan sebenarnya lebih unggul dalam hal bela diri. Mengetahui hal ini Jaka ingin menyingkirkan Ikhwan dari sekolah agar ia bisa bebas berkelahi di sekitar sekolah dan menjadi jagoan sekolah. Demi hal tersebut, Kiki dipaksa pada jam 1 malam tadi membajak akun siswa milik Ikhwan dan menyusup ke situs sekolah. Lalu merubah semua nilai disekolah dengan akun tersebut. Kemudian untuk membuat kehebohan yang lebih besar, Kiki juga harus merubah semua akses akun di sekolah baik itu guru, siswa, maupun admin dan GM menjadi tak bisa masuk ke situs sekolah sehingga semua akan menganggap ini sebuah masalah serius. Dari situ pasti pihak sekolah akan melakukan rapat besar karena tak hanya membahas masalah login system ke situs, namun juga akan membahas nilai para siswa yang telah berubah drastis. Sampai waktu yang ditentukan Kiki harus menahan jangan sampai pihak sekolah berhasil membobol system sekolah lagi. Dengan begitu akan mengganggu kegiatan belajar mengajar karena pihak guru hari itu juga harus menginput nilai para siswa termasuk siswa kelas XII yang akan mengikuti ujian nasional. Dan pastinya sekolah akan memulangkan cepat para siswa. Disitulah Jaka akan yang telah membuat keributan sebelumnya dengan siapapun akan ia giring ke sebuah lahan kosong untuk memancing perkelahian. Langkah selanjutnya Kiki harus membuat Ikhwan setidaknya terpancing ke perkelahian tersebut, dan berikutnya membuka akses situs sekolah sedikit demi sedikit sehingga rapat sekolah bisa segera usai dan mengetahui siapa boneka yang telah mengacak-acak situs sekolah. Dan yang terakhir, Kiki harus mengajak salah satu guru di sekolah untuk ikut melihat Ikhwan yang tengah berkelahi dengan Jaka, Sehingga Ikhwan akan menjadi tersangka dari kasus besar ini.

Anna mendengar cerita Kiki langsung geram ingin membalas Jaka, namun apalah daya bila ia sendiri tadi tak mampu mengalahkan begundal tersebut. “Ki, ayo kamu harus ikut sama aku sekarang ke rumah Ikhwan dan jelaskan juga semuanya”.

Kiki jawab, “Tidak Na, aku takut Ikhwan marah padaku nanti. Ini semua salahku yang masih lemah”.

Anna langsung menarik baju Kiki untuk pergi ke rumah Ikhwan. Sesampainya mereka di depan rumah besar milik keluarga Ikhwan, terdengar suara teriakan dari mama Ikhwan. “Apa? Kamu difitnah seperti ini masih saja ingin sekolah disana? Sudah mama juga tak ingin tahu! Besok lusa mama dan papa akan datang ke sekolah dan minta kamu pindah sekolah. Mama akan siapkan tiket untuk kamu agar kamu segera pindah sekolah di Inggris segera”.

Hening, tak lagi terdengar suara apapun dari rumah Ikhwan. Kiki melihat Anna juga mulai tertekan mendengar suara dari mama Ikhwan yang ternyata malah mempercepat kepindahan Ikhwan ke luar negeri. “Ki, kamu pulang duluan ya. Aku ingin pulang sendiri”. Kiki mengangguk dan segera pulang meninggalkan Anna. Mengalirlah air mata Anna. Ia masih tak bisa terima bila Ikhwan kuliah di luar negeri, apalagi bila ia harus pindah secepat ini. Bahkan sampai sekarang Anna belum menyatakan perasaannya kepada Ikhwan.

Sepulangnya dari rumah Ikhwan, Anna segera sholat maghrib dilanjut dengan tadarus Qur’an. Seusai dari tadarus, Anna melihat langit malam dan berdo’a agar Ikhwan tak jadi lagi pindah keluar negeri seperti yang terjadi dua tahun yang lalu. Kembali ia menangis berharap do’a-nya terkabul.

Keesokan harinya, Anna melihat bangku kosong milik Ikhwan. Sepi bila tak ada lagi orang yang jadi primadona di pagi hari untuk menjelaskan teman-temannya soal pelajaran yang masih tak dimengerti. Kiki juga perasakan demikian, orang yang selama ini paling sering bertanya pada guru dan mencoba menjawab semua soal dari para guru kini sedang menghilang dari kelas.

Seusai bel pulang, Anna dan Kiki pergi bersama. Mereka tahu tempat bila Ikhwan dirudung masalah. Pinggir dermaga. Segera Anna dan Kiki mengayuh sepeda mereka menuju dermaga nelayan di pinggir kota.

Sesampainya di dermaga ada seorang lelaki memakai jaket hitam celana hitam. Ya itu Ikhwan. Tengah memandang lautan. Anna dan Kiki langsung menghampiri Ikhwan. Kiki berkata, “Wan, aku minta maaf sebenarnya aku yang salah karena sudah membuat kamu susah sampai di hukum seperti ini”. “Wan, sudah kamu tidak perlu pindah. Kita pasti bisa selesaikan masalah ini bersama”, kata Anna memberi semangat pada ikhwan. Tapi yang mereka lihat di wajah Ikhwan bukan wajah yang terlihat penuh masalah. Yang ada hanya wajah datar nya yang tenang. “Tenang saja, saya sudah seperti biasa kok”, sambil memperlihatkan wajahnya yang sepertinya dipaksa untuk terlihat konyol. Sedikit tawa mulai terdengar dari Anna. “Haha wan kamu sedang apa sih? Kenapa tiba-tiba menjadi pelawak seperti ini? Lucu sekali wajahmu itu, tak cocok lah bila kamu menjadi pelawak haha”. Kiki yang awalnya heran juga ikut tertawa dengan tingkah Ikhwan yang baru kali ini mengeluarkan sifat melucu nya ini.

“Tenang saja, masalah ini akan segera selesai. Secepatnya”. Tak lama setelah itu muncul Jaka dari belakang. “Wah ternyata disini yah pak ustad yang katanya jagoan SMAN 1 Pamekasan. Kelihatannya ingin bunuh diri yah? Sini saya bantu tak usah repot-repot haha”, suara Jaka terdengar seperti biasa jahat. Datang bersama para preman yang kemarin sudah dihajar Anna. Melihat itu Anna langsung bersiap melepas roknya berganti dengan celana panjang yang selalu siap ia kenakan dibalik rok sekolahnya. Namun Ikhwan menahan Anna. “Sekarang biar saya yang selesaikan ini semua. Kalian berdua mundur saja sekarang”, jawab Ikhwan. Anna menjawab, “Tapi bagaimana dengan penyakit kamu Wan?”

“Sudah tenang saja. Ki, tolong bawa Anna pergi sembunyi ya”. Segera Kiki menarik diri dan juga Anna. Dengan sikap dan posisi siaga Ikhwan siap menghadapi para preman suruhan Jaka. Para preman langsung maju untuk menghajar Ikhwan, namun sayang sekali tanpa mengeluarkan gerakan banyak Ikhwan langsung mengalahkan mereka satu persatu. Disini Ikhwan tidak main-main lagi, semua preman tadi tak ada yang bisa bergerak karena mereka semua langsung patah tulang dibuatnya oleh Ikhwan. Baru kali ini Ikhwan bertarung secara serius hingga lawannya tak berdaya. Dibalik persembunyian, Anna yang melihat Ikhwan langsung terkagum-kagum. Terlihat perbedaan antara dirinya dengan sang master bela diri.

Kini tinggal mereka berdua saja, Ikhwan dan Jaka. “Hebat bisa mengalahkan suruhan ku, tapi tak ada apa-apanya bila kamu belum mengalahkan orang yang akan menjadi jagoan di sekolah, hahaha”. Tanpa membuang waktu keduanya langsung mengambil sikap kuda-kuda siap bertempur. Jaka mulai menyerang duluan dengan semua serangan offensive. Namun sayang semua serangan Jaka dengan mudah ditangkis dan dialihkan oleh Ikhwan. Bahkan semua serangan Jaka nyaris tak ada yang mengenai Ikhwan. Tidak ada gerakan yang sepertinya membuang tenaga. Benar-benar Jaka seperti tengah melawan angin.

“Apa semua jurusmu sudah habis tuan jagoan?” Tanya Ikhwan dengan senyum kecil dan nada sedikit menantang. Jaka yang sudah terbakar emosi langsung menyerang membabi buta ke arah Ikhwan. Ikhwan dengan sedikit hembusan nafas, ia langsung mengalihkan salah satu pukulan Jaka lalu Ikhwan membalas dengan pukulan dan tendangan berutun kearah badan Jaka. Saking cepatnya Jaka sampai tak sempat menangkis atau menahan serangan dari Ikhwan yang satu ini. Ikhwan mengakhiri serangannya dengan satu pukulan terakhir tepat di ulu hati Jaka yang menyebabkan Jaka jatuh tak bergerak.

“Aaaargh sakit!!! Aku tak terima kekalahan ini, ayo lanjutkan lagi aaargh” teriak Jaka sambil mengerang kesakitan disekujur tubuhnya. Ikhwan tak mempedulikan Jaka dan segera mengambil handphone nya untuk menelpon seseorang untuk segera datang. Anna dan Kiki juga langsung keluar menghampiri Ikhwan.

“Sakit katamu? Ini mungkin akan lebih menyakitkan dari yang tadi”, kata Ikhwan sambil mengarahkan handphone nya kearah Jaka. Dan yang dilakukan adalah memutar sebuah rekaman suara dari percakapan Kiki dan Anna yang saat itu tengah membicarakan semua rencana busuk Jaka selama ini. Kiki kaget karena ternyata pembicaraan mereka kemarin direkam, namun seingatnya saat itu tak ada Ikhwan didekat mereka. Anna pun demikian kaget juga karena seharusnya rekaman tersebut seharusnya masih tersimpan di handphone nya. Sejak kapan Ikhwan mengambil file rekaman dari handphone Anna?

“Kiki!!! Kau pengkhianat!!! Kamu bocorkan rencanaku ke mereka aaaargh!!!” teriak Jaka ke Kiki sambil masih meregang sakit. “Wan, kapan kamu dapat rekaman itu? Seharusnya rekaman itu masih ada di handphone ku dan sekarang ini masih ada kok” kata Anna dengan penuh keheranan.

“Kamu pasti tak sadar ya”, jawab Ikhwan dengan senyum yang tenang meski sambil memegangi dada nya karena mungkin tengah menahan sakit jantungnya yang akan kambuh. “Dulu waktu kamu mendapat handphone baru itu, aku dan Kiki kan yang mengajari cara menggunakan handphone itu, tanpa kamu sadari aku sudah menghubungkan aplikasi perekam suara dan video dengan aplikasi web drive sehingga file yang tersimpan di drive juga bisa di akses oleh aku dan Kiki. Dan kebetulan mungkin kamu tak sadar salah satunya file rekaman pembicaraanmu kemarin masuk ke drive dan aku mendengar semuanya”. “Pantas saja kamu tadi terlihat tenang Wan haha” jawab Kiki dengan senang. Mendengar itu, Jaka mulai marah sejadi-jadinya, namun terlambat bila marah sekarang. Tak lama setelah itu datang sekelompok orang dengan seragam serba hitam menaiki mobil box. Ternyata mereka adalah bodyguard dari keluarga Ikhwan. Mereka langsung mengangkat para preman dan Jaka yang tengah kesakitan ke dalam mobil box.

“Tuan, mereka sudah dimasukkan kedalam mobil. Mau diapakan mereka tuan?” Tanya salah satu bodyguard. “Bawa mereka ke sekolah saya pak, oya jangan lupa bawa sepeda teman-teman saya karena setelah ini mereka akan ikut saya naik mobil menuju sekolah juga”, jawab Ikhwan dilanjutkan dengan sikap hormat sang bodyguard langsung melaksanakan perintah Ikhwan. Mereka pun langsung berjalan menuju sekolah.

Setibanya di sekolah, para guru yang akan pulang segera berhenti karena melihat dua mobil box dan satu mobil pribadi masuk ke sekolah dan berhenti di tengah lapangan sekolah. “Pak kita sudah bawa para saksi dan tersangka dari kasus kemarin”, kata Ikhwan ketika keluar mobil yang kemudian ia langsung menggiring Jaka ke hadapan para guru beserta para preman yang digiring oleh para bodyguard. “Kamu berkelahi lagi ya Wan?” Tanya salah satu guru. “Kita bicarakan ini di ruang BK ya pak”, jawab Ikhwan.

Singkat cerita, disana Ikhwan ungkap semua kejahatan dari Jaka berikut kesaksian Kiki dan juga para preman bawahan Jaka. Segera para preman tersebut dibawa ke kantor polisi sedangkan Jaka bersiap untuk dikeluarkan dari sekolah dan namanya tak akan bisa tercantum disekolah manapun dengan adanya kasus ini.

Keesokan harinya sesuai janji mama Ikhwan datang, namun tak diduga bukannya akan berdebat malah dari pihak guru meminta maaf karena sudah salah tuduh kepada Ikhwan. Mama Ikhwan yang kebingungan bercampur senang karena anaknya tak dihukum lagi dan hari itu juga Ikhwan bisa langsung masuk sekolah kembali. Akhirnya sang jagoan sekolah yang bukan dikenal karena kenakalan melainkan prestasinya kini kembali masuk ke kelas. Senang, terutama bagi Anna yang akhirnya merasa bersyukur Ikhwan bebas dari kasus kemarin. Kini hari-hari akan sama seperti hari yang lalu, menyenangkan selama Anna bisa dekat dengan Ikhwan kembali.

Tiga hari berlalu, tepat hari jumat Ikhwan dan kawan-kawan sedang berada di tengah perjalanan pulang, tiba-tiba Ikhwan berhenti. “Kenapa berhenti Wan? Ada yang tertinggal?” Tanya Anna. “Bagaimana jika seandainya saya benar-benar pindah?” gumam Ikhwan. “Maksudmu apa Wan? Kamu ingin pindah tempat duduk dengan Anna?” Tanya Kiki. Mendengar itu Anna langsung memukul bahu Kiki dengan keras sambil tersipu malu.

“Bukan itu yang saya maksud, bagaimana bila saya benar-benar pindah dari sekolah untuk pergi keluar negeri?” Tanya Ikhwan dengan serius kearah kawan-kawannya. “Ya kami akan rindu kamu Wan, karena kamu sudah banyak berjasa untuk kami selama ini”, jawab Kiki dengan wajah masih tenang sambil memegangi handphone nya. “Memangnya kamu ingin pindah sekolah ya Wan? Tanggung sekali bila harus pindah sekarang karena sebentar lagi kita akan mengikuti ujian nasional di semester depan”, tambah jawaban Anna.

“Maaf ya teman-teman. Sepertinya kali ini saya akan benar-benar pindah dan tak bisa ditunda lagi” kata Ikhwan. Anna yang mendengarnya bagai mendengar sambaran petir. “Kenapa harus pindah Wan? Apa ini karena orangtua mu pindah tugas lagi? Kamu bisa tetap tinggal disini bersama para pembantu dan bodyguard kamu Wan atau menginap sementara di rumahku juga tak apa-apa kok” kata Kiki dengan nada tenang sambil tetap melanjutkan perjalanan. “Bukan karena tugas orangtua saya, ini karena keadaan saya Ki. Jantung saya tak akan bertahan lama bila tak segera ditangani serius. Dan untuk menanganinya saya harus menjalani perawatan intensif di Jerman yang memiliki teknologi untuk menyembuhkan penyakit saya ini. Saya sudah mendengar kabar ini dari dokter yang merawat saya selama ini di Jakarta dan jalan satu-satunya saya harus segera mendapatkan perawatan di luar negeri. Ini tak bisa berjalan satu atau dua bulan. Tapi butuh waktu yang lebih lama entah sampai kapan. Maka dari itu saya memutuskan untuk sekalian pindah juga”.Kiki yang juga sambil melihat wajah Anna mulai sadar sepertinya ada raut wajah yang tak terima akan hal ini. “Kapan kamu akan berangkat Wan?” Tanya Kiki. “Hari ahad besok saya akan berangkat Ki”.

Selama perjalanan pulang, Anna tak sedikitpun berbicara pada Ikhwan. Sesampainya dirumah Anna langsung masuk ke kamar dan kembali menangis. Ia bingung apa harus merelakan Ikhwan atau tidak. Bila ia tak rela maka nyawa Ikhwan tak akan bertahan lama, namun bila ia relakan maka akan semakin jauh jarak antara dirinya dengan sang pangeran. Apalagi Anna belum sama sekali mengutarakan perasaannya pada Ikhwan.

Hari Sabtu, satu hari sebelum keberangkatan Ikhwan menuju Jerman. Anna datang sendiri kerumah Ikhwan. Kebetulan ia melihat Ikhwan tengah latihan silat di halaman depan rumah. Dipanggilah Ikhwan untuk keluar sebentar.

“Ikhwan, bisa saya berbicara sebentar?” Tanya Anna.

“Boleh saja, ada apa Anna?” Tanya Ikhwan balik. Dengan perasaan gugup namun pasti Anna berusaha memantapkan hati agar ia bisa mengutarakan maksud ia datang sekarang. “Maaf ya Wan, aku bukan bermaksud apa-apa. Hanya saja selama ini ada hal yang ingin saya sampaikan kepada kamu Wan. Sebenarnya….” Jawab Anna dengan suara gugup. “Sebenarnya saya suka kamu Ikhwan Hakim!!!” lanjut Anna dengan suara tegas.

Mendengar hal itu, Ikhwan lagsung tertawa. “Haha Anna kamu ini bisa saja ya. Jangan bercanda ah sudah sore nih”.

“Saya tak bercanda Wan” jawab Anna dengan tegas

Setelah selesai tertawa, Ikhwan menjawab, “Hehe maaf ya Anna, aku menolak perasaan mu saat ini. Aku minta maaf ya”. “Iya Wan tidak apa-apa, setidaknya saya sudah puas bisa menyatakan perasaanku ini ke kamu Wan. Aku pamit pulang dulu ya Wan, Assalamu’alaikum”, Anna pamit pulang dan langsung meninggalkan Ikhwan.

Selama perjalanan sambil sesekali mengusap air mata, Anna kali ini lega karena sudah menyatakan perasaan yang selama ini ia pendam selama 3 tahun. Perasaan campur aduk antara ingin menangis atau senang. Meski sakit karena perasaannya ditolak namun ia puas karena beban di hatinya telah hilang. Ia sadar pasti Ikhwan akan menolaknya karena tak mungkin mereka pacaran karena hal itu sangat terlarang dalam Islam.

Keesokan harinya, tepat hari keberangkatan Ikhwan. Saat itu Anna tidak datang. Hanya Kiki yang datang untuk mengantar kepergian Ikhwan. Setelah berpamitan dengan orangtua dan Kiki, Ikhwan langsung naik mobil dan berangkat untuk menuju ke bandara.

Ikhwan merasa sedikit kecewa karena tak bisa melihat salah satu sahabatnya yaitu Anna tidak hadir saat ia akan berangkat. Namun sesuatu yang tak disangka-sangka terjadi. Ketika mobil terjebak kemacetan, tiba-tiba saja terdengar teriakan Anna.

“Ikhwan………!!!! Tunggu!!!!!” teriak Anna sambil mengayuh sepeda sekuat tenaga menuju mobil Ikhwan. Ikhwan langsung membuka kaca samping mobil. “Ada apa Na….?” Tak lama Anna langsung melempar sepucuk surat kedalam mobil Ikhwan. “Dibaca ya Wan!!! Hati-hati dijalan!!! Kami akan selalu rindu kamu Wan!!!” Teriak Anna dari sepeda karena mobil Ikhwan mulai melaju kembali. Dari mobilnya, Ikhwan langsung menunjukkan acungan jempol kearah Anna sebagai lambang perpisahan mereka. Dan surat tadi berisi kata-kata perpisahan dari Anna agar Ikhwan tak melupakan kenangan selama mereka bersekolah di Indonesia.

5 tahun berlalu sejak saat itu. Anna kini menjalani kehidupan sehari-harinya sebagai aktivis dakwah mahasiswi kampus di Madura. Meski ia sudah lulus namun kegiatannya sebagai aktivis tak pernah surut. Pakaiannya kini memakai jilbab panjang dan kerudung besar nan lebar. Kadang sesekali ia merindukan kawan lamanya yang kini semuanya sudah pergi keluar negeri. Sedangkan Kiki bekerja di Malaysia untuk membantu usaha keluarganya disana.

Suatu hari Anna baru saja pulang dari kegiatannya mengaji dari sebuah surau dekat rumah. Di kejauhan ia melihat di depan rumahnya terparkir mobil. Entah siapa, mungkin orang kesekian yang akan melamar Anna. Selama ini banyak lelaki yang datang untuk melamar Anna namun ia tolak. Sesampainya didepan pintu, Anna masih belum melihat siapa tamunya saat itu.

“Assalamu’alaikum”, salam dari Anna ketika akan masuk kerumah

“Waalaikumsalam”, jawab ayah Anna dan kedua tamu yang datang saat itu. “Nah ini dia nih teman lama kita yang sudah makin cantik”, kata salah satu tamu tersebut. Kaget, Anna langsung melihat para tamu tersebut. Merasa heran dan aneh, seharusnya ia ingat raut wajah ini. Anna berusaha mengingat siapa mereka ini. “Na, koq berdiri disitu, ayo disapa teman-teman lama mu Ikhwan dan Kiki”, kata ayahnya sambil menunjuk kea rah para tamu. Ikhwan yang saat itu berpakaian kemeja merah dengan sepatu dan celana formal bersama dengan Kiki yang kini tampil tanpa kacamata dan tubuhnya lebih tegap dibandingkan zaman SMA dulu.

“Wah benar Ki, tak terlihat seperti jagoan silat yang kita kenal waktu sekolah”, ledek Ikhwan. “Kalian ini bisa saja haha”, jawab Anna. “Ayo nak tolong siapkan minuman untuk tamu kita dan setelah itu duduk bersama disini”, pinta ayah Anna. Setelah beberapa saat Anna didapur menyiapkan minuman, ia ingat betapa berseri-seri hatinya bertemu pangeran yang dulu pernah menghiasi hatinya.

Setelah Anna keluar dan menyajikan minuman untuk Ikhwan dan Kiki, Anna juga ikut duduk disamping ayahnya. “Nah nak Ikhwan ini sudah ada Anna, tadi apa yang yang nak Ikhwan mau bicarakan?”

Ikhwan pun langsung angkat bicara.

“Pak, bolehkah saya melamar anak anda………?”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

< Tamat >

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s