Membaca untuk Menulis, Mendengarkan untuk Menyampaikan

Membaca tak sekedar membaca, mendengar tak hanya sekedar memasang telinga belaka. Inilah tulisan pembuka tahun ini, dimana dari post ini akan lahir banyak sekali ide, masukan, inspirasi, kritik, saran, opini dll yang akan membuat anda perlu berpikir ulang mengapa anda harus membaca post dan blog yang satu ini. Tulisan ini saya kutip dari seorang yang saat ini sangat berpengaruh ditengah ummat. Siapa lagi kalau bukan Ustad Felix Siauw. Nah kali ini saya akan menjadikan hal ini menjadi sebuah postingan berupa alasan serta opini mengapa saya dapat menulis dan menyampaikan seperti saat ini.

Hal pertama diawal yang saya bahas adalah “Membaca untuk Menulis”. ┬áMembaca adalah salah satu hobi yang saya sukai. Bahkan saking hobinya sampai saya harus tidur diatas buku ataupun didepan laptop saya. Namun bukan berarti saya menyindir kebiasaan ini, tidak sama sekali. Bahkan berkat membaca inilah saya dapat memiliki imaji yang luas dan bebas ber-ekspresi terkait imaji yang tergambar dalam benak ini.

Diawali dengan rasa ingin tahu yang kadang cukup aneh ketika saya harus membaca komik. Ya, komik. Sejak kecil saya adalah maniak komik manga dan serial anime serta game fantasy/action/adventure. Bila anda suatu hari kelak bertemu dengan saya dalam kehidupan nyata, maka anda bisa jadi akan kaget melihat diri ini yang bisa jadi adalah gambaran dari sebuah imaji karakter fantasy yang mungkin pernah anda saksikan di serial televisi. Ya itu adalah bagian konyol nan keren yang bila anda cari tahu akan jadi hal yang luar biasa.

Namun saya kurang yakin dengan sebuah pendapat seseorang yang mengatakan banyak-banyaklah membaca, namun jangan komik yang anda baca. Seakan anda mengkotak-kotakkan bahan bacaan yang harus menjadi bahan bacaan anda. Memang semenjak saya beranjak remaja mulai SMA hingga kuliah saat ini saya mulai menambah bahan bacaan saya mulai dari biografi, novel dan bacaan yang mungkin lebih berat lagi ke-arah politik dan ideologi yang cukup menguras otak. Namun jangan dikira bahwa komik maupun bahan bacaan lucu yang lainnya tak saya baca ya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apa saya termasuk laki-laki yang memiliki pemikiran anak kecil?

Inilah salah satu bentuk ekspresi bebas, termasuk bagaimana berkembangnya pola pikir yang penulis rasakan. Gambaran imaji yang tak kaku berasal dari pengalaman menarik game manga anime dkk, digabung dengan sifat luas nan kreatif novel serta baku berbobotnya tulisan yang bersifat pemikiran dan ideologis serta kritis dan cemerlang dalam membedah sebuah problem yang ada saat ini.

Inilah bentuk hasil imaji dari berbagai macam dunia yang telah penulis baca. Setiap karakter dan tulisan serta gaya yang ingin ditampilkan menyebabkan kita semakin bebas dan kaya dalam bahasa serta gaya dan pokok bahasan yang ingin anda tuliskan. Mengapa bisa begitu? Karena yang saya yakini setiap penulis membaca buku adalah “Dunia tak sesempit kamar tidurmu”, maka salah satu jembatan untuk mengetahui dunia adalah dengan membaca buku serta menyelami apa pula yang ingin penulis dari buku tersebut dapatkan setelah kita membaca karya mereka. Setelah itulah kita akan kaya akan berbagai tulisan, lalu mampu menuangkan dalam sebuah tulisan baru yang berbobot.

Membaca untuk Menulis

Lantas bagaimana dengan kalimat berikutnya? Mendengarkan untuk Menyampaikan. Ini adalah fase lanjut bagaimana cara agar kita dapat menyampaikan dengan lisan ini kepada khalayak umum maupun secara pribadi. Untuk bisa menjadi pribadi yang mampu berkomunikasi dengan baik, maka yang harus dipersiapkan di awal adalah “Apakah anda mampu menjadi pendengar yang baik?”

Ya, pendengar yang baik. Ia adalah orang yang mampu mendengarkan setiap hal yang akan masuk kedalam dirinya lewat indra pendengaran. Tak hanya berupa ceramah ilmu yang akan anda dapatkan dikelas maupun dirumah ibadah, anda juga harus menjadi pendengar yang baik dilingkungan anda. Paling peka dalam menyimak segala sesuatu baik itu sebuah kabar, informasi dll. Ia haruslah menjadi pribadi yang sabar pula dalam mendengarkan semua gagasan yang terlontar dari bibir orang lain.

Untuk menjadi pendengar yang baik, maka salah satu modal utamanya adalah sabar. Sabar untuk mendengarkan, dan sabar untuk mau mengolah semua hal yang telah ia dengarkan. Karena bila semua yang telah anda dengarkan hanya selewat lintas saja maka sia-sia pula apa yang telah anda dengarkan selama ini. Sabar. Biarkan semuanya mengalir di telinga anda, kemudian anda olah dan anda analisa sebenarnya apa yang anda dengarkan ini.

Baik-kah yang disampaikan? Bermanfaatkah yang ia sampaikan? Apakah merupakan sebuah permasalahan? Dimana poin penting yang ia sampaikan? Bisa menjadi pelajaran kah untuk anda? Perlukah anda jawab secara lisan setelah ia berbicara?

Nah, di pertanyaan-pertanyaan inilah kita mulai analisa semua informasi yang sudah kita gali. Dengan berbagai pertimbangan dan pengolahan jawaban yang matang serta sesuai barulah kita dapat masuk kepada tahap berikutnya. Menyampaikan dengan lisan.

Menyampaikan dengan lisan juga harus melewati beberapa fase pelatihan. Tidak ada yang namanya beginner’s luck, pasti semua memerlukan pengalaman dan latihan. Bisa jadi seperti yang penulis alami, diawal fase ini pasti kita akan menyampaikan kepada lawan bicara maupun audiens dengan cara yang kita anggap gaul. Lalu berangsur-angsur lawan bicara kita pasti akan naik level pula. Tak selamanya kita akan berbicara dengan mereka yang sebatas teman kelas atau teman nongkrong, mulai dari orang-orang sekelas birokrat, pebisnis, maupun dalam ranah yang lebih formal lagi. Di tahap ini, anda sudah tidak bisa lagi menggunakan 100% bahasa yang dianggap gaul. Untuk bisa naik ke level ini, anda harus mulai meng-upgrade kemampuan komunikasi anda. Dengan cara apa? Banyak. Bisa dengan menambah pengalaman untuk sering berkomunikasi dengan orang-orang birokrat, mengikuti training komunikasi di beberapa instansi, ditambah lagi dengan praktik berbicara dengan lawan bicara yang tidak biasa.

Hal ini tak bisa anda lewati dengan instan. Pasti anda akan masuk pada fase gugup, gagap, salah bahasa, salah ucap, salah tingkah, salah kalimat, terbata-bata dll. Penulis anggap itu adalah kewajaran. Namun itulah seni dalam berbicara dengan lisan. Tata bahasa kita yang sering terlatih akan mencerminkan gaya bahasa baru ketika kita menyampaikan kepada orang yang lain lagi. Itu akan menciptakan sebuah imaji “Gaya bahasa mu mencerminkan sudah berapa banyak jalinan komunikasi yang kau bangun“.

Mendengarkan untuk Menyampaikan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s