Berbicara di Depan Anda…

Setiap manusia pasti memiliki passion-nya masing-masing. Passion, seperti yang pernah penulis sampaikan pada artikel sebelum ini bahwa ia (passion) adalah suatu pekerjaan atau kegiatan yang ketika anda lakukan maka secara otomatis jiwa dan raga anda seakan ringan sekali bahkan cinta pada hal “ia”.

Termasuk penulis pun selain menulis juga memiliki passion lainnya yang tak kalah keren. Yup, ia adalah berbicara di depan umum atau nama kerennya adalah Public Speaker. Kali ini penulis akan sedikit bercerita tentang pengalaman passion-nya. Passion yang hingga kini tak pernah padam bahkan selalu berusaha untuk terus ditingkatkan hingga membentuk saya saat ini. Bagaimana perjalanan penulis dahulu merasakan passion-nya dengan public speaker, mari kita saksikan bersama.

Ketika kelas 5 SD, saya saat itu terbilang masih siswa baru di SD Negeri Sunter Agung 11 Pagi. Baru kira-kira 1 bulan disana ketika saya masuk pada bulan Agustus. Saat itu memang saya akui menjadi pusat perhatian dari teman-teman dikelas maupun para guru disana. Baik itu dipelajaran umum (MTK, Bahasa Indonesia dll) hingga pelajaran Agama Islam. Karena saya sangat suka momen ketika pelajaran Agama Islam maka saya menjadi satu-satunya yang sering bertanya di kelas. Guru Agama Islam di sekolah bernama Pak Ridwan.

Namun saya ingat tepat hari selasa entah tanggal berapa muncullah kejadian yang selalu saya anggap sebagai “Kecelakaan”. Ketika akan pulang sekolah tiba-tiba Pak Ridwan memanggil saya. Jarang-jarang saya dipanggil beliau. Padahal saya tidak membuat sama sekali saat itu (kesannya seakan seperti murid pembawa masalah ya haha, padahal tidak koq saya murid yang biasa saja hehe). Saya terkejut karena saya dipanggil untuk mengikuti lomba pidato agama yang waktunya akan diadakan “BESOK”. Teks tema beserta isinya sudah dibuatkan beliau dan baru diberi siang itu. Saya diminta untuk mengetik ulang teks pidato tersebut (karena Pak Ridwan saat itu menuliskan dengan tulisan tangan beliau dan saat itu saya saja sulit membacanya, mirip tulisan dokter). Pak Ridwan memerintahkan saya untuk mulai segera belajar ketika sampai dirumah dan diharapkan untuk tidak membaca teks saat perlombaan besok.

Jujur saja saya tak mengharapkan ini terjadi. Cukuplah jadi anak baik yang biasa saja. Belajar dan bermain dengan biasanya saja. Tapi bila diberi amanah seperti ini mau tidak mau saya harus usahakan. Pulang sekolah saya laporkan kejadian di sekolah kepada mama saya dan langsung disuruh mengetik ulang tulisan Pak Ridwan agar jelas dibaca saat berlatih nanti. Setelah berhasil saya ketik ulang, sayapun langsung berlatih sampai papa saya pulang dan diberi arahan bagaimana berpidato. Latihan berlangsung hingga kira-kira jam 10 malam.

Keesokannya saya pergi ke tempat perlombaan bersama dengan Pak Ridwan. Jauh sebelum saya berangkat saya terbayang selintas ketakutan yang baru. Sebelumnya saya pernah bersekolah di SDIT Al-Amanah Sunter Agung. Disana saya pernah berteman dengan seseorang yang bernama Alfi. Dia adalah pioneer terdepan dalam perlombaan pidato mewakili sekolah dan pasti akan mendapat juara satu disetiap perlombaan. Yang menjadi ketakutan saya saat itu adalah bagaimana bila saya ternyata berhadapan dengan Alfi? Sudah pasti alamat kalah. Tapi pikiran saya saat itu ya apa boleh buat saya mau tidak mau harus tetap maju. Dan benar sekali, yang saya takutkan ternyata menjadi kenyataan. Setibanya di tempat perlombaan saya bertemu Alfi di cabang yang sama. Disana sebenarnya ada rasa rindu karena bertemu dengan teman lama sekaligus benar-benar takut karena lawan saya adalah pemenang berturut-turut kejuaraan pidato. Tanpa perlu banyak berikir, saya tetap hadapi perlombaan hari itu.

Saat perlombaan dimulai. Saya mendapat urutan maju pertama. Ok, perlombaan pertama, maju pertama, pengalaman pertama. Lengkap!!! Saya tidak ada kesempatan untuk gugup lagi. Maka saya maju kehadapan para juri sembari membawa teks pidato. Wajah menghadap para juri, pegang teks pidato, siapkan posisi mic dan langsung sampaikan semuanya. Ya, semua yang saya ingin sampaikan dalam pidato tersebut sampai selesai.

Seusai saya berlomba, saya langsung diajak pulang oleh guru saya ke sekolah lagi. Sesampainya di sekolah saya sedikit malu, karena teman-teman saat itu mengenakan seragam putih merah, sedangkan saya memakai baju koko dengan celana panjang jeans (ya namanya juga sehabis lomba dengan tema Islami hehe). Teman-teman bertanya apakah saya menang dalam perlombaan atau tidak dan saya hanya bisa menggeleng karena saya pulang sebelum pengumuman pemenang.

Ketika pulang sekolah, saya melihat Pak Ridwan sudah berada di ruang guru dan memanggil saya.

“Dil, alhamdulillah kamu mendapat juara ketiga. Selamat ya Dil”, ucap Pak Ridwan dan sayapun langsung bersalaman dengan beliau sambil mengucap syukur alhamdulillah.

“Lalu siapa pak yang menjadi juara pertama?”

“Yang mendapat juara pertama dari sekolah Al-Amanah Dil.”

Dalam hati saya katakan itu wajar karena lawan saya adalah pemenang berturut-turut lomba pidato, apalagi dia adalah teman lama saya. Tapi tak apa, saya bersyukur akhirnya bisa mendapatkan kemenangan pertama di pengalaman pertama saya dalam hal berbicara di depan orang. Tak kalah serunya adalah ketika hari senin saat upacara bendera, pertama kalinya dipanggil kedepan peserta upacara (bukan karena tidak memakai atribut upacara lho ya haha) untuk menerima piala juara pidato dan menggenggam piala dengan bangga di depan teman-teman saya. Satu pengalaman yang tak pernah saya lupakan.

Dari situlah saya mulai tertarik dengan dunia “Berbicara di depan umum”. Setiap ada perlombaan pidato saya selalu coba ajukan diri untuk mengikutinya mulai dari tingkat SMP hingga perkuliahan. Alhamdulillah juga dulu ditingkat SMA saya berhasil menggapai juara ketiga perlombaan pidato Agama Islam se-Jakarta. Dan yang lebih menarik lagi adalah ketika menginjak dunia perkuliahan saya bertemu dengan teman sekaligus guru, ialah Mas Ardi atau lebih sering dikenal Ardiannur Ar-Royya. Beliau yang saat ini merupakan coach bidang komunikasi dan public speaker inilah yang membuat saya benar-benar merasakan “Inilah passion-ku!!!”. Sayapun dibimbing bagaimana berbicara didepan banyak orang dalam bidang dakwah maupun dibidang formal dalam bisnis serta organisasi.

Pesan penulis adalah :

  1. Jangan remehkan setiap “kecelakaan dan kesempatan” yang pernah anda lewati selama ini dan dikemudian hari. Bisa jadi “kecelakaan dan kesempatan” ini malah menjadi suatu hal yang anda cintai hingga passion anda bangkit lalu anda akan menikmati passion itu.
  2. Setiap orang pasti membutuhkan public speaking entah anda sadar atau tidak baik itu digunakan pada pendidikan, dunia kerja maupun organisasi. Public speaking adalah sebuah skill. Bukan bakat atau bahkan suatu hal yang dapat diwariskan atau diberikan. Ia hanya bisa didapat dengan berlatih dan terus berlatih ditambah dengan pengalaman jam terbang.

Inilah sedikit cerita salah satu passion yang saya cintai. Apa passion-mu kawan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s