Dengarkanku…

Berbicara adalah hal yang cukup menyenangkan. Menyampaikan semua seluk berikir kita pada orang lain untuk suatu kepentingan baik itu yang sifatnya menghibur, informasi, maupun sebuah formalitas dalam sebuah kejadian. Namun sebelum anda berbicara, ada baiknya kita ketahui terlebih dahulu apa keinginan dari orang yang menjadi target pendengar dari pembicaraan kita. Apakah ia siap mendengarkan? Atau sebaliknya kita-lah yang harus coba pahami ia?

Dengarkan.

Mendengar adalah salah satu elemen penting dalam komunikasi yang baik. Setiap pembicara pasti membutuhkan pendengar (kalau bicara sendiri berarti….hihi). Tapi siapkah ia mendengarkan kita dan juga sebaliknya kita siap mendengarkan ucapan dia?

Kadang ada saja alasan yang muncul seperti :

  • Ini adalah hal yang terlalu membosankan. Langsung saja ke pokok permasalahan
  • Tidak penting. Masalahku masih jauh lebih penting dibandingkan kau.
  • Terlalu panjang kali lebar (kali tinggi sama dengan volume?)
  • Ah sudahlah, cari saja orang lain.

Tapi teman-temanku, terkadang mendengarkan itu sama saja dengan kita menyusun sebuah puzzle. Koq bisa? Yup betul sekali. Penulis mengatakan demikian karena secara otomatis ketika seseorang tengah mendengarkan (baik itu dalam forum ruang belajar maupun ngobrol santai), saat itu kita tengah merangkai puzzle informasi yang diutarakan oleh sang pembicara. Dari puzzle informasi yang kita dapatkan, lalu otak secara nalar bergerak untuk menyusun informasi tadi menjadi satu kesatuan informasi baru yang lengkap dan utuh. Lalu otak mulai membenarkan apakah info ini sudah sesuai dengan yang dikatakan pembicara tadi atau masih kurang lengkap atau bisa jadi ada hal yang tidak sesuai yang diharapkan sang pembicara.

Terkadang informasi yang kita harapkan masuk ke telinga kita malah terlalu panjang sehingga diri ini ingin berkata, “Aduh sudah dong lelah telinga ini mendengarkan dan biarkan aku tanggapi ceritamu”. Disinilah kita butuh satu jurus tambahan agar tahan mendengarkan lawan bicara yang ceritanya masih satu novel lagi (bisa sampai tahun depan tu cerita sampai mulut berbusa haha).

SABAR.

Sabar adalah cara jitu bertahan dalam sesi mendengarkan ini. Kita takkan pernah tahu apa keluhan atau informasi yang disampaikan pembicara bila kita terus menerus mengeluh. Bisa jadi inti permasalahan yang ia sampaikan bukan terletak diawal cerita, bisa jadi ditengah atau diakhir cerita ketika ia mulai meminta tanggapan si pendengar.

Informasi yang datangnya setengah-setengah akan memunculkan solusi atau tanggapan yang juga tidak lengkap seperti yang diharapkan atau malah salah solusi lalu menyebabkan salah persepsi (miss perception). Tak jarang momen miss perception ini menyebabkan salah paham bahkan berujung kepada pertengkaran. Padahal kita semua tak ingin pertengkaran yang disebabkan hal sepele. Maka mari mulai jadikan telinga dan diri ini sabar dan dengarkan apa yang ia ucapkan dengan baik. perhatikan lalu tanggapi dengan baik pula.

Rumus menjadi pendengar yang baik adalah  dengarkan + sabar. Cukup sederhana bukan?

Yuk jadi pendengar yang baik agar kita menjadi pembicara yang baik.

Iklan

2 Comments

    • Maka unsur sabar ini harus dikedepankan dan jurus “memotong pembicaraan” digunakan mas. Kadang ada seseorang yang saking asiknya dengan yang ia sampaikan sampai lupa apakah si pendengar dapatkan poin kita atau malah tak menangkap sama sekali. Maka dari itu ada waktu dimana jeda dari si pembicara maka langsung potong namun dengan cara yang sopan pula tanpa menurunkan rasa hormat sang pembicara.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s