Kenapa Harus ke Malang?

Halo kawan pembaca.

Kali ini penulis akan angkat beberapa alasan kenapa harus pergi ke Malang. Baik itu anda yang berada di sebuah kota besar nan metropolitan yang setiap hari merasakan penatnya suasana kota, maupun bagi yang berniat untuk bekerja atau menuntut ilmu diluar kota. Oya sebelumnya saya sampaikan bahwa sebenarnya penulis sendiri bukan orang Malang asli, tapi berasal dari Jakarta. Yup, sebuah ibukota dimana MACET menjadi makan siang kami setiap hari. Sedikit tambahan, bukan berarti dalam tulisan ini akan ada kota yang besar atau yang akan dijelek-jelekkan. Namun apa salahnya bila ini bisa menjadi referensi anda dalam berpetualang kelak di pulau Jawa ini.

Saya akan bercerita dahulu asal mula mengapa bisa “Nyasar” ke Malang. Sebenarnya semua bermula ketika momen masuk kuliah. Penulis saat itu diberi pilihan apakah harus melanjutkan studi di Bogor atau Malang. Kenapa memilih disana? Bukan tanpa alasan karena disana terdapat salah satu universitas yang saya idamkan.

Ternyata Allah swt menakdirkan saya untuk belajar ke Malang setelah melewati ujian masuk kuliah yang diadakan oleh Universitas Brawijaya Malang. Alhamdulillah, tapi belum pernah sekalipun merasakan bagaimana orang-orang disana. Tapi karena memang sudah terpilih disana mau bagaimana lagi saya harus mulai belajar hidup dan mengenal Malang. Dan ketika harus pindah ke sebuah daerah bernama Landungsari yang letaknya berada di Kabupaten Malang membuat saya semakin bersyukur dan tak menyesal bila harus sampai tua disini.

Bermula dari tidak bisa berbahasa Jawa (hingga hari ini hehe, aduh warga Malang macam apa aku ini) sampai menjelajah ke daerah-daerah terpencil yang saya bilang dusunnya dusun akhirnya saya lewati bersama kawan-kawan saya. Bisa dibilang semenjak tahun 2012 hingga sekarang ini sudah banyak sekali pengalaman yang takkan saya jumpai di Jakarta. Yuk kita lihat gan, cekidot :

  1. Bahasa. Mungkin kalian akan berpandangan bahwa ketika seseorang merantau kesebuah daerah maka diwajibkan bagi diri ini menguasai bahasa daerah tersebut. Nyatanya tidak sama sekali lho kawan. Kita tahu bahwa setiap manusia memiliki batasan ruang lingkup dan keadaan yang menyebabkan sejauh mana pengetahuan yang ia akan dapatkan, termasuk bahasa karena bahasa haruslah dirasakan dalam kegiatan sehari-hari agar terbiasa. Di Malang (khususnya di kota dan universitas tempat saya belajar) saat ini sudah banyak kaum urban yang tinggal. Bahasa Jawa disini memang tak terlalu kental sehingga cukup sulit untuk menemukan orang Jawa asli disini (karena tidak ada tanda-tanda “aku orang jawa” di atas kepalanya sehingga tak ada bedanya hehe). Tapi cobalah untuk bermain ke pelosok. Baik itu kearah kabupaten atau coba akrab dengan tukang nasi goreng sekitar daerah anda tinggal (mentang-mentang penulis suka nasi goreng haha). Biasanya mereka tahu mana pendatang dan mana yang asli Jawa dilihat dari logat dan cengkok bahasa kita. Mereka juga tahu mana yang orang Jawa asli dan mana yang KW. Ya dilihat dari bahasa dan logat kita. Darisitu mereka akan paham dan menggunakan Bahasa Indonesia. Bahkan mereka akan senang hati mengajarkan anda belajar Bahasa Jawa yang biasa digunakan sehari-hari.
  2. Keakraban. By the way ini juga yang membuat penulis betah untuk tinggal di Malang. Ketika anda sedang berada di Malang usahakan untuk akrab dengan salah seorang warga sekitar atau pemilik warung makanan nasi pecel atau nasi goreng (lagi-lagi ni penulis…). Coba saja anda dengan PD nya menanyakan terkait Malang, pasti disambut keramahan dan keakraban mereka. Meski kembali lagi bahasa akan menjadi penghalang anda karena masih belajar tapi yakinlah sedikit demi sedikit pasti anda akan terbiasa dengan keramahan mereka. Orang-orang disini sangat mudah akrab dengan orang baru. Jadi jangan khawatir anda tidak punya teman disini.
  3. Makanan. Ada keunikan yang menjadi indentitas Malang. Makanan-nya unik-unik gan disini. Dari namanya yang unik, slogan-slogan yang nyeleneh tapi gerrr, harga promo yang bersaing ketat dan yang pasti setiap bulan pasti ada saja gerai makanan baru disini. Anda sebagai pendatang wajib coba makanan-makanan baru disini. Meski jika dilihat sepintas sepertinya antar gerai makanan jenis menu yang disajikan sama saja (apalagi bila makanan lalapan atau pecel) tapi ada hal yang tak boleh dilupakan. Beda chef, beda rasa. Petualangan Detektif Rasa dimulai. Nyam Nyam Nyam.
  4. Tempat rekreasi. Nah ini yang paling membuat penulis betah ketimbang di kota metropolitan seperti Jakarta. Malang memang pantas dinobatkan sebagai kota wisata. Bayangkan, tempat rekreasi selevel Dunia Fantasi (Dufan) Yang harga masuknya lebih 200 ribu rupiah per-kepala bisa anda dapatkan di Jawa Timur Park (Jatim Park) 1 dengan harga 50 ribu rupiah perkepala dengan hiburan yang tak kalah seru dibanding Dufan. Atau bermain hingga malam dengan hiasan yang indah bisa anda dapatkan di Batu Night Spectacular (BNS). Mungkin ingin mengajak anak-anak belajar dunia fauna? Bisa anda sambangi Jawa Timur Park (Jatim Park) 2 atau Batu Secret Zoo. Semuanya bisa anda datang di ke kota Batu dengan waktu tempuh sekitar 1 Jam (dengan mobil bila macet) atau setengah jam (dengan motor) dari kota Malang . Atau anda ingin pantai yang indah nan bersih? Pantai 3 warna dan Pulau Sempu salah satu destinasi yang layak anda coba. Meski perjalanan cukup jauh menuju Malang Selatan yang memakan waktu 1,5 jam dengan motor, namun itu semua akan terbayar dengan keindahan yang tak ternilai.

Masih banyak hal yang disajikan di Malang yang mungkin penulis belum sampaikan diatas karena semua berdasarkan pengalaman menarik yang selama ini saya rasakan. Siap anda berpetualang ke Malang?

Iklan

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s