Konsep Cermin Hidup part 1

Sebentar, judul kali ini ingin membahas apa ya? Sejak kapan ada cermin yang hidup? Mau ceritakan sesosok hantu bernama cermin? Ada akhwat bernama Cermin di panggil Mimin? Atau ingin melawak tentang cerminnya si Mimin? (Ok paragraf ini semakin absurd sehingga pembaca makin garing. Oke abaikan paragraf pertama ya haha).

Cermin adalah suatu benda yang memantulkan cahaya, berupa cahaya datang yang kemudian diubah menjadi sinar pantul. Sehingga dari peristiwa ini cermin dapat merefleksikan bayangan dari objek yang ada dihadapannya berupa bayangan maya yang muncul pada cermin (wow magis sekali?! Tak, ini saintis bukan hasil sihir Harry Potter). Benda ini sering dipakai baik itu sebagai bahan percobaan dan penelitian dalam pelajaran fisika (biasanya yang dipakai adalah cermin cekung dan cembung), maupun sebagai benda sehari untuk berhias atau sekedar bercermin melihat wajah atau tubuh kita. Mengakulah pasti diantara anda ada yang menghabiskan berjam-jam depan cermin hanya untuk sekedar memakai bedak tebal, atau ada juga yang ketika kerudungnnya miring 5 derajat tak simetris langsung buru-buru diperbaiki depan cermin? Mungkin ada juga orang yang bercermin hanya untuk melihat berapa banyak jerawat yang sedang bersarang di wajah. Ayolah mengaku saja haha.

Mari kita buat eksperimen. Sekarang berdirilah di depan sebuah cermin, apa yang terlihat? Pasti bayangan anda sendiri kan? (Kalau ada dua bayangan sedangkan saya hanya meminta pembaca yang bercermin, jangan-jangan yang satu lagi….). Kemudian cobalah anda membuat ekspresi tersenyum, perhatikan bayangan anda di cermin. Otomatis bayangan itu juga ikut tersenyum kan? Kemudian coba dengan ekspresi wajah yang lain, apakah bayangan itu juga akan mengikuti anda? (Bila cermin anda tiba-tiba tidak mengikuti anda, bisa jadi cermin anda sedang rusak atau jangan-jangan dia….).

Bila kita membahas kehidupan, maka hidup ini pun sama seperti cermin dengan ukuran yang lebih besar dan bentuk refleksi dari bayangan nyata. Bayangkan saja ketika anda tengah tersenyum bahagia bertemu seorang kawan, pasti ia akan ikut tersenyum dan memberi energi posistif untuk ikut bercakap-cakap dengan anda terkait mengapa anda begitu semangat hari ini. Lain cerita bila anda datang ke kantor dengan wajah kusam cemberut, orang yang melihat akan serasa angker dan menakutkan bahkan enggan untuk menyapa anda.

Apa yang bisa dipetik dari paragraf diatas? Ekspresi (terutama wajah) yang anda sajikan kepada orang disekitar anda akan mencerminkan bagaimana mereka membalas kepada anda. Ketika anda menunjukkan raut wajah yang menyenangkan, maka orang sekitar akan membalas anda dengan perlakuan yang menyenangkan pula, begitu pula sebaliknya ketika anda memakai wajah yang sedih bermuram durja maka orang-orang akan menjauh dari anda.

Ini juga berlaku dalam cara anda berprilaku terhadap orang lain. Ketika anda menunjukkan sifat dan kelakuan baik terhadap masyarakat, maka mereka juga akan memperlakukan anda dengan baik pula. Baik itu dari segi bahasa maupun cara bergaul. Sedangkan ketika mereka mendapati diri anda kurang menyenangkan, kurang ramah dan kurang peduli dengan masyarakat sekitar, maka anda juga tak akan mendapat perlakuan baik minimal di abaikan, maksimal dikucilkan.

Bersambung ke part berikutnya ->

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s