Konsep Cermin Hidup Part 2

Tersenyumlah, tunjukkan kebahagiaanmu ketika bertemu dengan mereka. Hal ini dapat membawamu kepada hubungan yang positif sebagai balasan cerminan dari apa yang telah kau ekspresikan. Walau kehidupan sangatlah pahit namun teruslah untuk tetap tersenyum, maka setiap orang akan juga ikut tersenyum dan berada disampingmu untuk membantumu. Hal ini telah kita bahas di part sebelumnya.

Lalu bagaimana bila orang lain sebaliknya menunjukkan wajah yang masam pada kita? Apakah teori ini berlaku pula? Kita balas ia dengan wajah yang sama buruknya? Ketika orang lain memperlakukan kita dengan tidak baik lalu kita balas mereka dengan hal yang serupa bahkan lebih buruk? Lantas apa yang anda inginkan setelah melakukan itu? Mengatakan agar ia tahu rasanya diberi perlakuan tidak baik? Hukum karma berlaku? Semua hal dalam kehidupan selalu ada balasannya?

Ini salah satu pemikiran yang tidak, apalagi dalam hal berkomunikasi dan hidup bermasyarakat. Jika konsep cermin ini diadopsi sebagai sebuah pembalasan terhadap setiap yang kita lakukan kepada orang lain maupun sebaliknya, maka ini adalah cara penggunaan yang salah. Lantas bagaimana bia kita bertemu dengan orang-orang diatas

Maka saya bawa anda kepada satu analogi. Lakukan apa yang tertulis di list dibawah ini.

  1. Bayangkan ada dua buah cermin. Yang pertama polos nan bersih dan cermin yang lainnya berdebu
  2. Lalu anda hadapkan wajah anda pada cermin pertama
  3. Bayangan apa yang terpantul pada cermin tersebut? Pasti wajah anda kan?
  4. Bila sedang berdandan atau memunculkan mimik wajah lucu, apakah itu tetap wajah anda?
  5. Lalu lakukan di cermin lainnya yang berdebu. Bisakah anda bercermin sekarang? Apakah wajah anda terpantul pada cermin tersebut? Walau dengan berbagai mimik wajah apakah terpantul bayangan anda pada cermin?

Sebagai catatan, urutan list diatas tidak meminta anda untuk menghapus debu pada cermin. Dan terbukti anda tak bisa melihat pantulan diri anda bukan?

Lantas apa yang ingin saya sampaikan? Sebenarnya pada contoh cermin pertama saya ingin anda membayangkan diri anda sebagai cermin, sedangkan “objek yang sedang berkaca pada cermin” adalah orang yang sedang anda temui. Bila anda menjadi cermin yang bersih, maka anda akan dengan jujur melihat kebahagiaan maupun kesulitan dari orang yang anda temui. Bila ia sedang berbahagia maka kita patut untuk ikut serta bahagia dengannya. Tampilkan bahwa ekspresi yang anda tunjukan sebagai hadiah dari kebahagiaan yang ia peroleh.

Bila orang yang temui tengah bermuram durja bahkan mengerikan sekalipun, maka langkah anda bukan sebagai cermin yang membalas dengan yang lebih buruk. Bahkan sebaliknya kita harus mampu menghapus debu kesedihan dan kesudahan dari orang itu. Menghapusnya hingga kemuraman hilang dan ia mampu bersinar lagi sebagai cermin yang sanggup untuk tersenyum kembali dengan kita. Dan bila perlu jagalah cermin itu agar terus bersih ketika bersama kita.

Semoga bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s